Apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia?

“Kalau (x, y)-nya (0, 40), berarti tempatnya di grafik koordinat di mana?,” tanyaku.
“Ummm….,” muncul keheningan sejenak sembari ia berpikir keras.
“Kalian tahu ‘kan, posisi sebuah titik dalam koordinat?”
“Tahu, mas. Tapi bingung,” jawabnya dengan tulisan ‘excuses’ di dahinya.
Mereka sekarang berada di jenjang kelas 2 SMA, saiat yang bisa dibilang paling krusial untuk mengukir prestasi, nilai-nilai, dan yang terutama menggaet ilmu dengan baik agar dapat melanjutkan ke perkuliahan dengan mulus.
Lalu aku menjelaskan kembali bagaimana sistem koordinat kartesius bekerja kepada mereka.
Sistem grafik kartesius seharusmya sudah diajarkan saat SMP. Kenapa mereka lupa? Apa itu ilmu yang tidak penting, sedemikian sehingga dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, dalam sains, koordinat grafik adalah alat yang vital untuk mengomunikasikan perihal yang dipahami orang sains kepada orang awam.
Lalu apa yang membuat mereka lupa? Sosmed? Tidak, sosmed sebenarnya hanya sebuah sarana agar dapat bercakap-cakap dalam bentuk lain. Pada dasarnya orang yang sedang berada di sosmed adalah orang yang berbincang dengan orang di sisi lain.
Orangtua? Orangtua tidak bisa diposisikan sebagai guru, karena mereka tidak terkualifikasi untuk mengajar. Mungkin hanya support saja.
Lalu apa?
Guru?
‘Seriously, you gonna throw blamestone to them?’
Yes, I am throwing it to them, well, a few of it.
Why?
Well, from what I see, (and this is completely biased) banyak guru yang tidak menginginkan menjadi guru. Pemuda yang baru matang dari SMA lebih mengincar teknik, teknik, kedokteran, kedokteran, akuntansi, ekonomi, sangat jarang yang mengambil pendidikan sebagai incaran utama.
Kenapa mereka mengincar hal yang sama? Padahal menjadi guru adalah hal yang mulia, dan dapat membantu pendidikan Indonesia.
Jawabannya adalah karena mereka menginginkan masa depan yang lebih terjamin. Guru Indonesia terkesan bergaji rendah. Dokter, teknisi mesin, digaji lebih tinggi daripada guru. Maka jelas mereka lebih memilih dokter, teknik daripada pendidikan.
Lalu yang kedua adalah karena banyak yang memilih menjadi dokter/teknisi, dan orang-orang yang cerdas dan mampu untuk mengajar juga tergaet oleh keinginan gaji besar, sisanya berpencar ke jurusan yang bermacam-macam, termasuk pendidikan sedemikian sehingga jurusan pendidikan berisi orang-orang yang tidak pernah ingin berada di dunia pendidikan.
Yang ketiga, menapaki karir menjadi guru adalah hal yang sulit. Sebagai lulusan segar dari jurusan pendidikan, Anda akan dihadapkan ke ‘pencarian pengalaman’, pekerjaan yang memiliki gaji rendah, tetapi sulitnya bukan main. Saya sekolah di sekolah swasta, jadi saya tahu betapa sulitnya menjadi guru yang diperhatikan saat pelajaran. Angkatan saya pernah membuat seorang guru pindah karena terbully oleh angkatan saya. Akhirnya guru-guru yang mengajar berpikir, “Ah, saya digaji rendah untuk ini. Ya sudah, saya mengajar ala kadarnya saja.”
And they did.
Dan mereka membawa ‘pengalaman’ mereka ke karir selanjutnya. Pengalaman mereka adalah ‘Kalau tidak ada yang mendengarkan saya, saya mengajar seadanya saja,’ dimana hal ini merupakan salah satu faktor penghambat pendidikan di Indonesia.
I still have blamestones to throw, where should I throw it?
Mungkin ke isi kepala bangsa Indonesia ini.
Ya, saya menyadari bahwa bangsa ini memiliki cara pikir yang aneh.
Menurut saya sendiri, belajar memiliki tahapan sebagai berikut:
Membaca – mengingat – memahami – menerapkan. Tahap memahami adalah tahap paling krusial, dan yang paling sulit untuk dilakukan orang Indonesia, karena memahami membutuhkan daya pikir yang ekstrim dan kritis.
Di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk mengingat, di mana merupakan hal yang wajar mengingat mengingat adalah salah satu tahap belajar. Akan tetapi, hal yang diajarkan kalau hanya diingat saja, pasti menguap dengan cepat. Butuh pemahaman agar bisa diingat dalam waktu yang cukup lama.
Kita menguji pemahaman murid dengan ujian dan ulangan, sehingga kita merasa bahwa jika lulus, berarti anaknya sudah paham.

No, it doesn’t tell you that. Ujian sekarang hanya menunjukkan murid itu mampu mengerjakan soal pada saat ujian saja, tidak secara berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat di UN SMA tahun 2016. Soalnya kebanyakan merupakan soal terapan dalam dunia sains, konsep-konsep dasar sains, dan beberapa bahkan menggabungkan dua materi sekaligus menjadi sebuah alat yang benar-benar ada. Ketika saya membaca soalnya, saya langsung berpikir, “Ini soal yang bagus, tetapi lebih butuh mikir daripada soal biasanya. Karena soal-soal ini tidak seperti soal pada umumnya.” Dan seketika saja, ketika hasilnya keluar, rata-rata nilai UN turun.

https://m.detik.com/news/berita/3206228/nilai-rata-rata-un-sma-2016-turun-6-poin-dari-tahun-2015

Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid di Indonesia memiliki kesulitan ketika diminta untuk berpikir kritis dan dalam.
Saya lanjutkan cerita tadi. Lalu bla bla bla saya melanjutkan mengajar seperti biasa hingga kita sampai di sebuah materi (saya lupa) yang membutuhkan pembagian desimal sederhana, seperti 0.2/0.4. Mereka sedikit kesulitan menjawab. Dan aku pikir, “Yah, mungkin mereka akan membuka coret-coretan lalu mengerjakannya dengan agak lama. Aku tak masalah, toh mereka baru belajar.” Lalu hal yang tidak terduga terjadi.

Sret! Salah satu dari mereka membuka smartphone. Dibukalah app Calculatorâ„¢, diketikanlah pertanyaan itu dan boom, keluar jawabannya.

“Lho, kok pake hp?”

“Iya mas. Hehe.”

Kupikir mereka agak malas untuk menghitung. Lalu aku menutup (lock) handphone mereka, lalu aku mengulang pertanyaan yang sejenis, bukan persis.

Mereka tidak bisa.

Mereka berusaha berpikir selama 5 menit lebih pada satu hal yang mendasar, dan mereka menyerah.

Lalu berdecak sambil menggelengkan kepala, lalu melanjutkan mengajarkan mereka pembagian yang mendasar itu.

Saya merasa kurang sreg, karena mereka seharusnya sudah bukan waktunya untuk belajar hal itu lagi.

Beginilah budaya mencontek di Indonesia, membiasakan anak-anak untuk tidak berusaha sendiri, mengandalkan hal lain demi kenyamanan sendiri, mengakibatkan tingkat kecerdasan Indonesia menurun.

Akhir kata, saya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang seperti ini. Memang kalau dipikir lagi Indonesia itu negara yang lucu. Anda beri buku, dibaca, lalu Anda beri soal, yang dia jawab akan sama persis dari buku itu. Kalau saya melihat, orang Indonesia itu memang bukan bidangnya untuk menalar sesuatu, tetapi Indonesia orang-orangnya berbasis sosial masyarakat. Orang cerdas cenderung individualistis, orang sosial cenderung berlaku tidak cerdas. Untuk menjadi manusia yang cerdas dan mampu bersosial, kita harus melewati dua fase tersebut, baik berawal dari sisi cerdas maupun berawal dari sisi sosial.

My Top 5 Anime/Manga

Warning: List ini mungkin sangat bias karena sangat subjektif.

Viewer discretion advised.
5. Miyo Tokai no Sora Akete

Tentu saja anime ini berada di dalam list saya karena petualangannya yang menegangkan dan perjuangan antara 3 sahabat yang tidak pernah putus.

4. Nasreddin

Manga ini mengajarkan kita akan hal-hal bijak dengan lelucon yang halus dan penggunaan kata-kata yang sangat sarkastik. Tetapi karena visualisasi yang kurang satisfying, manga ini saya posisikan di nomor 4.

Sorry no link lol
3. Cinta Fitri

Anime ini merupakan anime favorit para femina PKK yang selalu kalah arisan. Anime ini menceritakan Fitri yang cintanya tidak pernah selesai, hingga di season selanjutnya Fitri sendiri irrelevan dengan alur ceritanya.

2. Naruto

Anime ini masuk peringkat nomor dua karena ceritanya yang seru dan saking serunya hingga season 1 diulang berkali-kali di Global TV, mungkin karena banyaknya permintaan. Naruto berkisah tentang nekomimi yang suka makan mie ayam yang dikutuk menjadi Swiper yg ekornya kelebihan.

(Kau tahu animenya, no link hehe)
1. Kera Sakti

Tentu saja anime nomor satu diduduki oleh Sun Go Kong, babi, biksu, dan kawan-kawannya. Animasi yang sangat sophisticated dan unik, serta aksi yang tidak disangka-sangka. Liar, nakal, brutal, kera sakti membuat semua orang menjadi gempar. Kera sakti tak pernah berhenti bertindak sesuka hati, namun ia mampu menjadi pengawal, mencari kitab suci.

Thank you for reading, semoga kalian dapat menikmati anime/manga itu hehe

The Right of Being Mad

I can’t be mad
Is it because I’m sad?
Is it really that bad?
It need something to add

Everytime I want to blow up
My head covers the cup
Sounds like a pup
That only needs a rub

I don’t have the right to be furious
Never thought it would be this serious
Maybe this is nauseous
But it feels self-righteous

At home? No, my family will hate me
At workplace? My boss will fire me
At park? It is not a right place to be
At my mind? Probably it will kill me

Slowly
Deeply
Continuously
Cruelly

I am crazy
And lazy
And hazy
Never cozy

I keep holding back each time
I feel my rage is crossing the line
And then I run and decline
Every made-up thought that I design

I want to punch them in the face
And every place
But that is not the case
I just need a space

A space where I will be free
From this cancer and malady
I only can cry internally
Where no one can blatantly see