Fear

​I am here, not sincere

I just want to make things clear
I don’t want to go any near
It just makes me rip my tear
I’m weak
I’m scared to speak
But please don’t leak
It makes me scared to peek
“You should change your mind”
“Just do an U-turn across the line”
How the fuck would I replace my brain
If everything comes and bind?!

Advertisements

Kill! Kill! Kill!

by me
I am all alone, it gets my bone

I don’t like the tone,

I swear to kill myself, don’t

talk too much, they are still around, inbound, wolfhound, until they found

myself 

sitting silently,

watching everybody,

going crazy,

over things that merely

a problem, not hold’em, but problem that only golem totem that can pass through.

We’re in a suit,

wearing new shoes,

without any clue,

and they said, “You thought yourself smart, didn’t you?!”
Kill! Kill! Kill!

They said they want me to chill!

No! I will not chill until they stopped to insist me paying the bill!

Kill! Kill! Kill!

They said they want me to chill!

No! I will not chill until I fulfill my wish to feel free will!
I swear to god,

I swear to my Lord,

if I don’t move from this spot

I will end up in a pool of blood

of myself, am I crazy?

Yeah! I am crazy.

Even though I don’t intend to be.

Is it just from me?
This is far from I can endure.

There’s too many pressure.

“Are you sure?”

Yeah, I’m fucking weak, I’m still pure!
“You’re really a sassy pussy.”

I know, it is nasty.

But it’s so invisible,

I look really classy.
That’s shameful.

No wonder I am a ridicule.

But I should be grateful,

they don’t fuel that with a mule!
Kill! Kill! Kill!

They said they want me to chill!

No! I will not chill until they stopped to insist me paying the bill!

Kill! Kill! Kill!

They said they want me to chill!

No! I will not chill until I fulfill my wish to feel free will!
So what’s the relation?

Well they said it was orientation.

In my position, there was no excalation.

It’s only deterioration.

Facebook Family Irony

They appraised me in every story.
Story about dinner with family.

Really, it is just easy cuisine.

But they didn’t stop to praise me proudly.

I think, why did everybody envy?.

It was just simply a picture of me and family circling in dining table.

Smiling, laughing, doing funny thing and comfortable.

Like the happiest human being.

Below I put a nice quote to represent a happy family.

I found the pic got many likes and reaction, mostly happy.

“Such a happy family.”

“Content family.”

“I am envy.”

They said.

The picture got darker and darker and eventually creating fantasy and mirage. That stereotypically represents a “happy family”.

Lies and irony fulfilled that picture entirely.

The truth was far from reality.

Ethereally escaped from dark honesty.

It was intended to.

Put a big lie to you.

So you’d see me as an ideal crew.

So you’d remember me as I grew.

I kept flew.

Because I knew someday they found out it wasn’t true.

At all.

Black ball keep rolling.

Exposing the truth.

I don’t like being two face bastard.

It just sounds retarded.

But they keep pushing me really hard.

To show them what I have mastered.

Only to show them the good of me.

Only to make them agree.

Only to make them feel great about our family.

Only to show them how big the illusion is.

Facebook happy family is a malady.

Outside we are content and happy.

Inside we have irony and tragedy.

If you’re not happy, don’t show that you’re happy.

Penghargaan

Mungkin aku harus belajar menghargai orang lain. Dengan menunjukkannya. Dengar, aku menghargai karya apapun yang muncul dari orang-orang, namun untuk bisa menunjukkannya, Anda harus menanyakannya secara pribadi. Aku tidak bisa menunjukkan penghargaanku atas karyamu jika kamu bertanya sekali pada seluruh khayalak di muka bumi ini secara bersama-sama. Aku akan merasa, akan ada orang yang menjawabnya dan akan lebih baik penilaiannya daripadaku.

Apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia?

“Kalau (x, y)-nya (0, 40), berarti tempatnya di grafik koordinat di mana?,” tanyaku.
“Ummm….,” muncul keheningan sejenak sembari ia berpikir keras.
“Kalian tahu ‘kan, posisi sebuah titik dalam koordinat?”
“Tahu, mas. Tapi bingung,” jawabnya dengan tulisan ‘excuses’ di dahinya.
Mereka sekarang berada di jenjang kelas 2 SMA, saiat yang bisa dibilang paling krusial untuk mengukir prestasi, nilai-nilai, dan yang terutama menggaet ilmu dengan baik agar dapat melanjutkan ke perkuliahan dengan mulus.
Lalu aku menjelaskan kembali bagaimana sistem koordinat kartesius bekerja kepada mereka.
Sistem grafik kartesius seharusmya sudah diajarkan saat SMP. Kenapa mereka lupa? Apa itu ilmu yang tidak penting, sedemikian sehingga dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, dalam sains, koordinat grafik adalah alat yang vital untuk mengomunikasikan perihal yang dipahami orang sains kepada orang awam.
Lalu apa yang membuat mereka lupa? Sosmed? Tidak, sosmed sebenarnya hanya sebuah sarana agar dapat bercakap-cakap dalam bentuk lain. Pada dasarnya orang yang sedang berada di sosmed adalah orang yang berbincang dengan orang di sisi lain.
Orangtua? Orangtua tidak bisa diposisikan sebagai guru, karena mereka tidak terkualifikasi untuk mengajar. Mungkin hanya support saja.
Lalu apa?
Guru?
‘Seriously, you gonna throw blamestone to them?’
Yes, I am throwing it to them, well, a few of it.
Why?
Well, from what I see, (and this is completely biased) banyak guru yang tidak menginginkan menjadi guru. Pemuda yang baru matang dari SMA lebih mengincar teknik, teknik, kedokteran, kedokteran, akuntansi, ekonomi, sangat jarang yang mengambil pendidikan sebagai incaran utama.
Kenapa mereka mengincar hal yang sama? Padahal menjadi guru adalah hal yang mulia, dan dapat membantu pendidikan Indonesia.
Jawabannya adalah karena mereka menginginkan masa depan yang lebih terjamin. Guru Indonesia terkesan bergaji rendah. Dokter, teknisi mesin, digaji lebih tinggi daripada guru. Maka jelas mereka lebih memilih dokter, teknik daripada pendidikan.
Lalu yang kedua adalah karena banyak yang memilih menjadi dokter/teknisi, dan orang-orang yang cerdas dan mampu untuk mengajar juga tergaet oleh keinginan gaji besar, sisanya berpencar ke jurusan yang bermacam-macam, termasuk pendidikan sedemikian sehingga jurusan pendidikan berisi orang-orang yang tidak pernah ingin berada di dunia pendidikan.
Yang ketiga, menapaki karir menjadi guru adalah hal yang sulit. Sebagai lulusan segar dari jurusan pendidikan, Anda akan dihadapkan ke ‘pencarian pengalaman’, pekerjaan yang memiliki gaji rendah, tetapi sulitnya bukan main. Saya sekolah di sekolah swasta, jadi saya tahu betapa sulitnya menjadi guru yang diperhatikan saat pelajaran. Angkatan saya pernah membuat seorang guru pindah karena terbully oleh angkatan saya. Akhirnya guru-guru yang mengajar berpikir, “Ah, saya digaji rendah untuk ini. Ya sudah, saya mengajar ala kadarnya saja.”
And they did.
Dan mereka membawa ‘pengalaman’ mereka ke karir selanjutnya. Pengalaman mereka adalah ‘Kalau tidak ada yang mendengarkan saya, saya mengajar seadanya saja,’ dimana hal ini merupakan salah satu faktor penghambat pendidikan di Indonesia.
I still have blamestones to throw, where should I throw it?
Mungkin ke isi kepala bangsa Indonesia ini.
Ya, saya menyadari bahwa bangsa ini memiliki cara pikir yang aneh.
Menurut saya sendiri, belajar memiliki tahapan sebagai berikut:
Membaca – mengingat – memahami – menerapkan. Tahap memahami adalah tahap paling krusial, dan yang paling sulit untuk dilakukan orang Indonesia, karena memahami membutuhkan daya pikir yang ekstrim dan kritis.
Di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk mengingat, di mana merupakan hal yang wajar mengingat mengingat adalah salah satu tahap belajar. Akan tetapi, hal yang diajarkan kalau hanya diingat saja, pasti menguap dengan cepat. Butuh pemahaman agar bisa diingat dalam waktu yang cukup lama.
Kita menguji pemahaman murid dengan ujian dan ulangan, sehingga kita merasa bahwa jika lulus, berarti anaknya sudah paham.

No, it doesn’t tell you that. Ujian sekarang hanya menunjukkan murid itu mampu mengerjakan soal pada saat ujian saja, tidak secara berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat di UN SMA tahun 2016. Soalnya kebanyakan merupakan soal terapan dalam dunia sains, konsep-konsep dasar sains, dan beberapa bahkan menggabungkan dua materi sekaligus menjadi sebuah alat yang benar-benar ada. Ketika saya membaca soalnya, saya langsung berpikir, “Ini soal yang bagus, tetapi lebih butuh mikir daripada soal biasanya. Karena soal-soal ini tidak seperti soal pada umumnya.” Dan seketika saja, ketika hasilnya keluar, rata-rata nilai UN turun.

https://m.detik.com/news/berita/3206228/nilai-rata-rata-un-sma-2016-turun-6-poin-dari-tahun-2015

Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid di Indonesia memiliki kesulitan ketika diminta untuk berpikir kritis dan dalam.
Saya lanjutkan cerita tadi. Lalu bla bla bla saya melanjutkan mengajar seperti biasa hingga kita sampai di sebuah materi (saya lupa) yang membutuhkan pembagian desimal sederhana, seperti 0.2/0.4. Mereka sedikit kesulitan menjawab. Dan aku pikir, “Yah, mungkin mereka akan membuka coret-coretan lalu mengerjakannya dengan agak lama. Aku tak masalah, toh mereka baru belajar.” Lalu hal yang tidak terduga terjadi.

Sret! Salah satu dari mereka membuka smartphone. Dibukalah app Calculator™, diketikanlah pertanyaan itu dan boom, keluar jawabannya.

“Lho, kok pake hp?”

“Iya mas. Hehe.”

Kupikir mereka agak malas untuk menghitung. Lalu aku menutup (lock) handphone mereka, lalu aku mengulang pertanyaan yang sejenis, bukan persis.

Mereka tidak bisa.

Mereka berusaha berpikir selama 5 menit lebih pada satu hal yang mendasar, dan mereka menyerah.

Lalu berdecak sambil menggelengkan kepala, lalu melanjutkan mengajarkan mereka pembagian yang mendasar itu.

Saya merasa kurang sreg, karena mereka seharusnya sudah bukan waktunya untuk belajar hal itu lagi.

Beginilah budaya mencontek di Indonesia, membiasakan anak-anak untuk tidak berusaha sendiri, mengandalkan hal lain demi kenyamanan sendiri, mengakibatkan tingkat kecerdasan Indonesia menurun.

Akhir kata, saya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang seperti ini. Memang kalau dipikir lagi Indonesia itu negara yang lucu. Anda beri buku, dibaca, lalu Anda beri soal, yang dia jawab akan sama persis dari buku itu. Kalau saya melihat, orang Indonesia itu memang bukan bidangnya untuk menalar sesuatu, tetapi Indonesia orang-orangnya berbasis sosial masyarakat. Orang cerdas cenderung individualistis, orang sosial cenderung berlaku tidak cerdas. Untuk menjadi manusia yang cerdas dan mampu bersosial, kita harus melewati dua fase tersebut, baik berawal dari sisi cerdas maupun berawal dari sisi sosial.