Permasalahan Kekerasan Seksual

Pagi-pagi, saya membuka timeline handphone seperti biasa, dan menemukan sebuah komik strip. Awalnya saya mengira ini adalah komik sketch biasa (maklum saya sering ngeluyur di bagian komedi). Namun ternyata ini adalah pesan tentang kekerasan seksual.

Semakin saya baca berulang-ulang, semakin saya tidak paham dengan komik strip ini, karena saya merasa banyak yang tidak pas dan cenderung menggeneralisasi perlakuan masyarakat awam.

Yang perlu saya tekankan di sini, TIDAK, saya tidak mendukung kekerasan seksual yang tidak dikehendaki.

“Logika Victim Blaming

Oh, bagus! Kita sudah memulai dengan yang klasik. Menyalahkan korban. Kekerasan seksual itu tanpa adanya bukti kuat, siapapun bisa jadi apapun. Ambil contoh seorang laki-laki dan seorang wanita. Wanita tersebut mengatakan sang pria melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya. Namun sang pria mengelak tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Sang wanita dan pria tidak punya bukti untuk mendukung pernyataannya, dan tidak ada saksi mata saat kejadian. Pihak kepolisian bisa mengambil beberapa pilihan:

  1. Menganggap pria itu salah dan dan membawanya ke pengadilan dengan hanya membawa pernyataan sang wanita, yang mana akan sulit untuk dimenangkan
  2. Membiarkan kasus ini berlalu karena kurangnya bukti yang mendukung
  3. Menganggap wanita tersebut salah lapor
  4. Melanjutkan penyelidikan ke pria tersebut untuk diproses lebih lanjut

1 bukan ide yang bagus, karena bahkan penerimaan laporan pun harus dengan bukti yang memadai.

2 dan 3 terlihat sebagai yang paling cepat dan mudah. Tidak repot mengurus kasus.

4 ini paling bagus, namun karena kurangnya bukti, kasusnya tidak akan pernah berujung.

Sepertinya kita semua tahu tentu saja mayoritas dari kepolisian memilih opsi 2-3, karena tanpa bukti, itu lebih mudah.

Itu dari kepolisian, bagaimana dengan Victim Blaming di publik?

Pertama-tama kita semua tahu bahwa kekerasan seksual yang tidak dikehendaki itu salah.

Yang kedua, bahwasanya kita tidak tahu kebenaran yang terjadi itu seperti apa. Tentu tidak semua orang menjadi saksi sebuah kekerasan seksual. Semua hasil akhir kasus kekerasan seksual didasarkan oleh asumsi yang diambil setelah penyelidikan dan kesaksian.

Ketiga, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak pernah ada yang menyukai predator seksual, tidak ada (kecuali sesama predator, itu lain cerita). Yang bisa dilakukan oleh publik adalah mengurangi risiko terjadinya hal tersebut. Banyak hal yang berisiko membuat terjadinya kekerasan seksual, beberapa diantaranya ada di dalam komik strip tersebut.

Pake baju jangan mahal-mahal…

Ini tentu saja menyindir ucapan orang tentang baju yang dinilai terlalu “menggoda”.

Di Indonesia, tradisinya kita, entah pria atau wanita, selalu memakai baju tertutup. Sehingga ketika ada pakaian terbuka sedikit saja, orang akan menganggap itu hal yang tidak biasa. Namun sekarang sudah jaman modern, orang Indonesia kan suka kebarat-baratan, pakai celana jins lah, pakai baju ngepres lah, celana pendekan lah. Untuk orang modern, hal ini biasa, dan mereka mampu menahan diri. Tapi untuk orang yang pikirannya lama? Itu hal tidak wajar. Sehingga wajar hal tersebut mengambil banyak perhatian. Mengambil banyak perhatian = meningkatkan risiko terjadi kekerasan seksual.

Lalu, sebenarnya saya yang paling tidak paham adalah, kenapa? Kenapa kalian menggunakan baju yang menunjukkan banyak bagian dari tubuh kalian? Tidak, saya tidak terima jawaban “terserah dia dong mau pakai baju apa”. Kalau begitu terserah predator seksualnya mau perkosa kalian bagaimana. Selain untuk “mencari perhatian”, saya tidak menemukan alasan lain.

“Tapi Wraith, tidak semua yang berbaju tertutup aman dari kekerasan seksual!”

Jika itu tergantung dari lingkungan yang sedang dilewati, yang nanti saya bahas.

Lu orang suka nyumbang uang kok marah?

Ini mungkin maksudnya “mengumbar aurat”, saya kurang dapat maksudnya. Tapi jika iya, sudah dibahas di atas tentang keterbukaan pakaian.

Gimana kalo kamu nikahin aja rampoknya? Ayah udah malu.

Pertama-tama, itu ayah nggak tahu diri. Mbak penulis, jika itu ayah Anda, saya turut berduka karena itu bukan sosok ayah. Ayah semestinya melindungi anaknya bukannya malah menganggap anaknya yang mengotori harga dirinya.

Kedua, tidak ada kaitannya pernikahan dengan perampokan. Saya paham ini sketch, tapi terlalu memaksakan tema ke dalam bahasan rampok. Kurang nyambung dengan ceritanya, nt. Saya paham dengan maksud panel itu.

Ketiga, kenapa banyak yang menyarankan untuk menikahi sang pelaku? Alasan yang paling jelas adalah berhubungan seksual di luar nikah itu tabu. Kita sudah lama berpegang teguh pada prinsip “menikah dulu baru ******” sehingga hal yang muncul pertama kali ketika ada hubungan seksual di luar nikah, yaitu menikahkan kedua orang itu. “Kamu pengen sama dia kan? Nikahin aja dia,” kasarannya seperti itu. Tapi orang Indonesia kan sekarang kebarat-baratan, mana terima soal menjaga pergaulan? 🙂

Kalau Anda dirampok dua kali, itu berarti Anda mau.

Kira-kira, kenapa muncul asumsi ini?

Karena berarti risikonya masih ada. Dan tidak jauh berkurang dari kejadian pertama. Kalau risiko masih tinggi, berarti apa yang bisa disimpulkan? Tidak ada usaha menghindari kejadian tersebut terjadi lagi. Sehingga dalam bahasa kasarnya itu “mau”.

Semua korban kekerasan seksual tentu mengalami trauma batin dan terluka secara emosional. Namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk tidak bertindak secara logis. Anda tidak akan membawa pulang apa-apa jika melaporkanke pihak berwajib dengan membawa sakit hati.

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko kejahatan seksual:

  • Bagaimana cara berpakaian dengan orang-orang sekitar, apakah dinilai wajar atau tidak
  • Bagaimana lingkungannya, apakah dikenal banyak predatornya atau tidak
  • Bagaimana persiapan sang bakal korban untuk kejahatan secara umum, misal bela diri, atau pepper spray
  • Bagaimana pemahaman bakal korban dengan lingkungan sekitar, tentang etika seorang wanita yang baik
  • Seberapa dikenal sang bakal korban di lingkungannya, semakin dikenal, orang di lingkungan itu cukup segan menggoda, dan
  • Bagaimana menyikapi sikap predator terhadap sang bakal korban.

Tidak ada yang menyukai pelaku kekerasan seksual, namun kita juga tidak tahu kapan predator akan menyerang kita. Sehingga alangkah baiknya melakukan pencegahan dengan mengurangi risiko-risiko.

Advertisements