Facebook Family Irony

They appraised me in every story.
Story about dinner with family.

Really, it is just easy cuisine.

But they didn’t stop to praise me proudly.

I think, why did everybody envy?.

It was just simply a picture of me and family circling in dining table.

Smiling, laughing, doing funny thing and comfortable.

Like the happiest human being.

Below I put a nice quote to represent a happy family.

I found the pic got many likes and reaction, mostly happy.

“Such a happy family.”

“Content family.”

“I am envy.”

They said.

The picture got darker and darker and eventually creating fantasy and mirage. That stereotypically represents a “happy family”.

Lies and irony fulfilled that picture entirely.

The truth was far from reality.

Ethereally escaped from dark honesty.

It was intended to.

Put a big lie to you.

So you’d see me as an ideal crew.

So you’d remember me as I grew.

I kept flew.

Because I knew someday they found out it wasn’t true.

At all.

Black ball keep rolling.

Exposing the truth.

I don’t like being two face bastard.

It just sounds retarded.

But they keep pushing me really hard.

To show them what I have mastered.

Only to show them the good of me.

Only to make them agree.

Only to make them feel great about our family.

Only to show them how big the illusion is.

Facebook happy family is a malady.

Outside we are content and happy.

Inside we have irony and tragedy.

If you’re not happy, don’t show that you’re happy.

Apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia?

“Kalau (x, y)-nya (0, 40), berarti tempatnya di grafik koordinat di mana?,” tanyaku.
“Ummm….,” muncul keheningan sejenak sembari ia berpikir keras.
“Kalian tahu ‘kan, posisi sebuah titik dalam koordinat?”
“Tahu, mas. Tapi bingung,” jawabnya dengan tulisan ‘excuses’ di dahinya.
Mereka sekarang berada di jenjang kelas 2 SMA, saiat yang bisa dibilang paling krusial untuk mengukir prestasi, nilai-nilai, dan yang terutama menggaet ilmu dengan baik agar dapat melanjutkan ke perkuliahan dengan mulus.
Lalu aku menjelaskan kembali bagaimana sistem koordinat kartesius bekerja kepada mereka.
Sistem grafik kartesius seharusmya sudah diajarkan saat SMP. Kenapa mereka lupa? Apa itu ilmu yang tidak penting, sedemikian sehingga dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, dalam sains, koordinat grafik adalah alat yang vital untuk mengomunikasikan perihal yang dipahami orang sains kepada orang awam.
Lalu apa yang membuat mereka lupa? Sosmed? Tidak, sosmed sebenarnya hanya sebuah sarana agar dapat bercakap-cakap dalam bentuk lain. Pada dasarnya orang yang sedang berada di sosmed adalah orang yang berbincang dengan orang di sisi lain.
Orangtua? Orangtua tidak bisa diposisikan sebagai guru, karena mereka tidak terkualifikasi untuk mengajar. Mungkin hanya support saja.
Lalu apa?
Guru?
‘Seriously, you gonna throw blamestone to them?’
Yes, I am throwing it to them, well, a few of it.
Why?
Well, from what I see, (and this is completely biased) banyak guru yang tidak menginginkan menjadi guru. Pemuda yang baru matang dari SMA lebih mengincar teknik, teknik, kedokteran, kedokteran, akuntansi, ekonomi, sangat jarang yang mengambil pendidikan sebagai incaran utama.
Kenapa mereka mengincar hal yang sama? Padahal menjadi guru adalah hal yang mulia, dan dapat membantu pendidikan Indonesia.
Jawabannya adalah karena mereka menginginkan masa depan yang lebih terjamin. Guru Indonesia terkesan bergaji rendah. Dokter, teknisi mesin, digaji lebih tinggi daripada guru. Maka jelas mereka lebih memilih dokter, teknik daripada pendidikan.
Lalu yang kedua adalah karena banyak yang memilih menjadi dokter/teknisi, dan orang-orang yang cerdas dan mampu untuk mengajar juga tergaet oleh keinginan gaji besar, sisanya berpencar ke jurusan yang bermacam-macam, termasuk pendidikan sedemikian sehingga jurusan pendidikan berisi orang-orang yang tidak pernah ingin berada di dunia pendidikan.
Yang ketiga, menapaki karir menjadi guru adalah hal yang sulit. Sebagai lulusan segar dari jurusan pendidikan, Anda akan dihadapkan ke ‘pencarian pengalaman’, pekerjaan yang memiliki gaji rendah, tetapi sulitnya bukan main. Saya sekolah di sekolah swasta, jadi saya tahu betapa sulitnya menjadi guru yang diperhatikan saat pelajaran. Angkatan saya pernah membuat seorang guru pindah karena terbully oleh angkatan saya. Akhirnya guru-guru yang mengajar berpikir, “Ah, saya digaji rendah untuk ini. Ya sudah, saya mengajar ala kadarnya saja.”
And they did.
Dan mereka membawa ‘pengalaman’ mereka ke karir selanjutnya. Pengalaman mereka adalah ‘Kalau tidak ada yang mendengarkan saya, saya mengajar seadanya saja,’ dimana hal ini merupakan salah satu faktor penghambat pendidikan di Indonesia.
I still have blamestones to throw, where should I throw it?
Mungkin ke isi kepala bangsa Indonesia ini.
Ya, saya menyadari bahwa bangsa ini memiliki cara pikir yang aneh.
Menurut saya sendiri, belajar memiliki tahapan sebagai berikut:
Membaca – mengingat – memahami – menerapkan. Tahap memahami adalah tahap paling krusial, dan yang paling sulit untuk dilakukan orang Indonesia, karena memahami membutuhkan daya pikir yang ekstrim dan kritis.
Di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk mengingat, di mana merupakan hal yang wajar mengingat mengingat adalah salah satu tahap belajar. Akan tetapi, hal yang diajarkan kalau hanya diingat saja, pasti menguap dengan cepat. Butuh pemahaman agar bisa diingat dalam waktu yang cukup lama.
Kita menguji pemahaman murid dengan ujian dan ulangan, sehingga kita merasa bahwa jika lulus, berarti anaknya sudah paham.

No, it doesn’t tell you that. Ujian sekarang hanya menunjukkan murid itu mampu mengerjakan soal pada saat ujian saja, tidak secara berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat di UN SMA tahun 2016. Soalnya kebanyakan merupakan soal terapan dalam dunia sains, konsep-konsep dasar sains, dan beberapa bahkan menggabungkan dua materi sekaligus menjadi sebuah alat yang benar-benar ada. Ketika saya membaca soalnya, saya langsung berpikir, “Ini soal yang bagus, tetapi lebih butuh mikir daripada soal biasanya. Karena soal-soal ini tidak seperti soal pada umumnya.” Dan seketika saja, ketika hasilnya keluar, rata-rata nilai UN turun.

https://m.detik.com/news/berita/3206228/nilai-rata-rata-un-sma-2016-turun-6-poin-dari-tahun-2015

Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid di Indonesia memiliki kesulitan ketika diminta untuk berpikir kritis dan dalam.
Saya lanjutkan cerita tadi. Lalu bla bla bla saya melanjutkan mengajar seperti biasa hingga kita sampai di sebuah materi (saya lupa) yang membutuhkan pembagian desimal sederhana, seperti 0.2/0.4. Mereka sedikit kesulitan menjawab. Dan aku pikir, “Yah, mungkin mereka akan membuka coret-coretan lalu mengerjakannya dengan agak lama. Aku tak masalah, toh mereka baru belajar.” Lalu hal yang tidak terduga terjadi.

Sret! Salah satu dari mereka membuka smartphone. Dibukalah app Calculator™, diketikanlah pertanyaan itu dan boom, keluar jawabannya.

“Lho, kok pake hp?”

“Iya mas. Hehe.”

Kupikir mereka agak malas untuk menghitung. Lalu aku menutup (lock) handphone mereka, lalu aku mengulang pertanyaan yang sejenis, bukan persis.

Mereka tidak bisa.

Mereka berusaha berpikir selama 5 menit lebih pada satu hal yang mendasar, dan mereka menyerah.

Lalu berdecak sambil menggelengkan kepala, lalu melanjutkan mengajarkan mereka pembagian yang mendasar itu.

Saya merasa kurang sreg, karena mereka seharusnya sudah bukan waktunya untuk belajar hal itu lagi.

Beginilah budaya mencontek di Indonesia, membiasakan anak-anak untuk tidak berusaha sendiri, mengandalkan hal lain demi kenyamanan sendiri, mengakibatkan tingkat kecerdasan Indonesia menurun.

Akhir kata, saya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang seperti ini. Memang kalau dipikir lagi Indonesia itu negara yang lucu. Anda beri buku, dibaca, lalu Anda beri soal, yang dia jawab akan sama persis dari buku itu. Kalau saya melihat, orang Indonesia itu memang bukan bidangnya untuk menalar sesuatu, tetapi Indonesia orang-orangnya berbasis sosial masyarakat. Orang cerdas cenderung individualistis, orang sosial cenderung berlaku tidak cerdas. Untuk menjadi manusia yang cerdas dan mampu bersosial, kita harus melewati dua fase tersebut, baik berawal dari sisi cerdas maupun berawal dari sisi sosial.

Underappreciated

Pernahkah Anda mengerjakan sesuatu yang berat, namun digaji rendah?

Pernahkah Anda melakukan sesuatu yang amat tinggi karat, namun pujian tiada?

Pernahkah Anda melakukan sesuatu dengan penuh niat, tapi apresiasipun tidak ada?

Sama.

Saya tidak pernah memamerkan kelebihan kepada orang lain. Karena bisa saja arogansi tinggi itu menyandari rasa percaya diri orang lain itu. Itu sebabnya saya bisa dibilang underappreciated. Full worker, budak, karyawan, office boy, tukang sampah, dan profesi-profesi lainnya, juga bernasib sama seperti saya, walau profesi saya bukan salah satu dari yang disebutkan. 

And that’s probably why I didn’t contribute something for people.

Komputer

Saya saat ini sedang berkuliah di bidang komputer. Saya diajari untuk berpikir seperti komputer, dengan hanya modal logika di kepala.

Dari situ saya berpikir, apa jadinya dunia ini jika semua manusia bertindak seperti komputer? Apakah semua akan teratur? Semua lebih tertata rapi?

Mungkin hal yang pertama kali kita sadari adalah mereka menjadi kaku. Mereka tidak punya abu-abu. Mereka hanya tahu benar dan salah. Tidak ada pertengahan. Andai kata ada pertengahan, mungkin ada tepat di tengah. Tiap-tiap informasi yang masuk memiliki nilai eksak.

Tidak memiliki hati. Tidak ada namanya simpati. Tidak ada teman. Semua bekerja sendiri. Memiliki kepentingan sendiri. Anda mati, Anda akan mati sendiri. Tidak ada yang mengurus jasad Anda. Orang-orang akan berjalan melewati mayat Anda yang sudah membusuk. Yang hanya ada di otak mereka hanyalah kerja, data, dan keluaran.

Sebaliknya, mereka jadi semakin tersistem, rapi, dan prosedural. Setiap ada perintah, mereka akan jalankan dengan ketelitian yang sangat tinggi. Tidak akan ada namanya keliru atau ceroboh.

Semua orang akan patuh terhadap perintah. Tanpa mempertanyakan setiap perintah yang diberikan, baik atau buruk, berimbas atau tidak, tidak peduli. Tidak ada perlawanan, revolusi, atau ketidakterimaan. Semua jalan.

Tentu saja untuk menjalankan semua manusia perlu seorang user yang berkuasa atas mereka. Orang yang menjadi dalang dari semua boneka yang terjajar di panggung. Orang di belakang layar yang tidak ada yang pernah mengenali, namun bertugas memberi cerita.

Inilah gambaran masyarakat kita sekarang. Setiap hal yang kita lihat di masyarakat, dan membuat kita berpikir ulang akan persepsi kita, sesungguhnya sudah ada yang mengatur. Siapa? Saya tidak tahu, dan begitu juga jutaan masyarakat Indonesia yang dengan polosnya menelan mentah-mentah setiap berita yang muncul di TV.

Media Zaman Sekarang

​Bagaimana jika kita salah?

Bagaimana jika mereka salah?

Bagaimana jika semuanya salah?

Bagaimana jika apa yang sejauh ini kita ketahui itu salah?
Berbagai informasi lalu-lalang berlagak netral padahal jelas-jelas mengacungkan fakta ke satu pihak.

Berbagai orang berbacot ria berlagak tahu akan semua yang sedang terjadi padahal tanpa referensi yang jelas.

Berbagai media menyediakan berita hangat dan pedas yang siap dilemparkan ke orang-orang yang tidak mampu memahami.

Berbagai orang terkena mata pancing dengan umpan hangat dan hanya bisa menggelepar-gelepar ketika tahu hal itu adalah umpan.
Kita semua digiring oleh media yang sama.

Kita semua digiring ke berita yang sama.

Kita semua digiring ke pikiran yang sama.

Kita semua digiring oleh pihak yang sama.
Sejauh mata memandang, tidak akan ada penyedia informasi yang tidak bias.

Sejauh kaki berjalan, hanya secuplik berita yang memiliki keutuhan.

Sejauh pikiran membentang, tidak jauh bedanya berita satu dengan yang lainnya.

Sejauh wawasan berkembang, tidak ada media yang tidak berkepentingan.
Apa? Kesalahan pemahaman penggunaan bahasa Indonesia yang membuat semua konflik ini?

Jadi yang membuat konflik ini terbohongi oleh video, sesederhana itu?

SALAH.

Kalianlah yang dibohongi media.
Kita merasa tahu segalanya, mentang-mentang baca beritanya lengkap di internet.

Padahal yang kita baca baru secuplik berita yang terlihat sudah lengkap.

“Mahasiswa adu mulut dengan tukang parkir setempat. Simak beritanya di lyingnews.com”

Ternyata ada kelanjutannya, ternyata mahasiseanya belum dapat kembalian dari bayar parkir.
Kan jadi tidak lucu lagi ketika Anda sudah marah memaki-maki mencaci ternyata berita yang Anda dapat bohongan.
Anda bukan kambing, yang kemana-mana digiring sama media yang ingin menguasai massa.

Anda manusia, mempunyai akal sehat dan mampu berfikir.

Anda mampu membedakan mana yang jelas-jelas ingin membuat kontroversi dan yang tidak.

Anda mampu berhenti membaca berita dari LINE Today, ketika berita itu mengandung unsur-unsur yang memihak sebelah atau memojokkan satu pihak.
Media nowadays pisses me off.

I can’t trust any of it.

If you want the truth, ask them personally.

I don’t care if I am obsolete.

Your Mouth, Your Character

Sepertinya ini bukan hal yang dapat diterima banyak orang. Tetapi Anda adalah mulut Anda. Orang-orang melihat Anda tergantung dari apa yang Anda ucapkan, baik kepada mereka maupun orang lain.

Anda mengatakan ‘A’ kepada Mr. X. Lalu suatu hari Mr. X melihat Anda mengatakan ‘Z’ kepada Mr. Y. Anda akan dilihat sebagai seorang penipu, dan seterusnya akan menjadi penipu di matanya sampai Anda, entah bagaimana, mampu mendapatkan kembali kepercayaannya.

Berhati-hatilah dengan yang Anda katakan. Anda mungkin akan mempelajari bagaimana seharusnya kata-kata disusun sesuai dengan lawan bicara di tengah perjalanan hidup, dengan cara halus maupun kasar.