Kenapa?

​I have been through shit for 3 years. I learnt a lot from that years, alone. Aku menganggap tahun itu  adalah tahun ESQ ku, give or take.

I have felt how horrible this world is, and I don’t want to be part of that. Aku belajar egois, idealis, karena saat itu aku sudah terlalu banyak manut, dan aku mendapat pelajaran keras dari itu. Aku hanya peduli pada hal yang pantas untuk dipedulikan, bukan yang meminta dipedulikan.

Have you ever been in the state where you want to be dead somewhere, seeing who the hell cares with me, because no one had ever cared of me, but death never came to you? I am prepared, before I die I want to do something to the community, rather than living but only being a parasite on earth.

I am a Hypocrite lyrics

I call wrong is wrong
I call right is right
Sometimes I can’t stand with my own words and can’t get it right

I spit my tongue
And feel delighted
A fast thinking and a weak law makes me hypocrite, right?

Never speak again
And don’t dare to explain
But my mind keeps telling me I’m going insane

I said A and B
No it’s Y and Z
I am fucking inconsistent oh can’t you see?

Reff:
I am a hypocrite
Always think opposite
And my words keep moving
What am I thinking?

I don’t want to speak
I don’t want to leak
Every statement that I seek now is reaching its peak

Why am I writing this?
And then what did I miss?
Then I’m silent and everything feels like filled with bliss

(slow)
It’s time to turn back
We have our track
Everything’s in pack
Don’t try to attack

Back to reff

Kebencian terhadap ospek

Kenapa saya sangat membenci ospek dan cabang-cabangnya?

Saya saat TK, SD, dan SMP selalu bersekolah di sekolah islam swasta. Hal-hal yang berbau ospek sangatlah tidak terasa, bahkan tidak ada. Dan pada saat itu, saya seperti, “oh MOS, baiklah. Mungkin memperkenalkan sekolah dan isi-isinya.” Dan memang pada kenyataannya itulah yang terjadi. Lalu setelah lulus SMP, saya mencoba untuk masuk ke sekolah negeri. Sekolah negeri yang saya pilih ini tergolong unggulan, bukan sembarang sekolah. Di sanalah, saya diperkenalkan dengan ospek.

Saya yang waktu itu masih sangat polos dan tidak tahu akan bagaimana jalannya ospek di sekolah negeri, tidak terlintas setitik pikiran pun mengenai “kejam”nya ospek. Ospek berjalan selama 3 hari (yang terjadwal) dan terdapat pra-ospek, di mana saya diberi tugas menumpuk dan hanya diberi waktu sekitar 2-3 hari untuk mengerjakan. Saya pikir, “okelah, tugas. Mungkin untuk memberi pemahaman atau semacamnya.”

Lalu di hari pertama ospek. Saya dan teman seangkatan dibariskan di daerah depan sekolah, dengan membawa tas berisi tugas dan name tag yang telah ditugaskan. Lalu kami digiring menuju kelas-kelas, terpisah, tergantung kelompok yang sudah dibagi saat pra-ospek. Di kelas ini saya berkenalan dengan kakak kelas yang kebaikannya yang saya akan selalu ingat hingga yaumul jaza’. Sebut saja Mas Ahmad dan Mbak N. Di beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa mereka berdualah yang bertugas sebagai “psikiater” kita setelah shock.

Lalu setelah itu saya tidak mengingat urutannya tetapi kira-kira berjalan seperti ini:
– Masuk kelas
– Pengakuan dosa
– Materi
– Penugasan
– Pulang

Pengakuan dosa. Apa maksudnya? Setiap pagi akan ada komisi disiplin, yang bertugas menagih tugas-tugas yang telah diberikan di hari sebelumnya. Tetapi, cara menagih mereka…tidak biasa. Mereka awalnya akan membuat hawa kehadiran mereka menjadi tegang. Tense. Lalu mereka akan bertanya, “Kemarin kalian sudah kami beri tugas. Silahkan dikumpulkan.” Dikeluarkanlah barang penugasan. Lalu, beberapa saat kemudian mereka berkata, “Yang merasa melakukan pelanggaran, silahkan maju ke depan.” Di sini ketegangannya semakin terasa. Komisi disiplin akan melihat siapa yang maju, dan menanyakan satu persatu siapa yang tidak maju. Mereka yang tidak maju akan didebat masalah tugasnya, dengan kata, “Yakin, dek?” Terkadang kalimat itu akan membuat kita berpikir dua kali untuk mengiyakan kata-kata kita. Tekanan ditambah dengan beberapa komisi disiplin yang menambahi dengan kata-kata, “Ayo, dek. Maju aja kalo memang salah. Kita tahu lho.” That is absolutely insane, alright? Kami tidak tahu, belum bisa tahu, dan kondisi seperti apa yang membuat kami terhitung melakukan pelanggaran dalam penugasan. Walhasil, beberapa dari kami yang lemah mental, dan perasaan teraduk-aduk secara satu persatu maju dengan pikiran “melakukan pelanggaran sekecil mungkin, walaupun tidak spesifik ditugaskan. Mencari-cari kesalahan sendiri.” Dan di depan kami malah ditanyai,”kesalahanmu apa?”
Hipokrit sekali, bukan?

Setelah itu materi. Kami dipisah menjadi kelompok kecil 2-3 orang untuk mendapatkan materi. Ada 4 hal yang disampaikan, saya tidak bisa menyebutkannya karena selain saya lupa, saya juga tidak ingin memberitahu instansi ini. Dan itu kita harus hafal, karena setelah itu kami dibariskan dan ditanyai mengenai materi tersebut. Saya menjawab dengan gelagapan, dengan rasa takut dan salah yang menghantui saya. Lalu kami diberi materi, dua buah “nyanyian” yang sudah turun temurun dihafalkan berbagai angkatan, yang baru saya ketahui setelah menjadi kakak kelas. Nyanyian ini tidak memiliki nada yang catchy, terdengar tegas dan tidak berperasaan. Dan juga, kami diberi sebuah koreografi yang harus dilakukan sambil menyanyikan lagu tersebut. Dan kami diminta menghafalkannya dengan cepat. Kalau tidak, kami bakal diceramahi dengan ketus. Seketus mungkin. Lalu bla bla bla beberapa waktu kemudian kami dikembalikan ke ruangan masing-masing, untuk diberi tugas, individu dan kelompok, lalu pulang. Dengan beban sebegitu rupa.
Hal itu seperti terjadi selama 3 hari ospek berturut-turut.

Dengan materi yang disampaikan berbeda-beda. Setiap setelah materi, kami selalu “ditenangkan” oleh kakak kelas yang berada di luar lingkaran kakak kelas yg sebelumnya.

Bagaimana penenangan ini?

Kita diajak cerita diapakan saja, lalu kita diarahkan untuk menaruh percaya pada mereka dan kakak kelas yang lain yang mengatur tentang seluruh ospek yang sedang berjalan. Dengan mental yang sudah bobrok, kita nggak bisa menolak itu.

Tiga hari berjalan, sangat terasa lamanya. Lalu selesai begitu saja, kita keesokan harinya sekolah seperti biasa. Saya merasa, “ah selesai juga akhirnya aku bisa sekolah seperti biasa,” dengan sedikit rasa khawatir. Ternyata hari yang kukhawatirkan muncul. Ada pengumuman bahwa sabtu, seminggu setelah hari ketiga berakhir, ada kegiatan pasca ospek.  Dadaku berdegup keras. Di sinilah puncaknya ospek.

Sebelum mulai, perlu diketahui karena kesalnya kami dengan kakak kelas yang ada di ospek, kami berlagak seperti mereka, menirukan gaya bicara mereka, dan mengejek-ejek mereka. Hal ini seharusnya lumrah, mengingat mental kami ditendang-tendang selama 3 hari oleh mereka.

Cerita berlanjut, puncak ospek. Kami dibariskan di lapangan, lalu mereka menyebutkan kesalahan-kesalahan kami yang kami lakukan selama seminggu tanpa ospek, seperti menirukan gaya bicara mereka, dan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya. Tapi mereka lebih keras dari ospek sebelumnya. Mereka menantang kami untuk berbicara, dengan banyak sekali kakak kelas yang melingkari kami membantu menimpali kakak kelas yang menantang itu. Bersamaan dengan itu, beberapa dari mereka berjalan cepat di sela-sela barisan kami, sambil beradu pundak dengan kami. Lalu setelah sekitar beberapa jam, lalu kami diminta duduk, lalu menunduk, lalu memejamkan mata. Kami diberi narasi tentang alasan mereka mengapa seperti itu. Kita dibuat menangis sebegitu rupa. Diam-diam lalu mereka memberi kami sebuah suvenir tanda bahwa kami adalah bagian dari mereka. Bagian dari sekolah. Bagian dari warga sekolah. Itu saja. 3 hari ditambah 1 hari untuk sebuah suvenir. Setelah kejadian itu, saya merasa lega. Bukan lega karena saya akhirnya menjadi bagian dari sebuah kelompok, tetapi lega karena semuanya telah berakhir. Tidak akan ada lagi hal seperti ini. Semua akan berjalan lancar. Mental saya masih berbentuk bubur, masih hancur.
Lalu apa yang membuat saya benci dengan ospek, pengaderan, dan semacamnya, meskipun saya baru hanya melakukannya sekali?

Pertama, pada dasarnya ospek itu berjalan dengan cara seperti ini:

Anda punya mental, berbagai macam ukuran, bentuk, dan kekuatan yang Anda bangun sebelum Anda mengikuti ospek, pengaderan, dan sebagainya. Di ospek, mereka menendang mental itu lalu menghancurkannya agar semua menjadi rata. Lalu diakhir ospek, mental Anda disemen ulang menjadi bentuk yang kuat, baru, dan rata dengan semua pihak yang mengikuti ospek. Nah, saya mentalnya hancur, tetapi tidak disemen. Selama tiga tahun SMA saya meraba-raba jati diri saya, membangun mental saya dengan mengais limbah kayu ‘pelajaran hidup’ dan mengaitkannya dengan paku ‘percobaan’, yang berkali-kali gagal. Saya tidak punya teman, karena saya tidak pandai bicara setelah mental saya hancur.

Andai kata saya diminta mengikuti ospek kembali, saya akan menolak dengan cara apapun, tetapi dimulai dengan cara yang halus. Sifat saya yang ada saat ini, tidak pernah dibentuk karena ospek, dan saya tidak akan pernah bersyukur atas hal itu. Sikap saya terhadap ospek muncul karena ospek itu sendiri. Mungkin beberapa dari Anda berpikir, “Anda tidak mendapatkan makna sesungguhnya dari pengaderan bla bla bla,” saya tidak akan menerimanya kalau argumen Anda tidak dapat meyakinkan saya. Saya telah menjalani, saya tahu apa yang terjadi di belakang, dan saya dapat menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah tradisi yang mengecewakan, yang mau tidak mau harus diikuti.
Untuk mengakhiri cerita ini, saya akan mengatakan hal ini:

Hanya ada 3 jenis orang yang akan muncul setelah ospek dilakukan.

Pertama orang yang benar-benar jadi pemimpin, jadi orang yg bersyukur atas terjadinya ospek.

Kedua, orang yang bebal, cuek, yang tidak peduli mau ada ospek atau tidak, ada makna atau tidak, yang tidak merasa ada masalah dengan apa yang terjadi di ospek. Ketiga, orang yang hasil ospeknya gagal. Orang yang mentalnya hancur tanpa ada orang yang tahu dan bertanggung jawab. Contohnya saya.
Panjang? If you don’t bother to read it, then press alt+F4, then go to fucking real life and do something productive.