Krisis Representasi : Bagaimana Sebuah Tulisan Mengubah Perspektif

Prolog

“Ideological Blindness”, sebuah istilah yang dikatakan oleh dr. Jordan Peterson tentang bagaimana orang kiri radikal tidak bisa menerima faham lain karena setiap hari dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki faham sejenis, sehingga terciptalah sebuah ruang kaca, di mana yang mereka lihat hanya diri mereka sendiri dan yang mereka dengar hanya suara mereka sendiri. Dengan hal seperti ini, kemungkinan orang itu benar-benar mendengarkan faham lain akan mengecil, dan lama-lama sirna. Rasa sosialismenya semakin kuat dan cenderung memiliki ketakutan untuk berubah pendapat karena lekatnya dengan komunitasnya.

Setiap orang mempunyai pendapat sendiri. Tapi perlu diketahui bahwa ada beberapa pendapat yang ada berdasarkan pendapat orang lain. Contoh paling konkritnya adalah gosip. Pernahkah Anda mendengar berita tentang Mario Teguh yang dalam tanda kutip “tidak mau mengakui anaknya”?

Banyak kontroversi soal ini, beberapa mayoritas pendapatnya adalah “menyayangkan sikap Mario Teguh terhadap anaknya sendiri” namun dengan bahasa yang lebih bervariasi. Beramai-ramai manusia lain yang baru saja mendengar berita itu ikut mencerca perbuatan “jahat” Mario Teguh tersebut.

Lalu? MetroTV mengundang Mario untuk mengklarifikasi seluruh rangkaian kejadian. Ternyata ada alasannya Mario Teguh tidak mengakuinya sebagai anaknya; telisik demi telisik ternyata hal ini berkaitan dengan masa lalunya dengan istri lamanya, dan memiliki cerita panjang hingga pada akhirnya justru anaknya sendiri yang mengatakan (yang dalam cerita beliau anak itu sudah dikategorikan berumur dewasa) bahwa ayahnya adalah X, seorang pria yang “menikung” Mario Teguh dari istri lamanya.

Namun naas, semua sudah terlambat. Imej Mario Teguh sudah runtuh, opini masyarakat sudah statis, tidak ada yang bisa dilakukan Mario Teguh.
Sebesar ini pengaruh “mayoritas” pendapat di kepala manusia Indonesia.

Apatisme Politik

Seperti yang kita tahu, Indonesia itu luas sekali. Luas sekali hingga di beberapa tempat tidak tahu dan tidak mau tahu tentang apa yang terjadi di kejauhan sana. Sehingga apa yang terjadi di dalam dunia politik, kebanyakan dari kita tidak tahu dan cenderung apatis dengan hal-hal berbau politik. Selain itu, imej politik yang ada di Indonesia membuat kita jadi acuh tak acuh dengan politik. Contohnya ketika banyak berita tentang pejabat korup yang mencuri uang negara sebanyak miliaran, hal itu membuat kita menjadi kecewa dengan Indonesia dan dalam kasus tertentu, kita memutuskan untuk tidak perduli dengan apa yang terjadi di politik.

Impresi Pertama

Pernahkah Anda membaca buku? Apa yang membuat Anda mau membaca buku yang masih tanda tanya, alias masih baru di mata Anda? Tentunya Anda tahu dari review orang lain atau dari sampul bukunya. Jika bagus, Anda akan membacanya, dan jika jelek, Anda akan berpikir dua kali untuk membacanya, kan?

Lalu pertimbangkan kasus ini: Jika Anda menerima review jelek dari buku, lalu Anda tetap bersikeras membacanya, mungkin karena penasaran, apa yang Anda jadikan acuan dalam membacanya? Tentunya review orang tadi kan? Anda akan membacanya dengan pikiran “buku ini jelek”. Sehingga ketika ada kesalahan dalam penulisan sedikit saja, hal itu akan menjustifikasi pikiran Anda. “Oh, benar saja dia bilang buku ini jelek.” Kecuali buku tersebut benar-benar memuaskan dan banyak hal yang tidak sesuai dengan review orang tersebut, Anda akan tetap mengecap buku tersebut sebagai “buku jelek”.

Impresi pertama itu penting. Impresi di sini maksudnya pandangan. Opini pertama kali ketika terekspos suatu hal. Setahun lalu, saya sedang mengajarkan anak dari guru saya yang sedang menjalani UTS. Lalu setelah selesai mengajar, guru saya menyuguhi saya dengan sebuah makanan. Lontong kikil. Saya sebelumnya belum pernah sama sekali makan lontong kikil. Dan saya tidak pernah memiliki keinginan mencobanya. Namun karena saya di sana sebagai tamu dan saya disuguhi makanan seperti itu, mau tidak mau saya harus mencobanya. Ternyata saya tidak menyukai rasanya yang aneh. Semenjak saat itu saya tidak pernah makan lontong kikil lagi. Di sini lah pentingnya sebuah impresi pertama. Andai kata saat itu lontong kikilnya cocok di lidah saya, saya akan makan lagi.

Don’t judge a book by its cover, but also don’t judge a book by its prologue.

Di Banyak Hal, Open-Minded itu Penting

Era post-modern berisi teknologi-teknologi canggih yang diimpikan oleh banyak orang. Para teknisi mampu membuat kita bisa mengetahui informasi dengan cepat hanya dengan beberapa sentuhan. Dalam banyak hal, ini adalah kemajuan yang penting untuk menghadapi masa depan. Karena informasi yang sangat cepat ini, masyarakat benar-benar dibuat terkesima dan menggunakannya dengan sebaik mungkin.

Namun itu dari sisi positifnya. Sekarang kita menuju hal negatif. Dengan cepatnya informasi yang muncul itu, manusia awam yang belum bisa menyaring kebenaran informasi tidak dapat menentukan apakah informasi yang datang itu benar atau salah. Contohnya, ada sebuah berita tentang manfaat batu akik jenis Z. Awalnya hanya beberapa orang membacanya, lalu kemudian berita ini dibagikan. Dan dibagikan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan berkembang secara eksponensial sehingga audiens yang menerima berita ini sangat masif. Hingga berita ini sampai kepada manusia yang tidak mau repot melakukan ‘riset kecil’ untuk membenarkan berita ini.

Lalu bagian mana yang open-minded? Dalam beberapa kasus, banyak berita yang berakhir ter-debunk, misleading, atau menipu. Contohnya berita tentang batu akik jenis Z tadi ternyata secara ilmiah tidak mempunyai khasiat, namun karena orang sudah punya impresi pertama tentang batu itu, sehingga cenderung menolak pernyataan ilmiah itu.

Ini Mau Bahas Apaan, Sih?

Krisis Representasi. Itu yang ingin saya bahas.

Apa itu?

Itu istilah buatan saya sendiri, tentang buruknya representasi figur-figur politik tersohor. Representasi adalah gambaran dari sebuah figur, baik perusahaan, orang, maupun organisasi. Buruknya representasi maksudnya, gambaran yang diterima orang-orang soal sebuah figur, di Indonesia, tidak seperti yang seharusnya. Saya akan mengambil contoh PKS. Pernahkah Anda mendengar soal LHI, yang terkena OTT dari KPK akan menerima uang suap? Pejabat PKS ini diberitakan akan menerima uang suap dari Ahmad Fathanah tentang kuota impor daging sapi. Selang beberapa waktu, akhirnya LHI terkena hukuman 20 tahun penjara. Lalu, aftermath-nya? Elektabilitas PKS menurun. Imej tentang partai berwarna putih hitam kuning ini langsung jatuh. Banyak bahan ejekan dan olokan tentang PKS, termasuk sebuah gambar yang cukup menyinggung bahkan hingga Ketua DPP PKS saat itu meminta untuk menghentikannya. Saya hidup dengan orang tua yang merupakan pengikut PKS. Saya tidak ingin terlihat sebagai orang satu sisi, namun dari apa yang saya jalani selama belasan tahun bersama orang tua seperti itu saya hampir tidak menemukan peristiwa ganjil termasuk korupsi. Namun sudah terlambat, impresi pertama masyarakat sudah jelek. PKS akan seterusnya dicap partai korupsi hingga generasi berikutnya.

Kasus di atas hanyalah contoh. Representasi semacam inilah yang seharusnya bisa dihindari dengan cerdik.

Namun di beberapa tempat, hal ini tidak dapat dihindari karena rendahnya eksposur terhadap media. Misalnya, ada sebuah berita tentang figur. Berita ini cukup negatif terhadap figur tersebut sehingga cukup kontroversial. Setelah beberapa waktu, ternyata ledakan berita ini cukup besar hingga terdengar di beberapa daerah yang kurang mengetahui akan adanya google. Sehingga impresi pertamanya terhadap figur tersebut sudah negatif. Ini akan menimbulkan masalah panjang untuk figur tersebut. Contohnya, setiap kali saya membuka berita di akun kompas.com, dan berita itu memiliki judul dengan kalimat yang mengandung kata “Anies” atau “Sandi”, selalu muncul keributan di bagian komentarnya. Setelah menyelidiki, ternyata beberapa dari mereka bahkan bukan berasal dari kota yang diurus oleh Pemprov DKI, sehingga terkesan hanya menambahkan bensin ke api.

Salah satu cara menghindari yang paling muntab adalah menjadi seseorang yang open-minded, atau berpikiran terbuka. Anda bisa memasukkan hal-hal yang mendukung opini Anda ke kepala Anda, namun perlu perspektif lain untuk menetralkan isi kepala Anda. Saya pun sedang belajar untuk memahami opini orang lain, mengapa mereka memiliki opini tersebut, mengapa mereka berpikir demikian, dan berusaha memberikan perspektifku agar saya dan orang ini berada dalam posisi yang sama, saling mengetahui pendapat yang lain dan tidak terbutakan oleh ideological blindness.

I don’t like my opinion get challenged, but how will I know the truth if I don’t know the other side of the cube?

Advertisements

Totally Opinionated : Kenapa LGBTQ dilarang di Indonesia

Tujuan tulisan ini adalah memberikan sedikit gambaran tentang pelarangan LGBTQ di Indonesia, sekaligus memberhentikan persoalan dan  pertanyaan tak berujung tentang LGBTQ.

Indonesia tidak memiliki hukum yang mengatur tentang LGBTQ, paling tidak, belum. Dahulu pernah sebuah komunitas menggugat tentang pasal perzinaan dan ingin memperluasnya ke arah tindakan LGBTQ, yang dalam konteks Islam, juga termasuk zina. MK menolak perluasan arti ini (dengan suara 5:4) karena bukan hak mereka untuk menambahkan arti dalam sebuah pasal, tetapi DPR. Banyak protes yang dilayangkan oleh anti-LGBTQ, karena menganggap MK mendukung adanya LGBTQ. MK tidak diperbolehkan memberi komentar terkait putusannya karena terikat kode etik MK. Permasalahan ini kemudian surut sendiri karena tidak adanya respon dari MK. Lalu beberapa waktu konflik perihal LGBTQ kelam sejenak. (rujuk ke link ini)

Kemudian muncul RKUHP tentang pelarangan LGBTQ, yang dilawan oleh banyak orang liberal dan dari komunitas LGBTQ sendiri. Yang menyetujuinya pun juga tidak kalah banyak. Sehingga dua jenis komunitas mulai terlihat, yang satu tidak masalah terhadap adanya LGBTQ di Indonesia, dan orang yang anti LGBTQ.

Tentu saja DPR bukan berisi orang-orang sembarangan. Setiap pasal RKUHP dibuat dengan dasar dan sidang yang panjang dan di-“challenge” di dalam rapat sebelum benar-benar jadi KUHP.

Lalu kira-kira kenapa ada RKUHP tentang LGBTQ ini? Ada beberapa hal yang saya lihat dan simpulkan.

Pertama, pemicunya adalah komunitas penggugat yang saya sampaikan di prolog tadi. DPR menyadari bahwa ada pasal yang seharusnya masuk, namun tidak diatur dalam undang-undang.
“Kenapa LGBTQ perlu diatur?”
Itu saya bahas nanti.

Kedua, Indonesia merupakan negara yang bertuhan. Lihat Pancasila pertama. “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Dari faktanya bahwasanya Indonesia bisa merdeka karena salah satu faktor terbesarnya adalah agama (kalau Anda mengikuti pelajaran sejarah saat SMA). Mana mungkin seorang manusia Indonesia mau bertarung melawan penjajah sedemikian tanpa sebuah imbalan? Dalam setiap agama, berkorban untuk manusia lainnya akan mendapat imbalan yang lebih besar di Surga. Kalau sekarang, mungkin tidak ada yang mau bergerak kalau tidak ada untungnya untuk dia.
Nah, karena perihal agama yang menjadi dasar negara ini, LGBTQ juga perlu diatur karena masuk dalam perihal agama. Agama mayoritas di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, semua agamanya tidak ada yang mendukung LGBTQ dan bahkan mengutuk semua kaum yang bersangkutan.

Islam :

Al-A’raaf : 80

An-Naml : 55

(Saya Muslim jadi jika ada kesalahan mohon dikoreksi)

Kristen / Katolik :

Imamat 18:22

Imamat 18:24-30 (tidak ada link)

Hindu :

Manava Dharmasastra IX. 96 (dengan konteks berbuat seperti manusia secara seharusnya tanpa melakukan perbuatan seks menyimpang)

Sehingga memasukkan larangan LGBTQ dalam undang-undang merupakan hal yang valid dalam pemerintahan Indonesia.

Ketiga, Indonesia memiliki budaya yang banyak dan kental. Setiap budaya memiliki kesusilaan sendiri. Anda akan sering melihat bagaimana seorang LGBTQ di dalam sebuah masyarakat berbudaya dipermalukan oleh seluruh masyarakatnya, karena hal tersebut melanggar kesusilaan yang ada di sana, dan perbuatan ini diharap menjadi pelajaran untuk yang lain agar tidak meniru hal yang sama. Mindset manusia Indonesia tidak menerima adanya LGBTQ. Ini juga menjadi kunci diterapkannya RKUHP tersebut.

Keempat, komunitas LGBTQ, terus membesar. Banyak mulai komunitas LGBTQ di Indonesia yang berjalan secara sembunyi-sembunyi demi keamanan komunitas. Bahkan beberapa di antaranya didanai oleh Amerika. Dikhawatirkan komunitas ini menjadi besar dan mempengaruhi masyarakat lain dan membunuh kesusilaan yang ada. Sehingga jika dipikir dengan pola pikir anggota DPR, hal ini merupakan hal yang masuk akal.

Sekarang era globalisasi. Banyak hal yang murni dimiliki oleh Indonesia hilang ditelan westernisasi. Mulai dari pakaian, gaya hidup, hingga pola pikir. Internet yang awalnya merupakan tempat untuk mengais ilmu, sekarang menjadi gerbang untuk menjustifikasi opini kita. Betapa bebasnya manusia sekarang, hingga melupakan bahwa hidup itu mempunyai aturan untuk mempermudah jalannya hidup.

Dukungan kepada LGBTQ menunjukkan lunturnya agama di Indonesia, yang mungkin beberapa dari Anda tidak memiliki masalah, atau malah menyetujui hal itu. Namun faktanya Indonesia adalah negara beragama dan berketuhanan Esa, tidak bisa mengubah dasar berpikir kita untuk melihat peristiwa yang ada di masyarakat. Jadi mohon maaf kepada orang-orang ateis, namun itulah Indonesia.

Pribadi, saya pro-masyarakat. LGBTQ pun termasuk masyarakat, namun karena kepentingan mayoritas lah yang diprioritaskan, maka saya pro-mayoritas. Jika penutup ini membuat apa yang Anda baca menjadi tak berarti, tulis di dalam komentar apa yang Anda anggap sebagai omong kosong, dan saya akan menjelaskannya.

“Masyarakat dengan latar belakang sunda dan Agama Islam mereka tidak setuju
dengan adanya LGBT.” (T, 22 tahun, Masyarakat, Bogor).

Baca juga:

Pandangan LGBT Terhadap budaya dan Agama di Indonesia

Viralnya Sebuah Kiriman

​”Saya nemu orang seperti ini…”

*screenshot chat*

“Lah orang ini kenapa?”
*screenshot chat*

Tentu saja kita semua pernah menemui hal seperti itu di timeline sosial media kesayangan kita, di mana kita setiap hari dicecar informasi berita terkini hingga kabar sahabat kita.

Sebuah kiriman seseorang yang tidak Anda kenal suatu kali muncul di timeline Anda. Anda membacanya tentang seksama, ternyata sebuah curhat orang yang merasa dipermalukan derajatnya setelah chatting dengan seorang yang mesum. Disediakan cerita dengan beberapa gambar screenshot chatting lengkap beserta profil sosial medianya, yang kebetulan sedang mengenakan kopiah. Anda melihat banyak akun lain berinteraksi dengan kiriman itu. Ada yang hanya sekedar menyukai, bereaksi sedih, membagikannya, hingga komentar pedas tentang sang tersangka. Anda melihat beberapa komentar teratas seperti:
“Ah semua laki-laki sama saja!”
“ini gambaran muslim di Indonesia,,,”
dan hal-hal sejenisnya.

Atau sebuah kiriman orang lain lagi, yang tidak Anda kenal. Isinya tentang video kekerasan dua orang Amerika yang mabuk. Lengkap dengan tulisan sang pengirim,
“Astaghfirullah, begini jadinya jika mabuk-mabukan..”
Lalu Anda melihat di kolom komentar,
“Dasar Amerika… kebiasaan..”
“Makanya segala jenis khamr itu diharamkan…”

Apa yang bisa kita ambil hikmahnya?

Semua kiriman yang kita sering interaksi, diolah oleh sosial media, sedemikian sehingga semua kiriman yang muncul di timeline sesuai dengan apa yang kita harapkan untuk lihat. Dengan asumsi kita manusia normal dengan opini cerdas, itu hal yang bagus.
Bagaimana dengan orang yang punya opini lain, yang jelas-jelas opininya dipenuhi dengan kesalahan cara berpikir? Dia akan hanya melihat kiriman yang satu opini dengan dia. Dunia ini luas, sehingga pasti paling tidak ada satu komunitas dengan opini yang sejenis dengannya. Sehingga dia akan menganggap bahwa seluruh dunia mendukung pendapatnya. Ada opini berbeda langsung dilawan karena opini dia benar.
Lalu apa hubungannya dengan cerita di atas?
Manusia tidak akan ada yang berhenti menghakimi. ‘Don’t judge a book by its cover’ tapi akhirnya kita menilai sebuah buku dari apa yang berada di sampulnya, karena itu lebih ringkas dan cepat.
Karena kiriman-kiriman seperti itu dan interaksi kita terhadapnya, kita jadi menghakimi orang lebih keras karena opini-opini tersebut. Hal ini berujung pada perspektif miring, penolakan kebenaran, dan generalisasi, yang mana berpengaruh pada stabilitas masyarakat.
Misalnya, Anda sering melihat kiriman tentang stereotip orang muslim rasis dengan etnis Cina. Anda sering berinteraksi dengan kiriman semacam itu, sehingga sosial media Anda memberi lebih banyak kiriman tentang hal itu, dan semakin meyakinkan Anda bahwa orang muslim itu rasis dengan etnis Cina. Sehingga ketika Anda berhadapan dengan orang muslim, Anda langsung memiliki opini acuan bahwa orang muslim itu rasis.
Dan sesungguhnya konflik antar masyarakat dimulai dari hal sekecil ini.
Semua yang terjadi di sekitar Anda, seperti kasus Ahok, kesalahpahaman Sari Roti, rasisme terhadap etnis Cina, kasus Setya Novanto, balada Anies-Sandi, hingga kinerja Presiden Jokowi, merupakan hasil dari algoritma sosial media Anda dan opini miring masyarakat.

Setelah membaca ini, saya harap Anda semua paham untuk berhenti menghakimi seenaknya, dan mengurangi berinteraksi dengan kiriman yang berisi kritikan pedas yang tidak punya ujung.

​> baca berita kompas di pejnya

> sering liatin komen buat liat reaksi orang soal berita tertentu

> terkadang ada yang ngelucu, ada yang bertanya, dsb dsb

> menemukan sedikit pola yang sama di beberapa berita

> di berita yang judulnya memiliki string “anies” atau “sandiaga”, selalu mempunyai jumlah tanggapan yang fantastis dibanding dengan berita lain, kebanyakan 1k~3k

> top commentnya merujuk pada satu hal yang sama: kritik yang merendahkan

> apapun yang dibahas, ditunjuk kesalahannya ditambah dengan insult yang tidak perlu seperti “mikir lah” atau “bikin kebijakan nggak pake otak”

> tentu aku sendiri ga punya masalah sama orang yang kritik

> masalah sebenarnya itu orang-orang entah kenapa lebih setuju dengan kritik dangkal dan hinaan ketimbang kritik membangun dan saran

> kalau begitu, sesungguhnya nggak maju-majunya bangsa ini bukan hanya salah dari kebijakan remeh pemerintahnya, namun sikap masyarakat terhadap kebijakan tersebut

Permasalahan Kekerasan Seksual

Pagi-pagi, saya membuka timeline handphone seperti biasa, dan menemukan sebuah komik strip. Awalnya saya mengira ini adalah komik sketch biasa (maklum saya sering ngeluyur di bagian komedi). Namun ternyata ini adalah pesan tentang kekerasan seksual.

Semakin saya baca berulang-ulang, semakin saya tidak paham dengan komik strip ini, karena saya merasa banyak yang tidak pas dan cenderung menggeneralisasi perlakuan masyarakat awam.

Yang perlu saya tekankan di sini, TIDAK, saya tidak mendukung kekerasan seksual yang tidak dikehendaki.

“Logika Victim Blaming

Oh, bagus! Kita sudah memulai dengan yang klasik. Menyalahkan korban. Kekerasan seksual itu tanpa adanya bukti kuat, siapapun bisa jadi apapun. Ambil contoh seorang laki-laki dan seorang wanita. Wanita tersebut mengatakan sang pria melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya. Namun sang pria mengelak tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Sang wanita dan pria tidak punya bukti untuk mendukung pernyataannya, dan tidak ada saksi mata saat kejadian. Pihak kepolisian bisa mengambil beberapa pilihan:

  1. Menganggap pria itu salah dan dan membawanya ke pengadilan dengan hanya membawa pernyataan sang wanita, yang mana akan sulit untuk dimenangkan
  2. Membiarkan kasus ini berlalu karena kurangnya bukti yang mendukung
  3. Menganggap wanita tersebut salah lapor
  4. Melanjutkan penyelidikan ke pria tersebut untuk diproses lebih lanjut

1 bukan ide yang bagus, karena bahkan penerimaan laporan pun harus dengan bukti yang memadai.

2 dan 3 terlihat sebagai yang paling cepat dan mudah. Tidak repot mengurus kasus.

4 ini paling bagus, namun karena kurangnya bukti, kasusnya tidak akan pernah berujung.

Sepertinya kita semua tahu tentu saja mayoritas dari kepolisian memilih opsi 2-3, karena tanpa bukti, itu lebih mudah.

Itu dari kepolisian, bagaimana dengan Victim Blaming di publik?

Pertama-tama kita semua tahu bahwa kekerasan seksual yang tidak dikehendaki itu salah.

Yang kedua, bahwasanya kita tidak tahu kebenaran yang terjadi itu seperti apa. Tentu tidak semua orang menjadi saksi sebuah kekerasan seksual. Semua hasil akhir kasus kekerasan seksual didasarkan oleh asumsi yang diambil setelah penyelidikan dan kesaksian.

Ketiga, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak pernah ada yang menyukai predator seksual, tidak ada (kecuali sesama predator, itu lain cerita). Yang bisa dilakukan oleh publik adalah mengurangi risiko terjadinya hal tersebut. Banyak hal yang berisiko membuat terjadinya kekerasan seksual, beberapa diantaranya ada di dalam komik strip tersebut.

Pake baju jangan mahal-mahal…

Ini tentu saja menyindir ucapan orang tentang baju yang dinilai terlalu “menggoda”.

Di Indonesia, tradisinya kita, entah pria atau wanita, selalu memakai baju tertutup. Sehingga ketika ada pakaian terbuka sedikit saja, orang akan menganggap itu hal yang tidak biasa. Namun sekarang sudah jaman modern, orang Indonesia kan suka kebarat-baratan, pakai celana jins lah, pakai baju ngepres lah, celana pendekan lah. Untuk orang modern, hal ini biasa, dan mereka mampu menahan diri. Tapi untuk orang yang pikirannya lama? Itu hal tidak wajar. Sehingga wajar hal tersebut mengambil banyak perhatian. Mengambil banyak perhatian = meningkatkan risiko terjadi kekerasan seksual.

Lalu, sebenarnya saya yang paling tidak paham adalah, kenapa? Kenapa kalian menggunakan baju yang menunjukkan banyak bagian dari tubuh kalian? Tidak, saya tidak terima jawaban “terserah dia dong mau pakai baju apa”. Kalau begitu terserah predator seksualnya mau perkosa kalian bagaimana. Selain untuk “mencari perhatian”, saya tidak menemukan alasan lain.

“Tapi Wraith, tidak semua yang berbaju tertutup aman dari kekerasan seksual!”

Jika itu tergantung dari lingkungan yang sedang dilewati, yang nanti saya bahas.

Lu orang suka nyumbang uang kok marah?

Ini mungkin maksudnya “mengumbar aurat”, saya kurang dapat maksudnya. Tapi jika iya, sudah dibahas di atas tentang keterbukaan pakaian.

Gimana kalo kamu nikahin aja rampoknya? Ayah udah malu.

Pertama-tama, itu ayah nggak tahu diri. Mbak penulis, jika itu ayah Anda, saya turut berduka karena itu bukan sosok ayah. Ayah semestinya melindungi anaknya bukannya malah menganggap anaknya yang mengotori harga dirinya.

Kedua, tidak ada kaitannya pernikahan dengan perampokan. Saya paham ini sketch, tapi terlalu memaksakan tema ke dalam bahasan rampok. Kurang nyambung dengan ceritanya, nt. Saya paham dengan maksud panel itu.

Ketiga, kenapa banyak yang menyarankan untuk menikahi sang pelaku? Alasan yang paling jelas adalah berhubungan seksual di luar nikah itu tabu. Kita sudah lama berpegang teguh pada prinsip “menikah dulu baru ******” sehingga hal yang muncul pertama kali ketika ada hubungan seksual di luar nikah, yaitu menikahkan kedua orang itu. “Kamu pengen sama dia kan? Nikahin aja dia,” kasarannya seperti itu. Tapi orang Indonesia kan sekarang kebarat-baratan, mana terima soal menjaga pergaulan? 🙂

Kalau Anda dirampok dua kali, itu berarti Anda mau.

Kira-kira, kenapa muncul asumsi ini?

Karena berarti risikonya masih ada. Dan tidak jauh berkurang dari kejadian pertama. Kalau risiko masih tinggi, berarti apa yang bisa disimpulkan? Tidak ada usaha menghindari kejadian tersebut terjadi lagi. Sehingga dalam bahasa kasarnya itu “mau”.

Semua korban kekerasan seksual tentu mengalami trauma batin dan terluka secara emosional. Namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk tidak bertindak secara logis. Anda tidak akan membawa pulang apa-apa jika melaporkanke pihak berwajib dengan membawa sakit hati.

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko kejahatan seksual:

  • Bagaimana cara berpakaian dengan orang-orang sekitar, apakah dinilai wajar atau tidak
  • Bagaimana lingkungannya, apakah dikenal banyak predatornya atau tidak
  • Bagaimana persiapan sang bakal korban untuk kejahatan secara umum, misal bela diri, atau pepper spray
  • Bagaimana pemahaman bakal korban dengan lingkungan sekitar, tentang etika seorang wanita yang baik
  • Seberapa dikenal sang bakal korban di lingkungannya, semakin dikenal, orang di lingkungan itu cukup segan menggoda, dan
  • Bagaimana menyikapi sikap predator terhadap sang bakal korban.

Tidak ada yang menyukai pelaku kekerasan seksual, namun kita juga tidak tahu kapan predator akan menyerang kita. Sehingga alangkah baiknya melakukan pencegahan dengan mengurangi risiko-risiko.

Facebook Family Irony

They appraised me in every story.
Story about dinner with family.

Really, it is just easy cuisine.

But they didn’t stop to praise me proudly.

I think, why did everybody envy?.

It was just simply a picture of me and family circling in dining table.

Smiling, laughing, doing funny thing and comfortable.

Like the happiest human being.

Below I put a nice quote to represent a happy family.

I found the pic got many likes and reaction, mostly happy.

“Such a happy family.”

“Content family.”

“I am envy.”

They said.

The picture got darker and darker and eventually creating fantasy and mirage. That stereotypically represents a “happy family”.

Lies and irony fulfilled that picture entirely.

The truth was far from reality.

Ethereally escaped from dark honesty.

It was intended to.

Put a big lie to you.

So you’d see me as an ideal crew.

So you’d remember me as I grew.

I kept flew.

Because I knew someday they found out it wasn’t true.

At all.

Black ball keep rolling.

Exposing the truth.

I don’t like being two face bastard.

It just sounds retarded.

But they keep pushing me really hard.

To show them what I have mastered.

Only to show them the good of me.

Only to make them agree.

Only to make them feel great about our family.

Only to show them how big the illusion is.

Facebook happy family is a malady.

Outside we are content and happy.

Inside we have irony and tragedy.

If you’re not happy, don’t show that you’re happy.

Apa yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia?

“Kalau (x, y)-nya (0, 40), berarti tempatnya di grafik koordinat di mana?,” tanyaku.
“Ummm….,” muncul keheningan sejenak sembari ia berpikir keras.
“Kalian tahu ‘kan, posisi sebuah titik dalam koordinat?”
“Tahu, mas. Tapi bingung,” jawabnya dengan tulisan ‘excuses’ di dahinya.
Mereka sekarang berada di jenjang kelas 2 SMA, saiat yang bisa dibilang paling krusial untuk mengukir prestasi, nilai-nilai, dan yang terutama menggaet ilmu dengan baik agar dapat melanjutkan ke perkuliahan dengan mulus.
Lalu aku menjelaskan kembali bagaimana sistem koordinat kartesius bekerja kepada mereka.
Sistem grafik kartesius seharusmya sudah diajarkan saat SMP. Kenapa mereka lupa? Apa itu ilmu yang tidak penting, sedemikian sehingga dilupakan begitu saja? Tentu saja tidak, dalam sains, koordinat grafik adalah alat yang vital untuk mengomunikasikan perihal yang dipahami orang sains kepada orang awam.
Lalu apa yang membuat mereka lupa? Sosmed? Tidak, sosmed sebenarnya hanya sebuah sarana agar dapat bercakap-cakap dalam bentuk lain. Pada dasarnya orang yang sedang berada di sosmed adalah orang yang berbincang dengan orang di sisi lain.
Orangtua? Orangtua tidak bisa diposisikan sebagai guru, karena mereka tidak terkualifikasi untuk mengajar. Mungkin hanya support saja.
Lalu apa?
Guru?
‘Seriously, you gonna throw blamestone to them?’
Yes, I am throwing it to them, well, a few of it.
Why?
Well, from what I see, (and this is completely biased) banyak guru yang tidak menginginkan menjadi guru. Pemuda yang baru matang dari SMA lebih mengincar teknik, teknik, kedokteran, kedokteran, akuntansi, ekonomi, sangat jarang yang mengambil pendidikan sebagai incaran utama.
Kenapa mereka mengincar hal yang sama? Padahal menjadi guru adalah hal yang mulia, dan dapat membantu pendidikan Indonesia.
Jawabannya adalah karena mereka menginginkan masa depan yang lebih terjamin. Guru Indonesia terkesan bergaji rendah. Dokter, teknisi mesin, digaji lebih tinggi daripada guru. Maka jelas mereka lebih memilih dokter, teknik daripada pendidikan.
Lalu yang kedua adalah karena banyak yang memilih menjadi dokter/teknisi, dan orang-orang yang cerdas dan mampu untuk mengajar juga tergaet oleh keinginan gaji besar, sisanya berpencar ke jurusan yang bermacam-macam, termasuk pendidikan sedemikian sehingga jurusan pendidikan berisi orang-orang yang tidak pernah ingin berada di dunia pendidikan.
Yang ketiga, menapaki karir menjadi guru adalah hal yang sulit. Sebagai lulusan segar dari jurusan pendidikan, Anda akan dihadapkan ke ‘pencarian pengalaman’, pekerjaan yang memiliki gaji rendah, tetapi sulitnya bukan main. Saya sekolah di sekolah swasta, jadi saya tahu betapa sulitnya menjadi guru yang diperhatikan saat pelajaran. Angkatan saya pernah membuat seorang guru pindah karena terbully oleh angkatan saya. Akhirnya guru-guru yang mengajar berpikir, “Ah, saya digaji rendah untuk ini. Ya sudah, saya mengajar ala kadarnya saja.”
And they did.
Dan mereka membawa ‘pengalaman’ mereka ke karir selanjutnya. Pengalaman mereka adalah ‘Kalau tidak ada yang mendengarkan saya, saya mengajar seadanya saja,’ dimana hal ini merupakan salah satu faktor penghambat pendidikan di Indonesia.
I still have blamestones to throw, where should I throw it?
Mungkin ke isi kepala bangsa Indonesia ini.
Ya, saya menyadari bahwa bangsa ini memiliki cara pikir yang aneh.
Menurut saya sendiri, belajar memiliki tahapan sebagai berikut:
Membaca – mengingat – memahami – menerapkan. Tahap memahami adalah tahap paling krusial, dan yang paling sulit untuk dilakukan orang Indonesia, karena memahami membutuhkan daya pikir yang ekstrim dan kritis.
Di Indonesia, kita selalu diajarkan untuk mengingat, di mana merupakan hal yang wajar mengingat mengingat adalah salah satu tahap belajar. Akan tetapi, hal yang diajarkan kalau hanya diingat saja, pasti menguap dengan cepat. Butuh pemahaman agar bisa diingat dalam waktu yang cukup lama.
Kita menguji pemahaman murid dengan ujian dan ulangan, sehingga kita merasa bahwa jika lulus, berarti anaknya sudah paham.

No, it doesn’t tell you that. Ujian sekarang hanya menunjukkan murid itu mampu mengerjakan soal pada saat ujian saja, tidak secara berkepanjangan. Hal ini bisa dilihat di UN SMA tahun 2016. Soalnya kebanyakan merupakan soal terapan dalam dunia sains, konsep-konsep dasar sains, dan beberapa bahkan menggabungkan dua materi sekaligus menjadi sebuah alat yang benar-benar ada. Ketika saya membaca soalnya, saya langsung berpikir, “Ini soal yang bagus, tetapi lebih butuh mikir daripada soal biasanya. Karena soal-soal ini tidak seperti soal pada umumnya.” Dan seketika saja, ketika hasilnya keluar, rata-rata nilai UN turun.

https://m.detik.com/news/berita/3206228/nilai-rata-rata-un-sma-2016-turun-6-poin-dari-tahun-2015

Hal ini menunjukkan bahwa murid-murid di Indonesia memiliki kesulitan ketika diminta untuk berpikir kritis dan dalam.
Saya lanjutkan cerita tadi. Lalu bla bla bla saya melanjutkan mengajar seperti biasa hingga kita sampai di sebuah materi (saya lupa) yang membutuhkan pembagian desimal sederhana, seperti 0.2/0.4. Mereka sedikit kesulitan menjawab. Dan aku pikir, “Yah, mungkin mereka akan membuka coret-coretan lalu mengerjakannya dengan agak lama. Aku tak masalah, toh mereka baru belajar.” Lalu hal yang tidak terduga terjadi.

Sret! Salah satu dari mereka membuka smartphone. Dibukalah app Calculator™, diketikanlah pertanyaan itu dan boom, keluar jawabannya.

“Lho, kok pake hp?”

“Iya mas. Hehe.”

Kupikir mereka agak malas untuk menghitung. Lalu aku menutup (lock) handphone mereka, lalu aku mengulang pertanyaan yang sejenis, bukan persis.

Mereka tidak bisa.

Mereka berusaha berpikir selama 5 menit lebih pada satu hal yang mendasar, dan mereka menyerah.

Lalu berdecak sambil menggelengkan kepala, lalu melanjutkan mengajarkan mereka pembagian yang mendasar itu.

Saya merasa kurang sreg, karena mereka seharusnya sudah bukan waktunya untuk belajar hal itu lagi.

Beginilah budaya mencontek di Indonesia, membiasakan anak-anak untuk tidak berusaha sendiri, mengandalkan hal lain demi kenyamanan sendiri, mengakibatkan tingkat kecerdasan Indonesia menurun.

Akhir kata, saya tidak ingin Indonesia menjadi bangsa yang seperti ini. Memang kalau dipikir lagi Indonesia itu negara yang lucu. Anda beri buku, dibaca, lalu Anda beri soal, yang dia jawab akan sama persis dari buku itu. Kalau saya melihat, orang Indonesia itu memang bukan bidangnya untuk menalar sesuatu, tetapi Indonesia orang-orangnya berbasis sosial masyarakat. Orang cerdas cenderung individualistis, orang sosial cenderung berlaku tidak cerdas. Untuk menjadi manusia yang cerdas dan mampu bersosial, kita harus melewati dua fase tersebut, baik berawal dari sisi cerdas maupun berawal dari sisi sosial.