Selamat! Anda Berhasil Mempermalukan Orang yang Bersalah secara Daring. Lalu apa?

51486691_2263265557041022_6467540562395267072_o
“Yang bersangkutan, foto dan nama tidak saya cantumkan demi nama baik yang bersangkutan”

Anda duduk manis di depan laptop Anda, atau berbaring dengan memegang handphone Anda. Lalu Anda membaca sebuah post pendek, namun berisi caption yang dimulai huruf kapital.

TOLONG UNTUK SEMUA HRD SEMOGA GAK AKAN PERNAH TERIMA ORANG INI DIPERUSAHAANYA!

baru kali ini coy ngerasa patah hati luar biasa yang biasanya gue segitu bodoamatnya tentang semua kasus didunia ini, tapi ngikutin kegoblokan si brengsek ini dari awal sampe skrng bener-bener gak habis pikir tuhan bisa ngasih dia nyawa dan biarin dia untuk tetap hidup. kalo kampus gak bisa hukum dia, biar sosial yang hukum dia sampe balesan apa yang dia buat seimbang!

Dengan foto LinkedIn, tepat seperti gambar paling atas di tulisan ini. Ratusan orang “berkerumun” di post itu, ramai membicarakannya, mulai mendukung, bertanya karena sekedar penasaran, atau bahkan sampai merencanakan apa hukuman selanjutnya bagi orang yang tertera di atas.

Ini kasus apa sih sebenernya?

Singkatnya, terjadi pelecehan seksual di tahun 2017 saat Kuliah Kerja Nyata UGM, namun baru terungkap tahun 2018 kemarin. Para wanita dunia maya dengan sigap membela sang korban, dengan membantu “melecehkan balik” sang tersangka dengan cara berulang-ulang memberikan segala macam hal yang menyebarluaskan pribadi tersangka, seperti segala macam sosial medianya diteror, semua foto pribadinya disebarluaskan, memberi julukan “PEMERKOSA” mendampingi fotonya. Salah satunya adalah LinkedIn yang diumbar. Satu demi satu teror dikirimkan, bahkan sampai nama seluruh anggota keluarganya dibocorkan ke publik untuk (memungkinkan) mendapatkan hal yang serupa ; malu.

Apa yang terjadi?

Yang terjadi di sini adalah public humiliation.

Public humiliation adalah sebuah bentuk hukuman yang mempermalukan, mencelakan seseorang, biasanya pelaku kejahatan atau narapidana, di tempat publik. Penghinaan publik umumnya digunakan sebagai bentuk sanksi secara yudisial dan masih diterapkan dengan cara yang berbeda di era modern. Wiki

Apakah apa yang terjadi di sini bisa termasuk public humiliation?

Jika kita lihat definisi humiliation dari jurnal Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online yang dirilis tahun 2010, definisinya adalah:

… an individual suffers humiliation when he makes a bid or claim to a certain social status, has this bid or claim fail publicly, and has it fail at the hands of another person or persons who have the status necessary to reject the claim. Finally, what is denied is not only the status claim itself, but also and more fundamentally the individual’s very status to have made such a claim at all.

Yang, bagi yang malas menerjemahkan ke bahasa Inggris, intinya adalah ketika seseorang membuat klaim atas status sosial tertentu, lalu gagal mendapatkan / mempertahankan klaim ini secara publik, dan gagal di tangan orang yang punya status sosial yang diperlukan untuk menolak klaim tersebut.

Apakah sang tersangka membuat klaim atas status sosial tertentu? Ya, status sosial dia adalah ‘bukan pemerkosa’ atau ‘mahasiswa biasa’. Apakah dia gagal mempertahankan klaim ini? Ya, dia menodai namanya sendiri dengan melakukan pelecehan seksual. Apakah dia berhadapan dengan orang lain yang punya status sosial yang berhak menolak klaim tersebut? Oh tentu, dia melawan ribuan wanita daring seluruh Indonesia yang “punya hak” untuk menolak klaim tersebut karena kelakuan senonoh sang tersangka sendiri.

Jadi dengan alasan di atas, kita bisa simpulkan bahwa terjadi humiliation kepada tersangka. Public humiliation? Benar, karena sang tersangka membuat kesalahan dan bisa dilihat sebagai sebuah bentuk hukuman seperti definisi awal yang telah dibahas.

Namun berbeda dengan public humiliation yang terjadi pada zaman dahulu, di mana pelaku dipasung dan dipajang di depan publik, tersangka tidak dipasung, namun berada di “publik” berupa internet dan memiliki beberapa titik sasaran untuk humiliation ini, seperti sosial media dan nomor handphone nya.

Tapi apakah ini benar-benar dibutuhkan untuk benar-benar menghukum dia? Apakah tindakan ini adalah sesuatu yang worth untuk dilakukan sedemikian sehingga dapat menghukum tersangka?

Pada akhirnya kasus ini berujung damai setelah korban dan tersangka dipertemukan. Kedua mahasiswa tersebut juga diberi konseling rutin agar bisa menjaga hubungan dengan baik. Bahkan korban diberi santunan uang pendidikan yang bisa dibilang cukup banyak karena melunasi uang kuliah dan biaya hidup hingga kelulusannya.

Anda telah ikut andil menghukum dia dengan mempermalukan dia di tengah warga internet. Selamat! Lalu apa? Apakah yang Anda lakukan akan benar-benar membawa hal baik untuknya? Apakah dia sangat pantas menerima hujatan dengan volume besar dari seluruh Indonesia?

Dalam jurnal yang sama dengan yang disebutkan di atas, disebutkan bahwa humiliation yang terjadi kepada seorang individu akan membuat individu tersebut mengalami depresi major, kondisi suisidal, dan kondisi kecemasan berat, termasuk ciri-ciri dari posttraumatic stress disorder. Cross Reference

Apalagi yang terjadi kepada tersangka ini termasuk online humiliation yang merupakan berita buruk jika tersangka aktif menggunakan internet. Jennifer Jacquet, seorang asisten professor studi lingkungan di New York University, menuliskan di bukunya,

“The speed at which information can travel, the frequency of anonymous shaming, the size of the audience it can reach, and the permanence of the information separate digital shaming from shaming of the past.”

Dengan budaya ketidaksopanan semakin meningkat, digabungkan dengan orang yang sensitif dan sangat passionate dengan kepercayaannya, mereka menggunakan perilaku pelecehan (non-seksual) dan bullying dan melabelinya sebagai aktivisme. Dalam kasus ini, wanita daring berani membully dan melecehkan pria sampai mau menutupi jalur karir sang pelaku hanya karena “dia pantas mendapatkannya” dan mereka “membela kebenaran”.

Kalo sudah sampe perang digital, pesan yang kalian para polisi moral tebarkan hanya akan jadi debu dan kaya semut-semut di televisi ketika tidak ada sinyal. Kalian tidak merubah apa-apa. Tidak ada pemenang di akhir perang ini, yang ada kalian hanya membully dan melecehkan orang habis-habisan dengan alasan, “lu udah salah masih ngelak aja kontol”.

Kesimpulannya : nggak, cuk. Nggak ada benarnya yang kamu lakukan itu. Kalian framing dia sebagai penjahat seumur hidup sedangkan masalahnya sudah selesai? Apa yang kalian bela sekarang selain ego kalian sendiri? Gratifikasi instan yang kalian dapatkan untuk melecehkan seseorang kalian percayai sebagai aktivisme? Kalian itu punya kekuatan yang besar, pakailah dengan tanggung jawab. Kalau berhasil menghancurkan masa depan satu orang, apakah kalian bangga dengan itu? Apa bedanya dengan dia? Membunuh pembunuh sama dengan impas? Lalu apa lagi, bayar polisi biar lolos kasus suap? Apakah kalian masih bisa menjustifikasi aksi “aktivisme” kalian? Masa kalian butuh seribu kata dari anonim di internet?

Bacaan sumber

Advertisements

Ketika kamu mencari pembenaran dalam kehidupan introvertmu

Lagi asik berselancar di internet, ada orang ngeshare postingan, isinya

Terkadang gw mikir, tujuan dari bersosialisasi itu apa sih sebenarnya? Pleasure seeker, time killing activity, atau hanya sebagai ajang show off? Atau lebih saintifiknya, manusia sebagai makhluk sosial? Iya, relevan kalau kita tarik kembali pas pra peradaban atau awal-awal berdirinya peradaban.

Tapi di zaman modern kek gini, mau sendiri pun juga udah ada “fasilitas”nya, kek anime, game, atau sekedar melakukan hobi. Jadi “hikikomori” juga tidak ada salahnya.

Persetan sama orang-orang yang bakal bilang, “ini hidupnya gak berguna lah”, “no life”, ini itulah.

Ya lagian ketika gw berusaha bersosialisasi, apa yang gw dapat emangnya? Diejek, dibilang terlalu ngimpi jadi orang, topik kurang nyambung, mau ngejoke juga garing joke gw karena terlalu dank. Hoping they would understand, tapi eh bikin embarassed aja sih.

Tapi gak semua temanku di real life gitu sih, ada yang benar-benar bisa berempati, juga menyemangati, juga ada yang bisa diajak bercanda dan gak jaim.

Cuma sedikit aja. That’s why lingkaran pertemananku sedikit saja, gak mau banyak-banyak. Terlalu banyak drama nantinya, pusing.

Muak gw lihat standar sosialisasi di zaman modern ini. Kebanyakan topik yang dibahas hanya tentang materi, materi, materi, cewek, dan materi, kemudian materi lagi!

Pas diajak berpikir kritis agar menemukan solusi, dibilang jadi orang jangan terlalu serius.

Pas berusaha berpendapat, sama sekali gak dihargai. Iya, iya doang, kemudian gak dianggap.

Dikasih tahu, musti rajin bersosialisasi biar dapat relasi untuk buat bisnis. Halah kontol, terakhirnya ditipu yang ada. Profit berlebih disimpan sama dia, eh pas gw tagih bagian gw malah dibilang rugi, jadi gw yang terakhirnya rugi, dianya untung.

Ini yang bikin gw punya trust issue sama orang.

Emang jujur aja, agak membosankan kalau gak punya teman. Cuma kalau diperlakukan kek gini, siapa yang gak malas coba?

Dah gitu aja…

Have a nice day buat yang udh mau baca sampe habis.

Wah langsung terpicu saya bikin blog post panjang buat post ini. Banyak yang salah arah argumen di sini. Saya menggosokkan kedua telapak tangan saya bersiap mengetik di komentar namun dibaca juga ndak enak.

Mari kita telaah satu persatu:

Terkadang gw mikir, tujuan dari bersosialisasi itu apa sih sebenarnya? Pleasure seeker, time killing activity, atau hanya sebagai ajang show off? Atau lebih saintifiknya, manusia sebagai makhluk sosial? Iya, relevan kalau kita tarik kembali pas pra peradaban atau awal-awal berdirinya peradaban.

Bersosialisasi punya banyak tujuan. Pleasure seeker, benar. Time killing, benar juga. Ajang showoff? Eh kok tiba-tiba mengarahkan sosialisasi jadi ajang pamer? Pasti sampeyan pernah ngobrol sama orang juga kan. Mananya yang mau dipamerin?? Intonasinya? Kata-kata puitis nan indahnya? Bahasa asingnya?? Orang rugi kalo ngomong doang cuman buat ajang pamer, ga ada untungnya juga ngepamerin ke hikikomori kalo ga ada doorprizenya. Relevan ke pra peradaban….? Peradaban apa ini? Cyberpunk 2077? Dari dulu jaman manusia masih monyet sampai sekarang manusia entah bagaimana caranya tetap bersosialisasi sama sekitar entah lewat telepon, surat, ngetik bacot di blog internet, sekedar tepuk tepuk, atau melambai tangan saja udah terhitung sosialisasi. Kamu caper di internet pake public post juga sosialisasi. Jadi maksudnya gimana?

Tapi di zaman modern kek gini, mau sendiri pun juga udah ada “fasilitas”nya, kek anime, game, atau sekedar melakukan hobi. Jadi “hikikomori” juga tidak ada salahnya.

Lhuh, mau sendiri, mau bareng, semua ada fasilitasnya. “Suka sendiri” sama “Nggak mau bersosialisasi” itu beda tipis. Hikikomori pun terserah kamu, tapi apapun risikonya ditanggung penumpang, entah apa itu. Apa kamu se hikikomori itu pula? Jadi orang yang keluar kamar cuman cari mie instan cup terus balik lagi ke kosan, cuman buat liat layar komputer lagi? Siapa yang gaji kamu? Kenalin ke saya, saya mau gitu juga, ga ngapa-ngapain cuman mainan internet dapet duit kiriman terus.

Persetan sama orang-orang yang bakal bilang, “ini hidupnya gak berguna lah”, “no life”, ini itulah.

Kamu ga pingin berguna? Buat siapa gitu? Buat diri sendiri paling nggak? Hikikomori bukan berarti ga berguna lho. Jadi mending mas cari tau cara jadi berguna, buktiin kalo hikikomori pun bisa lebih guna daripada orang yang nyeletuk gitu.

Ya lagian ketika gw berusaha bersosialisasi, apa yang gw dapat emangnya? Diejek, dibilang terlalu ngimpi jadi orang, topik kurang nyambung, mau ngejoke juga garing joke gw karena terlalu dank. Hoping they would understand, tapi eh bikin embarassed aja sih.

Hahahhahaha, kapan belajarmu bersosialisasi kalo gitu? Disentil dikit sama “ejekan” udah mau balik ke kamar aja. Ya itu namanya proses. Ya kali kamu ngomong langsung super sekali kaya mario teguh. Saya sendiri aja masih ga nyambung kalo ngomong. Tapi ya namanya belajar, bukan berarti berhenti di situ. Ayo liat apa ejekannya:

  • Ngimpi jadi orang
    • Kamu cari temen lain aja kalo ada yang bilang gini. Dia ga bakal bantu kamu apa-apa.
  • Topik kurang nyambung
    • Lho saya tiap hari diginiin? Tapi ga masalah tuh, yang penting masih bisa ngelanjuting ngomong. Isi kepala saya ke mana-mana, dari produksi musik sampe meme goreng, saya omongin aja entah nyambung atau nggak. Kalo pembicaraan berhenti, cari topik lain yang gampang dicerna. Ga mungkin lah baru ketemu orang 2 hari langsung bahas Nurhadi-Aldo. Pasti ada pembicaraan awal yang lama-lama nyambung ke topik yang dimaksud.
  • Ngejoke garing
    • Wakakakak guyonan saya garing banget sampe yang diajak ngomong ga paham dan saya harus jelasin pelan-pelan biarpaham dan baru paham kalo itu guyonan ga penting banget. Ga masalah guyonan garing. Kalo mereka ga ketawa, berarti memang guyonan mereka bukan yang jenis itu. Orang itu beda-beda, ada yang ketawanya karena dark joke, ada yang ketawanya karena guyonan bapak-bapak di whatsapp.
  • Ngejoke dank
    • Sekali lagi, kalo mereka ga ketawa, jangan dikeluarin.
  • Bikin malu aja
    • Kalo kamu di depan orang penting, ya perlu perhatiin tata krama lah. Kalo di depan orang asing yang ga kamu kenal ya bodo amat. Ngapain mikir. Toh mereka belum tentu ketemu lagi sama kamu di saat yang lain.

Tapi gak semua temanku di real life gitu sih, ada yang benar-benar bisa berempati, juga menyemangati, juga ada yang bisa diajak bercanda dan gak jaim.

Nah itu bisa kan punya temen? Mananya yang hikikomori?

Cuma sedikit aja. That’s why lingkaran pertemananku sedikit saja, gak mau banyak-banyak. Terlalu banyak drama nantinya, pusing.

Temen itu banyakin, apalagi sekedar kenalan. Temen deket baru dikit gapapa. Kalo temen sama kenalanmu itu temen deketmu doang, habis ntar ga punya network yang gede buat membantu hidupmu. Kalo kamu bikin drama ya pusing, kalo temenmu ya ngapain mikir.

Muak gw lihat standar sosialisasi di zaman modern ini. Kebanyakan topik yang dibahas hanya tentang materi, materi, materi, cewek, dan materi, kemudian materi lagi!

Orang itu macem-macem cok. Kamu jangan cari temen yang keliatan kerennya doang. Paham saya temen yang gitu, yang bisa dibilang punya “kelas” dan obrolannya cewe sama barang pribadi doang. Cari temen yang sekiranya sejenis sama elu, cari yang keliatan wibunya juga, deketin, ajak ngomong, kali aja ada yang nyambung. Temen saya ada yang diem dan ga keliatan banget tapi setelah saya jadiin temen ternyata tajir parah dan luar biasa baiknya ke orang-orang. Jadi intinya yang gerak kamu aja, jangan banyak berharap dideketin. Ga rugi punya temen kok.

Pas diajak berpikir kritis agar menemukan solusi, dibilang jadi orang jangan terlalu serius.

Kalo lagi guyon terus lu sambungin ke serius ya jelas lah gitu. Kalo emang lagi serius dan lu bahas serius ya lu ga salah, emang harusnya serius kan? Liat konteks pembicaraan, sambungin, jangan belok topik seenaknya, ya jelas protes lah.

Pas berusaha berpendapat, sama sekali gak dihargai. Iya, iya doang, kemudian gak dianggap.

Namanya aja pendapat. Dihargain itu diapain? Dianggap itu diapain? Kaya blog ini aja ga ada yang baca juga pendapat, ga ada yang ngehargain, ga dianggap. Masa tiap pendapat perlu ditepuk tangan? Lain ceritanya kalo penting urusannya, yang pendapat itu vital. Tiap habis ngomong pendapatmu, selalu tanyakan “Paham kan maksudku? kalo nggak aku ulang lagi”. Gitu terus sampe mereka bener2 paham maksudmu.

Dikasih tahu, musti rajin bersosialisasi biar dapat relasi untuk buat bisnis. Halah kontol, terakhirnya ditipu yang ada. Profit berlebih disimpan sama dia, eh pas gw tagih bagian gw malah dibilang rugi, jadi gw yang terakhirnya rugi, dianya untung.

Itu namanya bisnis cuk. Selalu harapkan backstab dan permainan politik lainnya. Selalu harapkan referensi dari orang yang dipercaya, jangan asal ambil project.

Emang jujur aja, agak membosankan kalau gak punya teman. Cuma kalau diperlakukan kek gini, siapa yang gak malas coba?

Saya.

Ya saya paham sampeyan trauma sama “bersosialisasi”, tapi ya gitu cara kerja masyarakat. Mau dikata apa? Sambat di sosmed juga ga selesai. Paling rasional ya akhirnya menyesuaikan diri sendiri, jangan harap lingkungan menyesuaikan dirimu, ga selesai sambatmu.

Krisis Representasi : Bagaimana Sebuah Tulisan Mengubah Perspektif

Prolog

“Ideological Blindness”, sebuah istilah yang dikatakan oleh dr. Jordan Peterson tentang bagaimana orang kiri radikal tidak bisa menerima faham lain karena setiap hari dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki faham sejenis, sehingga terciptalah sebuah ruang kaca, di mana yang mereka lihat hanya diri mereka sendiri dan yang mereka dengar hanya suara mereka sendiri. Dengan hal seperti ini, kemungkinan orang itu benar-benar mendengarkan faham lain akan mengecil, dan lama-lama sirna. Rasa sosialismenya semakin kuat dan cenderung memiliki ketakutan untuk berubah pendapat karena lekatnya dengan komunitasnya.

Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa pendapat yang ada berdasarkan pendapat orang lain. Contoh paling konkritnya adalah gosip. Pernahkah Anda mendengar berita tentang Mario Teguh yang dalam tanda kutip “tidak mau mengakui anaknya”?

Banyak kontroversi soal ini, beberapa mayoritas pendapatnya adalah “menyayangkan sikap Mario Teguh terhadap anaknya sendiri” namun dengan bahasa yang lebih bervariasi. Beramai-ramai manusia lain yang baru saja mendengar berita itu ikut mencerca perbuatan “jahat” Mario Teguh tersebut.

Lalu? MetroTV mengundang Mario untuk mengklarifikasi seluruh rangkaian kejadian. Ternyata ada alasannya Mario Teguh tidak mengakuinya sebagai anaknya; telisik demi telisik ternyata hal ini berkaitan dengan masa lalunya dengan istri lamanya, dan memiliki cerita panjang hingga pada akhirnya justru anaknya sendiri yang mengatakan (yang dalam cerita beliau anak itu sudah dikategorikan berumur dewasa) bahwa ayahnya adalah X, seorang pria yang “menikung” Mario Teguh dari istri lamanya.

Namun naas, semua sudah terlambat. Imej Mario Teguh sudah runtuh, opini masyarakat sudah statis, tidak ada yang bisa dilakukan Mario Teguh.
Sebesar ini pengaruh “mayoritas” pendapat di kepala manusia Indonesia.

Apatisme Politik

Seperti yang kita tahu, Indonesia itu luas sekali. Luas sekali hingga di beberapa tempat tidak tahu dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di kejauhan sana. Sehingga apa yang terjadi di dalam dunia politik, kebanyakan dari kita tidak tahu dan cenderung apatis dengan hal-hal berbau politik. Selain itu, imej politik yang ada di Indonesia membuat kita jadi acuh tak acuh dengan politik. Contohnya ketika banyak berita tentang pejabat korup yang mencuri uang negara sebanyak miliaran, hal itu membuat kita menjadi kecewa dengan Indonesia dan dalam kasus tertentu, kita memutuskan untuk tidak perduli dengan apa yang terjadi di politik.

Impresi Pertama

Pernahkah Anda membaca buku? Apa yang membuat Anda mau membaca buku yang masih tanda tanya, alias masih baru di mata Anda? Tentunya Anda tahu dari review orang lain atau dari sampul bukunya. Jika bagus, Anda akan membacanya, dan jika jelek, Anda akan berpikir dua kali untuk membacanya, kan?

Lalu pertimbangkan kasus ini: Jika Anda menerima review jelek dari buku, lalu Anda tetap bersikeras membacanya, mungkin karena penasaran, apa yang Anda jadikan acuan dalam membacanya? Tentunya review orang tadi kan? Anda akan membacanya dengan pikiran “buku ini jelek”. Sehingga ketika ada kesalahan dalam penulisan sedikit saja, hal itu akan menjustifikasi pikiran Anda. “Oh, benar saja dia bilang buku ini jelek.” Kecuali buku tersebut benar-benar memuaskan dan banyak hal yang tidak sesuai dengan review orang tersebut, Anda akan tetap mengecap buku tersebut sebagai “buku jelek”.

Impresi pertama itu penting. Impresi di sini maksudnya pandangan. Opini pertama kali ketika terekspos suatu hal. Setahun lalu, saya sedang mengajarkan anak dari guru saya yang sedang menjalani UTS. Lalu setelah selesai mengajar, guru saya menyuguhi saya dengan sebuah makanan. Lontong kikil. Saya sebelumnya belum pernah sama sekali makan lontong kikil. Dan saya tidak pernah memiliki keinginan mencobanya. Namun karena saya di sana sebagai tamu dan saya disuguhi makanan seperti itu, mau tidak mau saya harus mencobanya. Ternyata saya tidak menyukai rasanya yang aneh. Semenjak saat itu saya tidak pernah makan lontong kikil lagi. Di sini lah pentingnya sebuah impresi pertama. Andai kata saat itu lontong kikilnya cocok di lidah saya, saya akan makan lagi.

Don’t judge a book by its cover, but also don’t judge a book by its prologue.

Di Banyak Hal, Open-Minded itu Penting

Era post-modern berisi teknologi-teknologi canggih yang diimpikan oleh banyak orang. Para teknisi mampu membuat kita bisa mengetahui informasi dengan cepat hanya dengan beberapa sentuhan. Dalam banyak hal, ini adalah kemajuan yang penting untuk menghadapi masa depan. Karena informasi yang sangat cepat ini, masyarakat benar-benar dibuat terkesima dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Namun itu dari sisi positifnya. Sekarang kita menuju hal negatif. Dengan cepatnya informasi yang muncul itu, manusia awam yang belum bisa menyaring kebenaran informasi tidak dapat menentukan apakah informasi yang datang itu benar atau salah. Contohnya, ada sebuah berita tentang manfaat batu akik jenis Z. Awalnya hanya beberapa orang membacanya, lalu kemudian berita ini dibagikan. Dan dibagikan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan berkembang secara eksponensial sehingga audiens yang menerima berita ini sangat masif. Hingga berita ini sampai kepada manusia yang tidak mau repot melakukan ‘riset kecil’ untuk membenarkan berita ini.

Lalu bagian mana yang open-minded? Dalam beberapa kasus, banyak berita yang berakhir ter-debunk, misleading, atau menipu. Contohnya berita tentang batu akik jenis Z tadi ternyata secara ilmiah tidak mempunyai khasiat, namun karena orang sudah punya impresi pertama tentang batu itu, sehingga cenderung menolak pernyataan ilmiah itu.

Ini Mau Bahas Apaan, Sih?

Krisis Representasi. Itu yang ingin saya bahas.

Apa itu?

Itu istilah buatan saya sendiri, tentang buruknya representasi figur-figur politik tersohor. Representasi adalah gambaran dari sebuah figur, baik perusahaan, orang, maupun organisasi. Buruknya representasi maksudnya, gambaran yang diterima orang-orang soal sebuah figur, di Indonesia, tidak seperti yang seharusnya. Saya akan mengambil contoh PKS. Pernahkah Anda mendengar soal LHI, yang terkena OTT dari KPK akan menerima uang suap? Pejabat PKS ini diberitakan akan menerima uang suap dari Ahmad Fathanah tentang kuota impor daging sapi. Selang beberapa waktu, akhirnya LHI terkena hukuman 20 tahun penjara. Lalu, aftermath-nya? Elektabilitas PKS menurun. Imej tentang partai berwarna putih hitam kuning ini langsung jatuh. Banyak bahan ejekan dan olokan tentang PKS, termasuk sebuah gambar yang cukup menyinggung bahkan hingga Ketua DPP PKS saat itu meminta untuk menghentikannya. Saya hidup dengan orang tua yang merupakan pengikut PKS. Saya tidak ingin terlihat sebagai orang satu sisi, namun dari apa yang saya jalani selama belasan tahun bersama orang tua seperti itu saya hampir tidak menemukan peristiwa ganjil termasuk korupsi. Namun sudah terlambat, impresi pertama masyarakat sudah jelek. PKS akan seterusnya dicap partai korupsi hingga generasi berikutnya.

Kasus di atas hanyalah contoh. Representasi semacam inilah yang seharusnya bisa dihindari dengan cerdik.

Namun di beberapa tempat, hal ini tidak dapat dihindari karena rendahnya eksposur terhadap media. Misalnya, ada sebuah berita tentang figur. Berita ini cukup negatif terhadap figur tersebut sehingga cukup kontroversial. Setelah beberapa waktu, ternyata ledakan berita ini cukup besar hingga terdengar di beberapa daerah yang kurang mengetahui akan adanya google. Sehingga impresi pertamanya terhadap figur tersebut sudah negatif. Ini akan menimbulkan masalah panjang untuk figur tersebut. Contohnya, setiap kali saya membuka berita di akun kompas.com, dan berita itu memiliki judul dengan kalimat yang mengandung kata “Anies” atau “Sandi”, selalu muncul keributan di bagian komentarnya. Setelah menyelidiki, ternyata beberapa dari mereka bahkan bukan berasal dari kota yang diurus oleh Pemprov DKI, sehingga terkesan hanya menambahkan bensin ke api.

Salah satu cara menghindari yang paling muntab adalah menjadi seseorang yang open-minded, atau berpikiran terbuka. Anda bisa memasukkan hal-hal yang mendukung opini Anda ke kepala Anda, namun perlu perspektif lain untuk menetralkan isi kepala Anda. Saya pun sedang belajar untuk memahami opini orang lain, mengapa mereka memiliki opini tersebut, mengapa mereka berpikir demikian, dan berusaha memberikan perspektifku agar saya dan orang ini berada dalam posisi yang sama, saling mengetahui pendapat yang lain dan tidak terbutakan oleh ideological blindness.

I don’t like my opinion get challenged, but how will I know the truth if I don’t know the other side of the cube?

Totally Opinionated : Kenapa LGBTQ dilarang di Indonesia

Tujuan tulisan ini adalah memberikan sedikit gambaran tentang pelarangan LGBTQ di Indonesia, sekaligus memberhentikan persoalan dan  pertanyaan tak berujung tentang LGBTQ.

Indonesia tidak memiliki hukum yang mengatur tentang LGBTQ, paling tidak, belum. Dahulu pernah sebuah komunitas menggugat tentang pasal perzinaan dan ingin memperluasnya ke arah tindakan LGBTQ, yang dalam konteks Islam, juga termasuk zina. MK menolak perluasan arti ini (dengan suara 5:4) karena bukan hak mereka untuk menambahkan arti dalam sebuah pasal, tetapi DPR. Banyak protes yang dilayangkan oleh anti-LGBTQ, karena menganggap MK mendukung adanya LGBTQ. MK tidak diperbolehkan memberi komentar terkait putusannya karena terikat kode etik MK. Permasalahan ini kemudian surut sendiri karena tidak adanya respon dari MK. Lalu beberapa waktu konflik perihal LGBTQ kelam sejenak. (rujuk ke link ini)

Kemudian muncul RKUHP tentang pelarangan LGBTQ, yang dilawan oleh banyak orang liberal dan dari komunitas LGBTQ sendiri. Yang menyetujuinya pun juga tidak kalah banyak. Sehingga dua jenis komunitas mulai terlihat, yang satu tidak masalah terhadap adanya LGBTQ di Indonesia, dan orang yang anti LGBTQ.

Tentu saja DPR bukan berisi orang-orang sembarangan. Setiap pasal RKUHP dibuat dengan dasar dan sidang yang panjang dan di-“challenge” di dalam rapat sebelum benar-benar jadi KUHP.

Lalu kira-kira kenapa ada RKUHP tentang LGBTQ ini? Ada beberapa hal yang saya lihat dan simpulkan.

Pertama, pemicunya adalah komunitas penggugat yang saya sampaikan di prolog tadi. DPR menyadari bahwa ada pasal yang seharusnya masuk, namun tidak diatur dalam undang-undang.
“Kenapa LGBTQ perlu diatur?”
Itu saya bahas nanti.

Kedua, Indonesia merupakan negara yang bertuhan. Lihat Pancasila pertama. “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Dari faktanya bahwasanya Indonesia bisa merdeka karena salah satu faktor terbesarnya adalah agama (kalau Anda mengikuti pelajaran sejarah saat SMA). Mana mungkin seorang manusia Indonesia mau bertarung melawan penjajah sedemikian tanpa sebuah imbalan? Dalam setiap agama, berkorban untuk manusia lainnya akan mendapat imbalan yang lebih besar di Surga. Kalau sekarang, mungkin tidak ada yang mau bergerak kalau tidak ada untungnya untuk dia.
Nah, karena perihal agama yang menjadi dasar negara ini, LGBTQ juga perlu diatur karena masuk dalam perihal agama. Agama mayoritas di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, semua agamanya tidak ada yang mendukung LGBTQ dan bahkan mengutuk semua kaum yang bersangkutan.

Islam :

Al-A’raaf : 80

An-Naml : 55

(Saya Muslim jadi jika ada kesalahan mohon dikoreksi)

Kristen / Katolik :

Imamat 18:22

Imamat 18:24-30 (tidak ada link)

Hindu :

Manava Dharmasastra IX. 96 (dengan konteks berbuat seperti manusia secara seharusnya tanpa melakukan perbuatan seks menyimpang)

Sehingga memasukkan larangan LGBTQ dalam undang-undang merupakan hal yang valid dalam pemerintahan Indonesia.

Ketiga, Indonesia memiliki budaya yang banyak dan kental. Setiap budaya memiliki kesusilaan sendiri. Anda akan sering melihat bagaimana seorang LGBTQ di dalam sebuah masyarakat berbudaya dipermalukan oleh seluruh masyarakatnya, karena hal tersebut melanggar kesusilaan yang ada di sana, dan perbuatan ini diharap menjadi pelajaran untuk yang lain agar tidak meniru hal yang sama. Mindset manusia Indonesia tidak menerima adanya LGBTQ. Ini juga menjadi kunci diterapkannya RKUHP tersebut.

Keempat, komunitas LGBTQ, terus membesar. Banyak mulai komunitas LGBTQ di Indonesia yang berjalan secara sembunyi-sembunyi demi keamanan komunitas. Bahkan beberapa di antaranya didanai oleh Amerika. Dikhawatirkan komunitas ini menjadi besar dan mempengaruhi masyarakat lain dan membunuh kesusilaan yang ada. Sehingga jika dipikir dengan pola pikir anggota DPR, hal ini merupakan hal yang masuk akal.

Sekarang era globalisasi. Banyak hal yang murni dimiliki oleh Indonesia hilang ditelan westernisasi. Mulai dari pakaian, gaya hidup, hingga pola pikir. Internet yang awalnya merupakan tempat untuk mengais ilmu, sekarang menjadi gerbang untuk menjustifikasi opini kita. Betapa bebasnya manusia sekarang, hingga melupakan bahwa hidup itu mempunyai aturan untuk mempermudah jalannya hidup.

Dukungan kepada LGBTQ menunjukkan lunturnya agama di Indonesia, yang mungkin beberapa dari Anda tidak memiliki masalah, atau malah menyetujui hal itu. Namun faktanya Indonesia adalah negara beragama dan berketuhanan Esa, tidak bisa mengubah dasar berpikir kita untuk melihat peristiwa yang ada di masyarakat. Jadi mohon maaf kepada orang-orang ateis, namun itulah Indonesia.

Pribadi, saya pro-masyarakat. LGBTQ pun termasuk masyarakat, namun karena kepentingan mayoritas lah yang diprioritaskan, maka saya pro-mayoritas. Jika penutup ini membuat apa yang Anda baca menjadi tak berarti, tulis di dalam komentar apa yang Anda anggap sebagai omong kosong, dan saya akan menjelaskannya.

“Masyarakat dengan latar belakang sunda dan Agama Islam mereka tidak setuju
dengan adanya LGBT.” (T, 22 tahun, Masyarakat, Bogor).

Baca juga:

Pandangan LGBT Terhadap budaya dan Agama di Indonesia

Viralnya Sebuah Kiriman

​”Saya nemu orang seperti ini…”

*screenshot chat*

“Lah orang ini kenapa?”
*screenshot chat*

Tentu saja kita semua pernah menemui hal seperti itu di timeline sosial media kesayangan kita, di mana kita setiap hari dicecar informasi berita terkini hingga kabar sahabat kita.

Sebuah kiriman seseorang yang tidak Anda kenal suatu kali muncul di timeline Anda. Anda membacanya tentang seksama, ternyata sebuah curhat orang yang merasa dipermalukan derajatnya setelah chatting dengan seorang yang mesum. Disediakan cerita dengan beberapa gambar screenshot chatting lengkap beserta profil sosial medianya, yang kebetulan sedang mengenakan kopiah. Anda melihat banyak akun lain berinteraksi dengan kiriman itu. Ada yang hanya sekedar menyukai, bereaksi sedih, membagikannya, hingga komentar pedas tentang sang tersangka. Anda melihat beberapa komentar teratas seperti:
“Ah semua laki-laki sama saja!”
“ini gambaran muslim di Indonesia,,,”
dan hal-hal sejenisnya.

Atau sebuah kiriman orang lain lagi, yang tidak Anda kenal. Isinya tentang video kekerasan dua orang Amerika yang mabuk. Lengkap dengan tulisan sang pengirim,
“Astaghfirullah, begini jadinya jika mabuk-mabukan..”
Lalu Anda melihat di kolom komentar,
“Dasar Amerika… kebiasaan..”
“Makanya segala jenis khamr itu diharamkan…”

Apa yang bisa kita ambil hikmahnya?

Semua kiriman yang kita sering interaksi, diolah oleh sosial media, sedemikian sehingga semua kiriman yang muncul di timeline sesuai dengan apa yang kita harapkan untuk lihat. Dengan asumsi kita manusia normal dengan opini cerdas, itu hal yang bagus.
Bagaimana dengan orang yang punya opini lain, yang jelas-jelas opininya dipenuhi dengan kesalahan cara berpikir? Dia akan hanya melihat kiriman yang satu opini dengan dia. Dunia ini luas, sehingga pasti paling tidak ada satu komunitas dengan opini yang sejenis dengannya. Sehingga dia akan menganggap bahwa seluruh dunia mendukung pendapatnya. Ada opini berbeda langsung dilawan karena opini dia benar.
Lalu apa hubungannya dengan cerita di atas?
Manusia tidak akan ada yang berhenti menghakimi. ‘Don’t judge a book by its cover’ tapi akhirnya kita menilai sebuah buku dari apa yang berada di sampulnya, karena itu lebih ringkas dan cepat.
Karena kiriman-kiriman seperti itu dan interaksi kita terhadapnya, kita jadi menghakimi orang lebih keras karena opini-opini tersebut. Hal ini berujung pada perspektif miring, penolakan kebenaran, dan generalisasi, yang mana berpengaruh pada stabilitas masyarakat.
Misalnya, Anda sering melihat kiriman tentang stereotip orang muslim rasis dengan etnis Cina. Anda sering berinteraksi dengan kiriman semacam itu, sehingga sosial media Anda memberi lebih banyak kiriman tentang hal itu, dan semakin meyakinkan Anda bahwa orang muslim itu rasis dengan etnis Cina. Sehingga ketika Anda berhadapan dengan orang muslim, Anda langsung memiliki opini acuan bahwa orang muslim itu rasis.
Dan sesungguhnya konflik antar masyarakat dimulai dari hal sekecil ini.
Semua yang terjadi di sekitar Anda, seperti kasus Ahok, kesalahpahaman Sari Roti, rasisme terhadap etnis Cina, kasus Setya Novanto, balada Anies-Sandi, hingga kinerja Presiden Jokowi, merupakan hasil dari algoritma sosial media Anda dan opini miring masyarakat.

Setelah membaca ini, saya harap Anda semua paham untuk berhenti menghakimi seenaknya, dan mengurangi berinteraksi dengan kiriman yang berisi kritikan pedas yang tidak punya ujung.

​> baca berita kompas di pejnya

> sering liatin komen buat liat reaksi orang soal berita tertentu

> terkadang ada yang ngelucu, ada yang bertanya, dsb dsb

> menemukan sedikit pola yang sama di beberapa berita

> di berita yang judulnya memiliki string “anies” atau “sandiaga”, selalu mempunyai jumlah tanggapan yang fantastis dibanding dengan berita lain, kebanyakan 1k~3k

> top commentnya merujuk pada satu hal yang sama: kritik yang merendahkan

> apapun yang dibahas, ditunjuk kesalahannya ditambah dengan insult yang tidak perlu seperti “mikir lah” atau “bikin kebijakan nggak pake otak”

> tentu aku sendiri ga punya masalah sama orang yang kritik

> masalah sebenarnya itu orang-orang entah kenapa lebih setuju dengan kritik dangkal dan hinaan ketimbang kritik membangun dan saran

> kalau begitu, sesungguhnya nggak maju-majunya bangsa ini bukan hanya salah dari kebijakan remeh pemerintahnya, namun sikap masyarakat terhadap kebijakan tersebut

Permasalahan Kekerasan Seksual

Pagi-pagi, saya membuka timeline handphone seperti biasa, dan menemukan sebuah komik strip. Awalnya saya mengira ini adalah komik sketch biasa (maklum saya sering ngeluyur di bagian komedi). Namun ternyata ini adalah pesan tentang kekerasan seksual.

Semakin saya baca berulang-ulang, semakin saya tidak paham dengan komik strip ini, karena saya merasa banyak yang tidak pas dan cenderung menggeneralisasi perlakuan masyarakat awam.

Yang perlu saya tekankan di sini, TIDAK, saya tidak mendukung kekerasan seksual yang tidak dikehendaki.

“Logika Victim Blaming

Oh, bagus! Kita sudah memulai dengan yang klasik. Menyalahkan korban. Kekerasan seksual itu tanpa adanya bukti kuat, siapapun bisa jadi apapun. Ambil contoh seorang laki-laki dan seorang wanita. Wanita tersebut mengatakan sang pria melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya. Namun sang pria mengelak tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Sang wanita dan pria tidak punya bukti untuk mendukung pernyataannya, dan tidak ada saksi mata saat kejadian. Pihak kepolisian bisa mengambil beberapa pilihan:

  1. Menganggap pria itu salah dan dan membawanya ke pengadilan dengan hanya membawa pernyataan sang wanita, yang mana akan sulit untuk dimenangkan
  2. Membiarkan kasus ini berlalu karena kurangnya bukti yang mendukung
  3. Menganggap wanita tersebut salah lapor
  4. Melanjutkan penyelidikan ke pria tersebut untuk diproses lebih lanjut

1 bukan ide yang bagus, karena bahkan penerimaan laporan pun harus dengan bukti yang memadai.

2 dan 3 terlihat sebagai yang paling cepat dan mudah. Tidak repot mengurus kasus.

4 ini paling bagus, namun karena kurangnya bukti, kasusnya tidak akan pernah berujung.

Sepertinya kita semua tahu tentu saja mayoritas dari kepolisian memilih opsi 2-3, karena tanpa bukti, itu lebih mudah.

Itu dari kepolisian, bagaimana dengan Victim Blaming di publik?

Pertama-tama kita semua tahu bahwa kekerasan seksual yang tidak dikehendaki itu salah.

Yang kedua, bahwasanya kita tidak tahu kebenaran yang terjadi itu seperti apa. Tentu tidak semua orang menjadi saksi sebuah kekerasan seksual. Semua hasil akhir kasus kekerasan seksual didasarkan oleh asumsi yang diambil setelah penyelidikan dan kesaksian.

Ketiga, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak pernah ada yang menyukai predator seksual, tidak ada (kecuali sesama predator, itu lain cerita). Yang bisa dilakukan oleh publik adalah mengurangi risiko terjadinya hal tersebut. Banyak hal yang berisiko membuat terjadinya kekerasan seksual, beberapa diantaranya ada di dalam komik strip tersebut.

Pake baju jangan mahal-mahal…

Ini tentu saja menyindir ucapan orang tentang baju yang dinilai terlalu “menggoda”.

Di Indonesia, tradisinya kita, entah pria atau wanita, selalu memakai baju tertutup. Sehingga ketika ada pakaian terbuka sedikit saja, orang akan menganggap itu hal yang tidak biasa. Namun sekarang sudah jaman modern, orang Indonesia kan suka kebarat-baratan, pakai celana jins lah, pakai baju ngepres lah, celana pendekan lah. Untuk orang modern, hal ini biasa, dan mereka mampu menahan diri. Tapi untuk orang yang pikirannya lama? Itu hal tidak wajar. Sehingga wajar hal tersebut mengambil banyak perhatian. Mengambil banyak perhatian = meningkatkan risiko terjadi kekerasan seksual.

Lalu, sebenarnya saya yang paling tidak paham adalah, kenapa? Kenapa kalian menggunakan baju yang menunjukkan banyak bagian dari tubuh kalian? Tidak, saya tidak terima jawaban “terserah dia dong mau pakai baju apa”. Kalau begitu terserah predator seksualnya mau perkosa kalian bagaimana. Selain untuk “mencari perhatian”, saya tidak menemukan alasan lain.

“Tapi Wraith, tidak semua yang berbaju tertutup aman dari kekerasan seksual!”

Jika itu tergantung dari lingkungan yang sedang dilewati, yang nanti saya bahas.

Lu orang suka nyumbang uang kok marah?

Ini mungkin maksudnya “mengumbar aurat”, saya kurang dapat maksudnya. Tapi jika iya, sudah dibahas di atas tentang keterbukaan pakaian.

Gimana kalo kamu nikahin aja rampoknya? Ayah udah malu.

Pertama-tama, itu ayah nggak tahu diri. Mbak penulis, jika itu ayah Anda, saya turut berduka karena itu bukan sosok ayah. Ayah semestinya melindungi anaknya bukannya malah menganggap anaknya yang mengotori harga dirinya.

Kedua, tidak ada kaitannya pernikahan dengan perampokan. Saya paham ini sketch, tapi terlalu memaksakan tema ke dalam bahasan rampok. Kurang nyambung dengan ceritanya, nt. Saya paham dengan maksud panel itu.

Ketiga, kenapa banyak yang menyarankan untuk menikahi sang pelaku? Alasan yang paling jelas adalah berhubungan seksual di luar nikah itu tabu. Kita sudah lama berpegang teguh pada prinsip “menikah dulu baru ******” sehingga hal yang muncul pertama kali ketika ada hubungan seksual di luar nikah, yaitu menikahkan kedua orang itu. “Kamu pengen sama dia kan? Nikahin aja dia,” kasarannya seperti itu. Tapi orang Indonesia kan sekarang kebarat-baratan, mana terima soal menjaga pergaulan? 🙂

Kalau Anda dirampok dua kali, itu berarti Anda mau.

Kira-kira, kenapa muncul asumsi ini?

Karena berarti risikonya masih ada. Dan tidak jauh berkurang dari kejadian pertama. Kalau risiko masih tinggi, berarti apa yang bisa disimpulkan? Tidak ada usaha menghindari kejadian tersebut terjadi lagi. Sehingga dalam bahasa kasarnya itu “mau”.

Semua korban kekerasan seksual tentu mengalami trauma batin dan terluka secara emosional. Namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk tidak bertindak secara logis. Anda tidak akan membawa pulang apa-apa jika melaporkanke pihak berwajib dengan membawa sakit hati.

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko kejahatan seksual:

  • Bagaimana cara berpakaian dengan orang-orang sekitar, apakah dinilai wajar atau tidak
  • Bagaimana lingkungannya, apakah dikenal banyak predatornya atau tidak
  • Bagaimana persiapan sang bakal korban untuk kejahatan secara umum, misal bela diri, atau pepper spray
  • Bagaimana pemahaman bakal korban dengan lingkungan sekitar, tentang etika seorang wanita yang baik
  • Seberapa dikenal sang bakal korban di lingkungannya, semakin dikenal, orang di lingkungan itu cukup segan menggoda, dan
  • Bagaimana menyikapi sikap predator terhadap sang bakal korban.

Tidak ada yang menyukai pelaku kekerasan seksual, namun kita juga tidak tahu kapan predator akan menyerang kita. Sehingga alangkah baiknya melakukan pencegahan dengan mengurangi risiko-risiko.