Totally Opinionated : Kenapa LGBTQ dilarang di Indonesia

Tujuan tulisan ini adalah memberikan sedikit gambaran tentang pelarangan LGBTQ di Indonesia, sekaligus memberhentikan persoalan dan  pertanyaan tak berujung tentang LGBTQ.

Indonesia tidak memiliki hukum yang mengatur tentang LGBTQ, paling tidak, belum. Dahulu pernah sebuah komunitas menggugat tentang pasal perzinaan dan ingin memperluasnya ke arah tindakan LGBTQ, yang dalam konteks Islam, juga termasuk zina. MK menolak perluasan arti ini (dengan suara 5:4) karena bukan hak mereka untuk menambahkan arti dalam sebuah pasal, tetapi DPR. Banyak protes yang dilayangkan oleh anti-LGBTQ, karena menganggap MK mendukung adanya LGBTQ. MK tidak diperbolehkan memberi komentar terkait putusannya karena terikat kode etik MK. Permasalahan ini kemudian surut sendiri karena tidak adanya respon dari MK. Lalu beberapa waktu konflik perihal LGBTQ kelam sejenak. (rujuk ke link ini)

Kemudian muncul RKUHP tentang pelarangan LGBTQ, yang dilawan oleh banyak orang liberal dan dari komunitas LGBTQ sendiri. Yang menyetujuinya pun juga tidak kalah banyak. Sehingga dua jenis komunitas mulai terlihat, yang satu tidak masalah terhadap adanya LGBTQ di Indonesia, dan orang yang anti LGBTQ.

Tentu saja DPR bukan berisi orang-orang sembarangan. Setiap pasal RKUHP dibuat dengan dasar dan sidang yang panjang dan di-“challenge” di dalam rapat sebelum benar-benar jadi KUHP.

Lalu kira-kira kenapa ada RKUHP tentang LGBTQ ini? Ada beberapa hal yang saya lihat dan simpulkan.

Pertama, pemicunya adalah komunitas penggugat yang saya sampaikan di prolog tadi. DPR menyadari bahwa ada pasal yang seharusnya masuk, namun tidak diatur dalam undang-undang.
“Kenapa LGBTQ perlu diatur?”
Itu saya bahas nanti.

Kedua, Indonesia merupakan negara yang bertuhan. Lihat Pancasila pertama. “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Dari faktanya bahwasanya Indonesia bisa merdeka karena salah satu faktor terbesarnya adalah agama (kalau Anda mengikuti pelajaran sejarah saat SMA). Mana mungkin seorang manusia Indonesia mau bertarung melawan penjajah sedemikian tanpa sebuah imbalan? Dalam setiap agama, berkorban untuk manusia lainnya akan mendapat imbalan yang lebih besar di Surga. Kalau sekarang, mungkin tidak ada yang mau bergerak kalau tidak ada untungnya untuk dia.
Nah, karena perihal agama yang menjadi dasar negara ini, LGBTQ juga perlu diatur karena masuk dalam perihal agama. Agama mayoritas di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, semua agamanya tidak ada yang mendukung LGBTQ dan bahkan mengutuk semua kaum yang bersangkutan.

Islam :

Al-A’raaf : 80

An-Naml : 55

(Saya Muslim jadi jika ada kesalahan mohon dikoreksi)

Kristen / Katolik :

Imamat 18:22

Imamat 18:24-30 (tidak ada link)

Hindu :

Manava Dharmasastra IX. 96 (dengan konteks berbuat seperti manusia secara seharusnya tanpa melakukan perbuatan seks menyimpang)

Sehingga memasukkan larangan LGBTQ dalam undang-undang merupakan hal yang valid dalam pemerintahan Indonesia.

Ketiga, Indonesia memiliki budaya yang banyak dan kental. Setiap budaya memiliki kesusilaan sendiri. Anda akan sering melihat bagaimana seorang LGBTQ di dalam sebuah masyarakat berbudaya dipermalukan oleh seluruh masyarakatnya, karena hal tersebut melanggar kesusilaan yang ada di sana, dan perbuatan ini diharap menjadi pelajaran untuk yang lain agar tidak meniru hal yang sama. Mindset manusia Indonesia tidak menerima adanya LGBTQ. Ini juga menjadi kunci diterapkannya RKUHP tersebut.

Keempat, komunitas LGBTQ, terus membesar. Banyak mulai komunitas LGBTQ di Indonesia yang berjalan secara sembunyi-sembunyi demi keamanan komunitas. Bahkan beberapa di antaranya didanai oleh Amerika. Dikhawatirkan komunitas ini menjadi besar dan mempengaruhi masyarakat lain dan membunuh kesusilaan yang ada. Sehingga jika dipikir dengan pola pikir anggota DPR, hal ini merupakan hal yang masuk akal.

Sekarang era globalisasi. Banyak hal yang murni dimiliki oleh Indonesia hilang ditelan westernisasi. Mulai dari pakaian, gaya hidup, hingga pola pikir. Internet yang awalnya merupakan tempat untuk mengais ilmu, sekarang menjadi gerbang untuk menjustifikasi opini kita. Betapa bebasnya manusia sekarang, hingga melupakan bahwa hidup itu mempunyai aturan untuk mempermudah jalannya hidup.

Dukungan kepada LGBTQ menunjukkan lunturnya agama di Indonesia, yang mungkin beberapa dari Anda tidak memiliki masalah, atau malah menyetujui hal itu. Namun faktanya Indonesia adalah negara beragama dan berketuhanan Esa, tidak bisa mengubah dasar berpikir kita untuk melihat peristiwa yang ada di masyarakat. Jadi mohon maaf kepada orang-orang ateis, namun itulah Indonesia.

Pribadi, saya pro-masyarakat. LGBTQ pun termasuk masyarakat, namun karena kepentingan mayoritas lah yang diprioritaskan, maka saya pro-mayoritas. Jika penutup ini membuat apa yang Anda baca menjadi tak berarti, tulis di dalam komentar apa yang Anda anggap sebagai omong kosong, dan saya akan menjelaskannya.

“Masyarakat dengan latar belakang sunda dan Agama Islam mereka tidak setuju
dengan adanya LGBT.” (T, 22 tahun, Masyarakat, Bogor).

Baca juga:

Pandangan LGBT Terhadap budaya dan Agama di Indonesia

Advertisements

Apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia?

“Kalau (x, y)-nya (0, 40), berarti tempatnya di grafik koordinat di mana?,” tanyaku.
“Ummm….,” muncul keheningan sejenak sembari ia berpikir keras.
“Kalian tahu ‘kan, posisi sebuah titik dalam koordinat?”
“Tahu, mas. Tapi bingung,” jawabnya dengan tulisan ‘excuses’ di dahinya.
Mereka sekarang berada di jenjang kelas 2 SMA, saiat yang bisa dibilang paling krusial untuk mengukir prestasi, nilai-nilai, dan yang terutama menggaet ilmu dengan baik agar dapat melanjutkan ke perkuliahan dengan mulus.
Lalu aku menjelaskan kembali bagaimana sistem koordinat kartesius bekerja kepada mereka.
Sistem grafik kartesius seharusmya sudah diajarkan saat SMP. Kenapa mereka lupa? Apa itu ilmu yang tidak penting, sedemikian sehingga dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, dalam sains, koordinat grafik adalah alat yang vital untuk mengomunikasikan perihal yang dipahami orang sains kepada orang awam.
Lalu apa yang membuat mereka lupa? Sosmed? Tidak, sosmed sebenarnya hanya sebuah sarana agar dapat bercakap-cakap dalam bentuk lain. Pada dasarnya orang yang sedang berada di sosmed adalah orang yang berbincang dengan orang di sisi lain.
Orangtua? Orangtua tidak bisa diposisikan sebagai guru, karena mereka tidak terkualifikasi untuk mengajar. Mungkin hanya support saja.
Lalu apa?
Guru?
‘Seriously, you gonna throw blamestone to them?’
Yes, I am throwing it to them, well, a few of it.
Why?
Well, from what I see, (and this is completely biased) banyak guru yang tidak menginginkan menjadi guru. Pemuda yang baru matang dari SMA lebih mengincar teknik, teknik, kedokteran, kedokteran, akuntansi, ekonomi, sangat jarang yang mengambil pendidikan sebagai incaran utama.
Kenapa mereka mengincar hal yang sama? Padahal menjadi guru adalah hal yang mulia, dan dapat membantu pendidikan Indonesia.
Jawabannya adalah karena mereka menginginkan masa depan yang lebih terjamin. Guru Indonesia terkesan bergaji rendah. Dokter, teknisi mesin, digaji lebih tinggi daripada guru. Maka jelas mereka lebih memilih dokter, teknik daripada pendidikan.
Lalu yang kedua adalah karena banyak yang memilih menjadi dokter/teknisi, dan orang-orang yang cerdas dan mampu untuk mengajar juga tergaet oleh keinginan gaji besar, sisanya berpencar ke jurusan yang bermacam-macam, termasuk pendidikan sedemikian sehingga jurusan pendidikan berisi orang-orang yang tidak pernah ingin berada di dunia pendidikan.
Yang ketiga, menapaki karir menjadi guru adalah hal yang sulit. Sebagai lulusan segar dari jurusan pendidikan, Anda akan dihadapkan ke ‘pencarian pengalaman’, pekerjaan yang memiliki gaji rendah, tetapi sulitnya bukan main. Saya sekolah di sekolah swasta, jadi saya tahu betapa sulitnya menjadi guru yang diperhatikan saat pelajaran. Angkatan saya pernah membuat seorang guru pindah karena terbully oleh angkatan saya. Akhirnya guru-guru yang mengajar berpikir, “Ah, saya digaji rendah untuk ini. Ya sudah, saya mengajar ala kadarnya saja.”
And they did.
Dan mereka membawa ‘pengalaman’ mereka ke karir selanjutnya. Pengalaman mereka adalah ‘Kalau tidak ada yang mendengarkan saya, saya mengajar seadanya saja,’ dimana hal ini merupakan salah satu faktor penghambat pendidikan di Indonesia.
I still have blamestones to throw, where should I throw it?
Mungkin ke isi kepala bangsa Indonesia ini.
Ya, saya menyadari bahwa bangsa ini memiliki cara pikir yang aneh.
Menurut saya sendiri, belajar memiliki tahapan sebagai berikut:
Membaca – mengingat – memahami – menerapkan. Tahap memahami adalah tahap paling krusial, dan yang paling sulit untuk dilakukan orang Indonesia, karena memahami membutuhkan daya pikir yang ekstrim dan kritis.
Di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk mengingat, di mana merupakan hal yang wajar mengingat mengingat adalah salah satu tahap belajar. Akan tetapi, hal yang diajarkan kalau hanya diingat saja, pasti menguap dengan cepat. Butuh pemahaman agar bisa diingat dalam waktu yang cukup lama.
Kita menguji pemahaman murid dengan ujian dan ulangan, sehingga kita merasa bahwa jika lulus, berarti anaknya sudah paham.

No, it doesn’t tell you that. Ujian sekarang hanya menunjukkan murid itu mampu mengerjakan soal pada saat ujian saja, tidak secara berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat di UN SMA tahun 2016. Soalnya kebanyakan merupakan soal terapan dalam dunia sains, konsep-konsep dasar sains, dan beberapa bahkan menggabungkan dua materi sekaligus menjadi sebuah alat yang benar-benar ada. Ketika saya membaca soalnya, saya langsung berpikir, “Ini soal yang bagus, tetapi lebih butuh mikir daripada soal biasanya. Karena soal-soal ini tidak seperti soal pada umumnya.” Dan seketika saja, ketika hasilnya keluar, rata-rata nilai UN turun.

https://m.detik.com/news/berita/3206228/nilai-rata-rata-un-sma-2016-turun-6-poin-dari-tahun-2015

Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid di Indonesia memiliki kesulitan ketika diminta untuk berpikir kritis dan dalam.
Saya lanjutkan cerita tadi. Lalu bla bla bla saya melanjutkan mengajar seperti biasa hingga kita sampai di sebuah materi (saya lupa) yang membutuhkan pembagian desimal sederhana, seperti 0.2/0.4. Mereka sedikit kesulitan menjawab. Dan aku pikir, “Yah, mungkin mereka akan membuka coret-coretan lalu mengerjakannya dengan agak lama. Aku tak masalah, toh mereka baru belajar.” Lalu hal yang tidak terduga terjadi.

Sret! Salah satu dari mereka membuka smartphone. Dibukalah app Calculator™, diketikanlah pertanyaan itu dan boom, keluar jawabannya.

“Lho, kok pake hp?”

“Iya mas. Hehe.”

Kupikir mereka agak malas untuk menghitung. Lalu aku menutup (lock) handphone mereka, lalu aku mengulang pertanyaan yang sejenis, bukan persis.

Mereka tidak bisa.

Mereka berusaha berpikir selama 5 menit lebih pada satu hal yang mendasar, dan mereka menyerah.

Lalu berdecak sambil menggelengkan kepala, lalu melanjutkan mengajarkan mereka pembagian yang mendasar itu.

Saya merasa kurang sreg, karena mereka seharusnya sudah bukan waktunya untuk belajar hal itu lagi.

Beginilah budaya mencontek di Indonesia, membiasakan anak-anak untuk tidak berusaha sendiri, mengandalkan hal lain demi kenyamanan sendiri, mengakibatkan tingkat kecerdasan Indonesia menurun.

Akhir kata, saya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang seperti ini. Memang kalau dipikir lagi Indonesia itu negara yang lucu. Anda beri buku, dibaca, lalu Anda beri soal, yang dia jawab akan sama persis dari buku itu. Kalau saya melihat, orang Indonesia itu memang bukan bidangnya untuk menalar sesuatu, tetapi Indonesia orang-orangnya berbasis sosial masyarakat. Orang cerdas cenderung individualistis, orang sosial cenderung berlaku tidak cerdas. Untuk menjadi manusia yang cerdas dan mampu bersosial, kita harus melewati dua fase tersebut, baik berawal dari sisi cerdas maupun berawal dari sisi sosial.