
Menikah adalah separuh tujuan hidupmu, kata sebagian orang. Dan memang, berkeluarga itu adalah sebuah pengalaman yang tidak akan bisa digantikan oleh pengalaman lain manapun. Kamu merubah mindsetmu dari tidak mau menjadi terpaksa untuk menghidupi keluarga, kamu kembali ke rumah disambut dengan orang yang kamu cintai, kamu memiliki dirimu versi kecil yang kamu harapkan dapat menjadi seseorang yang lebih baik dari dirimu dan tidak mengulangi kesalahanmu.
Perhatikan saya tidak menggunakan kata yang positif untuk hidup berkeluarga, “pengalaman”. Karena tidak semua hal yang terjadi di keluarga bisa menjadi hal yang baik. Ada kalanya kamu bertengkar dengan pasanganmu karena persoalan sepele, ada kalanya anakmu mulai membantah nasihatmu karena perubahan kepribadian, ada kalanya kamu dihadapkan dengan pilihan bekerja namun tersiksa atau pengangguran tapi keluargamu yang tersiksa.
Secara pribadi, saya ingin menikah. Saya memiliki keinginan untuk memiliki teman seumur hidup, yang bersama saya ketika lancar maupun sulit, ketika bahagia dan depresi. Saya ingin memiliki alasan untuk tetap melanjutkan hidup ini. Tapi ada beberapa hal yang saya sangat khawatirkan setelah menikah kepada pasangan saya.
1. Saya orang yang tidak rajin.
Secara etos kerja, saya cukup percaya diri dengan etos kerja saya yang selalu on time, memberikan hasil yang terbaik. Namun saya tidak rajin. Sedemikian sehingga mungkin di beberapa hal lain saya bahkan rela melepas pekerjaan hanya karena saya pemalas.
2. Saya terlalu idealis.
Di beberapa sisi, tentu, ideal adalah hal yang penting untuk menjaga diri dari pengaruh orang lain. Namun dalam konteks diri saya, ini bisa jadi mengganggu hubungan karena keputusan yang biasanya saya prioritaskan untuk kepentingan diri saya tidak dapat diganggu gugat.
3. Saya tidak mungkin bisa menghidupi pasangan saya di beberapa tahun pertama pernikahan.
Bagi banyak calon mertua, tentu saja ini menjadi “turn off” saat calon menantu terlihat seperti ini. Mau makan apa? Kenapa saya bilang begini? Karena kemungkinan besar di beberapa tahun pertama saya bakal loncat ke berbagai pekerjaan hanya karena ketika saya tidak nyaman bekerja di satu tempat, saya akan berpindah hingga saya mendapatkan tempat yang memang saya menikmati.
4. Saya mudah bosan.
Saya cerdas. Tapi saya cerdas yang cepat berpikir hingga mudah merasakan bosan. Saya mengkhawatirkan diri saya merasa bosan dengan pasangan lalu berpindah.
5. Saya tidak pernah memiliki teman wanita yang benar-benar dekat.
Saya semenjak TK hingga SMP sekolah di sekolah Islam yang relatif ketat, sehingga pergaulan dengan wanita aya cukup terbatas. SMA saya berada di negeri, saya mengalami anxiety disorder, saya tidak bisa mengobrol tenang dengan wanita karena tidak terbiasa. Perkuliahan saya, saya sudah cukup memahami cara mengobrol, saya mulai akrab. Namun karena jurusan saya gersang wanita, keinginan itu pun kandas. Ada beberapa wanita yang mungkin saya akui teman yang relatif dekat ketika saya bersekolah, namun tidak terlalu dekat. Mereka pun sudah menikah. Saya tidak memercayai biro jodoh ataupun Tinder karena, saya sulit memercayai orang baru di sekitar saya, kecuali saya bertemu langsung selama beberapa tahun.
6. Saya memiliki trust issue dan privacy conscience yang cukup kuat.
Saya pernah memiliki hubungan yang aneh dengan seorang teman SMA, yang mana dulu saya anggap teman baik saya. Suatu saat saya melempar candaan yang menurut saya waktu itu biasa saya sampaikan ke dia, namun responnya waktu itu berbeda, dia mudah marah, sensitif. Saya yang baru saja jebol dari sekolah Islam swasta tidak bisa memahami dirinya, sehingga aku memutuskan untuk berhenti berteman dengannya. Sekarang kita sudah biasa saja. Tapi sejak itulah saya memiliki trust issue yang luar biasa terhadap orang yang baru masuk ke lingkungan saya. Saya juga menjadi tertutup sejak saya “bermusuhan” dengan dia.
Dengan keterbatasan di atas, saya masih memiliki keinginan untuk menikah. Tapi dengan idealisme saya yang cukup kuat, saya ragu apakah saya bisa achieve hal tersebut dalam beberapa tahun ke depan. Yang terpenting adalah saya kenal dan tahu betul bahwa dia bisa bertahan dengan diriku saat ini, dan tidak menganggap hidup denganku adalah “cobaan dari Tuhan”. Apakah diri saya adalah musibah bagi yang menikahi saya?
Saya cukup yakin saya bukan orang yang jahat ataupun punya niat jahat dengan orang secara umum. Saya masih memiliki etika hidup yang bisa dibilang, aman apabila saya mengikuti etika tersebut. Saya bukan orang yang secara finansial rakus, saya bukan orang pengejar harta, saya hanya ingin manusia, baik pribadi maupun masyarakat, bisa menjadi lebih baik lagi.
Sekarang pertanyaan dua juta rupiahnya: Apakah mungkin saya menikah?

