Krisis Representasi : Bagaimana Sebuah Tulisan Mengubah Perspektif

Prolog

“Ideological Blindness”, sebuah istilah yang dikatakan oleh dr. Jordan Peterson tentang bagaimana orang kiri radikal tidak bisa menerima faham lain karena setiap hari dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki faham sejenis, sehingga terciptalah sebuah ruang kaca, di mana yang mereka lihat hanya diri mereka sendiri dan yang mereka dengar hanya suara mereka sendiri. Dengan hal seperti ini, kemungkinan orang itu benar-benar mendengarkan faham lain akan mengecil, dan lama-lama sirna. Rasa sosialismenya semakin kuat dan cenderung memiliki ketakutan untuk berubah pendapat karena lekatnya dengan komunitasnya.

Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa pendapat yang ada berdasarkan pendapat orang lain. Contoh paling konkritnya adalah gosip. Pernahkah Anda mendengar berita tentang Mario Teguh yang dalam tanda kutip “tidak mau mengakui anaknya”?

Banyak kontroversi soal ini, beberapa mayoritas pendapatnya adalah “menyayangkan sikap Mario Teguh terhadap anaknya sendiri” namun dengan bahasa yang lebih bervariasi. Beramai-ramai manusia lain yang baru saja mendengar berita itu ikut mencerca perbuatan “jahat” Mario Teguh tersebut.

Lalu? MetroTV mengundang Mario untuk mengklarifikasi seluruh rangkaian kejadian. Ternyata ada alasannya Mario Teguh tidak mengakuinya sebagai anaknya; telisik demi telisik ternyata hal ini berkaitan dengan masa lalunya dengan istri lamanya, dan memiliki cerita panjang hingga pada akhirnya justru anaknya sendiri yang mengatakan (yang dalam cerita beliau anak itu sudah dikategorikan berumur dewasa) bahwa ayahnya adalah X, seorang pria yang “menikung” Mario Teguh dari istri lamanya.

Namun naas, semua sudah terlambat. Imej Mario Teguh sudah runtuh, opini masyarakat sudah statis, tidak ada yang bisa dilakukan Mario Teguh.
Sebesar ini pengaruh “mayoritas” pendapat di kepala manusia Indonesia.

Apatisme Politik

Seperti yang kita tahu, Indonesia itu luas sekali. Luas sekali hingga di beberapa tempat tidak tahu dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di kejauhan sana. Sehingga apa yang terjadi di dalam dunia politik, kebanyakan dari kita tidak tahu dan cenderung apatis dengan hal-hal berbau politik. Selain itu, imej politik yang ada di Indonesia membuat kita jadi acuh tak acuh dengan politik. Contohnya ketika banyak berita tentang pejabat korup yang mencuri uang negara sebanyak miliaran, hal itu membuat kita menjadi kecewa dengan Indonesia dan dalam kasus tertentu, kita memutuskan untuk tidak perduli dengan apa yang terjadi di politik.

Impresi Pertama

Pernahkah Anda membaca buku? Apa yang membuat Anda mau membaca buku yang masih tanda tanya, alias masih baru di mata Anda? Tentunya Anda tahu dari review orang lain atau dari sampul bukunya. Jika bagus, Anda akan membacanya, dan jika jelek, Anda akan berpikir dua kali untuk membacanya, kan?

Lalu pertimbangkan kasus ini: Jika Anda menerima review jelek dari buku, lalu Anda tetap bersikeras membacanya, mungkin karena penasaran, apa yang Anda jadikan acuan dalam membacanya? Tentunya review orang tadi kan? Anda akan membacanya dengan pikiran “buku ini jelek”. Sehingga ketika ada kesalahan dalam penulisan sedikit saja, hal itu akan menjustifikasi pikiran Anda. “Oh, benar saja dia bilang buku ini jelek.” Kecuali buku tersebut benar-benar memuaskan dan banyak hal yang tidak sesuai dengan review orang tersebut, Anda akan tetap mengecap buku tersebut sebagai “buku jelek”.

Impresi pertama itu penting. Impresi di sini maksudnya pandangan. Opini pertama kali ketika terekspos suatu hal. Setahun lalu, saya sedang mengajarkan anak dari guru saya yang sedang menjalani UTS. Lalu setelah selesai mengajar, guru saya menyuguhi saya dengan sebuah makanan. Lontong kikil. Saya sebelumnya belum pernah sama sekali makan lontong kikil. Dan saya tidak pernah memiliki keinginan mencobanya. Namun karena saya di sana sebagai tamu dan saya disuguhi makanan seperti itu, mau tidak mau saya harus mencobanya. Ternyata saya tidak menyukai rasanya yang aneh. Semenjak saat itu saya tidak pernah makan lontong kikil lagi. Di sini lah pentingnya sebuah impresi pertama. Andai kata saat itu lontong kikilnya cocok di lidah saya, saya akan makan lagi.

Don’t judge a book by its cover, but also don’t judge a book by its prologue.

Di Banyak Hal, Open-Minded itu Penting

Era post-modern berisi teknologi-teknologi canggih yang diimpikan oleh banyak orang. Para teknisi mampu membuat kita bisa mengetahui informasi dengan cepat hanya dengan beberapa sentuhan. Dalam banyak hal, ini adalah kemajuan yang penting untuk menghadapi masa depan. Karena informasi yang sangat cepat ini, masyarakat benar-benar dibuat terkesima dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Namun itu dari sisi positifnya. Sekarang kita menuju hal negatif. Dengan cepatnya informasi yang muncul itu, manusia awam yang belum bisa menyaring kebenaran informasi tidak dapat menentukan apakah informasi yang datang itu benar atau salah. Contohnya, ada sebuah berita tentang manfaat batu akik jenis Z. Awalnya hanya beberapa orang membacanya, lalu kemudian berita ini dibagikan. Dan dibagikan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan berkembang secara eksponensial sehingga audiens yang menerima berita ini sangat masif. Hingga berita ini sampai kepada manusia yang tidak mau repot melakukan ‘riset kecil’ untuk membenarkan berita ini.

Lalu bagian mana yang open-minded? Dalam beberapa kasus, banyak berita yang berakhir ter-debunk, misleading, atau menipu. Contohnya berita tentang batu akik jenis Z tadi ternyata secara ilmiah tidak mempunyai khasiat, namun karena orang sudah punya impresi pertama tentang batu itu, sehingga cenderung menolak pernyataan ilmiah itu.

Ini Mau Bahas Apaan, Sih?

Krisis Representasi. Itu yang ingin saya bahas.

Apa itu?

Itu istilah buatan saya sendiri, tentang buruknya representasi figur-figur politik tersohor. Representasi adalah gambaran dari sebuah figur, baik perusahaan, orang, maupun organisasi. Buruknya representasi maksudnya, gambaran yang diterima orang-orang soal sebuah figur, di Indonesia, tidak seperti yang seharusnya. Saya akan mengambil contoh PKS. Pernahkah Anda mendengar soal LHI, yang terkena OTT dari KPK akan menerima uang suap? Pejabat PKS ini diberitakan akan menerima uang suap dari Ahmad Fathanah tentang kuota impor daging sapi. Selang beberapa waktu, akhirnya LHI terkena hukuman 20 tahun penjara. Lalu, aftermath-nya? Elektabilitas PKS menurun. Imej tentang partai berwarna putih hitam kuning ini langsung jatuh. Banyak bahan ejekan dan olokan tentang PKS, termasuk sebuah gambar yang cukup menyinggung bahkan hingga Ketua DPP PKS saat itu meminta untuk menghentikannya. Saya hidup dengan orang tua yang merupakan pengikut PKS. Saya tidak ingin terlihat sebagai orang satu sisi, namun dari apa yang saya jalani selama belasan tahun bersama orang tua seperti itu saya hampir tidak menemukan peristiwa ganjil termasuk korupsi. Namun sudah terlambat, impresi pertama masyarakat sudah jelek. PKS akan seterusnya dicap partai korupsi hingga generasi berikutnya.

Kasus di atas hanyalah contoh. Representasi semacam inilah yang seharusnya bisa dihindari dengan cerdik.

Namun di beberapa tempat, hal ini tidak dapat dihindari karena rendahnya eksposur terhadap media. Misalnya, ada sebuah berita tentang figur. Berita ini cukup negatif terhadap figur tersebut sehingga cukup kontroversial. Setelah beberapa waktu, ternyata ledakan berita ini cukup besar hingga terdengar di beberapa daerah yang kurang mengetahui akan adanya google. Sehingga impresi pertamanya terhadap figur tersebut sudah negatif. Ini akan menimbulkan masalah panjang untuk figur tersebut. Contohnya, setiap kali saya membuka berita di akun kompas.com, dan berita itu memiliki judul dengan kalimat yang mengandung kata “Anies” atau “Sandi”, selalu muncul keributan di bagian komentarnya. Setelah menyelidiki, ternyata beberapa dari mereka bahkan bukan berasal dari kota yang diurus oleh Pemprov DKI, sehingga terkesan hanya menambahkan bensin ke api.

Salah satu cara menghindari yang paling muntab adalah menjadi seseorang yang open-minded, atau berpikiran terbuka. Anda bisa memasukkan hal-hal yang mendukung opini Anda ke kepala Anda, namun perlu perspektif lain untuk menetralkan isi kepala Anda. Saya pun sedang belajar untuk memahami opini orang lain, mengapa mereka memiliki opini tersebut, mengapa mereka berpikir demikian, dan berusaha memberikan perspektifku agar saya dan orang ini berada dalam posisi yang sama, saling mengetahui pendapat yang lain dan tidak terbutakan oleh ideological blindness.

I don’t like my opinion get challenged, but how will I know the truth if I don’t know the other side of the cube?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s