Kebencian terhadap ospek

Kenapa saya sangat membenci ospek dan cabang-cabangnya?

Saya saat TK, SD, dan SMP selalu bersekolah di sekolah islam swasta. Hal-hal yang berbau ospek sangatlah tidak terasa, bahkan tidak ada. Dan pada saat itu, saya seperti, “oh MOS, baiklah. Mungkin memperkenalkan sekolah dan isi-isinya.” Dan memang pada kenyataannya itulah yang terjadi. Lalu setelah lulus SMP, saya mencoba untuk masuk ke sekolah negeri. Sekolah negeri yang saya pilih ini tergolong unggulan, bukan sembarang sekolah. Di sanalah, saya diperkenalkan dengan ospek.

Saya yang waktu itu masih sangat polos dan tidak tahu akan bagaimana jalannya ospek di sekolah negeri, tidak terlintas setitik pikiran pun mengenai “kejam”nya ospek. Ospek berjalan selama 3 hari (yang terjadwal) dan terdapat pra-ospek, di mana saya diberi tugas menumpuk dan hanya diberi waktu sekitar 2-3 hari untuk mengerjakan. Saya pikir, “okelah, tugas. Mungkin untuk memberi pemahaman atau semacamnya.”

Lalu di hari pertama ospek. Saya dan teman seangkatan dibariskan di daerah depan sekolah, dengan membawa tas berisi tugas dan name tag yang telah ditugaskan. Lalu kami digiring menuju kelas-kelas, terpisah, tergantung kelompok yang sudah dibagi saat pra-ospek. Di kelas ini saya berkenalan dengan kakak kelas yang kebaikannya yang saya akan selalu ingat hingga yaumul jaza’. Sebut saja Mas Ahmad dan Mbak N. Di beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa mereka berdualah yang bertugas sebagai “psikiater” kita setelah shock.

Lalu setelah itu saya tidak mengingat urutannya tetapi kira-kira berjalan seperti ini:
– Masuk kelas
– Pengakuan dosa
– Materi
– Penugasan
– Pulang

Pengakuan dosa. Apa maksudnya? Setiap pagi akan ada komisi disiplin, yang bertugas menagih tugas-tugas yang telah diberikan di hari sebelumnya. Tetapi, cara menagih mereka…tidak biasa. Mereka awalnya akan membuat hawa kehadiran mereka menjadi tegang. Tense. Lalu mereka akan bertanya, “Kemarin kalian sudah kami beri tugas. Silahkan dikumpulkan.” Dikeluarkanlah barang penugasan. Lalu, beberapa saat kemudian mereka berkata, “Yang merasa melakukan pelanggaran, silahkan maju ke depan.” Di sini ketegangannya semakin terasa. Komisi disiplin akan melihat siapa yang maju, dan menanyakan satu persatu siapa yang tidak maju. Mereka yang tidak maju akan didebat masalah tugasnya, dengan kata, “Yakin, dek?” Terkadang kalimat itu akan membuat kita berpikir dua kali untuk mengiyakan kata-kata kita. Tekanan ditambah dengan beberapa komisi disiplin yang menambahi dengan kata-kata, “Ayo, dek. Maju aja kalo memang salah. Kita tahu lho.” That is absolutely insane, alright? Kami tidak tahu, belum bisa tahu, dan kondisi seperti apa yang membuat kami terhitung melakukan pelanggaran dalam penugasan. Walhasil, beberapa dari kami yang lemah mental, dan perasaan teraduk-aduk secara satu persatu maju dengan pikiran “melakukan pelanggaran sekecil mungkin, walaupun tidak spesifik ditugaskan. Mencari-cari kesalahan sendiri.” Dan di depan kami malah ditanyai,”kesalahanmu apa?”
Hipokrit sekali, bukan?

Setelah itu materi. Kami dipisah menjadi kelompok kecil 2-3 orang untuk mendapatkan materi. Ada 4 hal yang disampaikan, saya tidak bisa menyebutkannya karena selain saya lupa, saya juga tidak ingin memberitahu instansi ini. Dan itu kita harus hafal, karena setelah itu kami dibariskan dan ditanyai mengenai materi tersebut. Saya menjawab dengan gelagapan, dengan rasa takut dan salah yang menghantui saya. Lalu kami diberi materi, dua buah “nyanyian” yang sudah turun temurun dihafalkan berbagai angkatan, yang baru saya ketahui setelah menjadi kakak kelas. Nyanyian ini tidak memiliki nada yang catchy, terdengar tegas dan tidak berperasaan. Dan juga, kami diberi sebuah koreografi yang harus dilakukan sambil menyanyikan lagu tersebut. Dan kami diminta menghafalkannya dengan cepat. Kalau tidak, kami bakal diceramahi dengan ketus. Seketus mungkin. Lalu bla bla bla beberapa waktu kemudian kami dikembalikan ke ruangan masing-masing, untuk diberi tugas, individu dan kelompok, lalu pulang. Dengan beban sebegitu rupa.
Hal itu seperti terjadi selama 3 hari ospek berturut-turut.

Dengan materi yang disampaikan berbeda-beda. Setiap setelah materi, kami selalu “ditenangkan” oleh kakak kelas yang berada di luar lingkaran kakak kelas yg sebelumnya.

Bagaimana penenangan ini?

Kita diajak cerita diapakan saja, lalu kita diarahkan untuk menaruh percaya pada mereka dan kakak kelas yang lain yang mengatur tentang seluruh ospek yang sedang berjalan. Dengan mental yang sudah bobrok, kita nggak bisa menolak itu.

Tiga hari berjalan, sangat terasa lamanya. Lalu selesai begitu saja, kita keesokan harinya sekolah seperti biasa. Saya merasa, “ah selesai juga akhirnya aku bisa sekolah seperti biasa,” dengan sedikit rasa khawatir. Ternyata hari yang kukhawatirkan muncul. Ada pengumuman bahwa sabtu, seminggu setelah hari ketiga berakhir, ada kegiatan pasca ospek.  Dadaku berdegup keras. Di sinilah puncaknya ospek.

Sebelum mulai, perlu diketahui karena kesalnya kami dengan kakak kelas yang ada di ospek, kami berlagak seperti mereka, menirukan gaya bicara mereka, dan mengejek-ejek mereka. Hal ini seharusnya lumrah, mengingat mental kami ditendang-tendang selama 3 hari oleh mereka.

Cerita berlanjut, puncak ospek. Kami dibariskan di lapangan, lalu mereka menyebutkan kesalahan-kesalahan kami yang kami lakukan selama seminggu tanpa ospek, seperti menirukan gaya bicara mereka, dan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya. Tapi mereka lebih keras dari ospek sebelumnya. Mereka menantang kami untuk berbicara, dengan banyak sekali kakak kelas yang melingkari kami membantu menimpali kakak kelas yang menantang itu. Bersamaan dengan itu, beberapa dari mereka berjalan cepat di sela-sela barisan kami, sambil beradu pundak dengan kami. Lalu setelah sekitar beberapa jam, lalu kami diminta duduk, lalu menunduk, lalu memejamkan mata. Kami diberi narasi tentang alasan mereka mengapa seperti itu. Kita dibuat menangis sebegitu rupa. Diam-diam lalu mereka memberi kami sebuah suvenir tanda bahwa kami adalah bagian dari mereka. Bagian dari sekolah. Bagian dari warga sekolah. Itu saja. 3 hari ditambah 1 hari untuk sebuah suvenir. Setelah kejadian itu, saya merasa lega. Bukan lega karena saya akhirnya menjadi bagian dari sebuah kelompok, tetapi lega karena semuanya telah berakhir. Tidak akan ada lagi hal seperti ini. Semua akan berjalan lancar. Mental saya masih berbentuk bubur, masih hancur.
Lalu apa yang membuat saya benci dengan ospek, pengaderan, dan semacamnya, meskipun saya baru hanya melakukannya sekali?

Pertama, pada dasarnya ospek itu berjalan dengan cara seperti ini:

Anda punya mental, berbagai macam ukuran, bentuk, dan kekuatan yang Anda bangun sebelum Anda mengikuti ospek, pengaderan, dan sebagainya. Di ospek, mereka menendang mental itu lalu menghancurkannya agar semua menjadi rata. Lalu diakhir ospek, mental Anda disemen ulang menjadi bentuk yang kuat, baru, dan rata dengan semua pihak yang mengikuti ospek. Nah, saya mentalnya hancur, tetapi tidak disemen. Selama tiga tahun SMA saya meraba-raba jati diri saya, membangun mental saya dengan mengais limbah kayu ‘pelajaran hidup’ dan mengaitkannya dengan paku ‘percobaan’, yang berkali-kali gagal. Saya tidak punya teman, karena saya tidak pandai bicara setelah mental saya hancur.

Andai kata saya diminta mengikuti ospek kembali, saya akan menolak dengan cara apapun, tetapi dimulai dengan cara yang halus. Sifat saya yang ada saat ini, tidak pernah dibentuk karena ospek, dan saya tidak akan pernah bersyukur atas hal itu. Sikap saya terhadap ospek muncul karena ospek itu sendiri. Mungkin beberapa dari Anda berpikir, “Anda tidak mendapatkan makna sesungguhnya dari pengaderan bla bla bla,” saya tidak akan menerimanya kalau argumen Anda tidak dapat meyakinkan saya. Saya telah menjalani, saya tahu apa yang terjadi di belakang, dan saya dapat menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah tradisi yang mengecewakan, yang mau tidak mau harus diikuti.
Untuk mengakhiri cerita ini, saya akan mengatakan hal ini:

Hanya ada 3 jenis orang yang akan muncul setelah ospek dilakukan.

Pertama orang yang benar-benar jadi pemimpin, jadi orang yg bersyukur atas terjadinya ospek.

Kedua, orang yang bebal, cuek, yang tidak peduli mau ada ospek atau tidak, ada makna atau tidak, yang tidak merasa ada masalah dengan apa yang terjadi di ospek. Ketiga, orang yang hasil ospeknya gagal. Orang yang mentalnya hancur tanpa ada orang yang tahu dan bertanggung jawab. Contohnya saya.
Panjang? If you don’t bother to read it, then press alt+F4, then go to fucking real life and do something productive.

Advertisements

3 thoughts on “Kebencian terhadap ospek

  1. halo kawan!
    tulisan ini bagus sekali, saya terkagum-kagum membacanya. alurnya mengalir, bahasanya mudah dipahami, dan sudut pandangnya berbeda 180° dari yang selama ini saya yakini. pasti anda menuliskannya dari hati, ya? saya salut pada kebijakan anda untuk tidak membawa-bawa nama instansi manapun, baik di tulisan ini, maupun yang terbaru. memang, kalau dipikir-pikir, lingkaran ketidaktahuan yang berulang-ulang itu bukan salah instansinya, kok. mungkin, itu semata-mata garapan orang-orang tipe pertama yang kurang kerjaan. hehehe.

    meski begitu, kalau boleh saya berpendapat, saya tidak sepenuhnya setuju pada apa yang anda paparkan. jujur, saya sempat jadi korban pencinta nilai keempat dengan butanya, hingga saya mulai mempertanyakan keabsahan doktrinase yang secara intens diberikan tersebut. namun, sama halnya seperti ketika saya membaca tulisan ini, saya yakin anda juga perlu melihat “tragedi” ini dari sudut pandang yang berbeda pula. sistem warisan itu memang sudah kuno, tapi tidak sepenuhnya salah, kok. focus on the positive side.

    satu hal yang saya rasa patut kita syukuri bersama adalah kepedulian anda untuk mengkritik sistem yang ada. saya salut, dan ikut lega karena akhirnya anda bisa bercerita. bukannya kejadiannya sudah lebih dari dua tahun yang lalu, ya? cukup lama juga untuk memendamnya. saya harap anda selalu dalam lindungan-Nya, dan segera menemukan jati diri anda.

    saya turut prihatin atas dampak yang diberikan kegiatan tersebut pada apa yang anda rasakan sekarang. namun, saya percaya bahwa anda adalah sosok yang amat kuat, yang tidak mudah hancur seperti semangkuk tauwa. bilapun anda terlanjur koyak, tak pernah mustahil untuk kembali kuat. dunia bukan memaklumi kita sobat, kita yang menaklukkan dunia.

    ps : saya tinggalkan alamat surel siapa tahu anda mencari kemana harus meminta pertanggungjawaban. sehat selalu!

    Like

    1. Pertama-tama, terima kasih. Saya bahkan tidak tahu ternyata ada yang membaca ini. Haha.
      Kedua, ya, saya sekarang bisa dibilang lebih kuat dari diri saya beberapa tahun lalu. Dan itu bisa dilihat dari keberanian saya menulis artikel ini, dan menunjukkan seberapa bencinya saya dengan hal itu.
      Tetapi saya bukan menjadi ‘kuat’ secara mental karena ospek tersebut. Saya menjadi kuat karena rentetan kejadian di SMA yang membuat saya terpuruk hingga awal kelas tiga.
      Apakah saya sudah menulis tentang berapa banyak teman saya saat SMA kelas 1? Secara kasar, 8. 5 berasal dari SMP saya, 1 adalah teman sebangku saya, 1 lagi adalah teman yang bertahan sampai sekarang, (kita berkuliah di universitas yang sama) dan 1 lagi berada beda kelas yang suatu saat di kelas 3 kita kres karena alasan yang absurd.
      Then how the heck did I manage to be strong than before?
      Yah, kalau Anda menjadi seorang yang berada di kelas yang sama dengan saya, Anda akan melihat saya sebagai “orang aneh yang kemana-mana sendiri.”
      Saya sebelum menemukan teman yg bisa saya ajak bicara, saya kemana-mana sendiri. Saya tidak berani mengajak teman saya untuk ke kantin, masjid, bahkan sekedar ke kamar mandi. Tetapi yg membuat saya kuat bukan itu. Melainkan saya belajar untuk bertahan dari social judgement (selanjutnya S.J.) yang saya dapat bertubi-tubi. S.J. ini bersifat mempermalukan, tetapi secara tidak langsung. Anda dibicarakan banyak orang, dan menganggap Anda memiliki sebuah watak atau sikap yang mereka bicarakan, based on their judgement.
      Dan saya sendiri baru tahu ketika setelah terima rapor, orangtua saya bicara dengan wali kelas saya, lalu orang tua saya memberitahu saya.
      “Nak, kamu dikira anaknya keluarga nggak mampu.”
      Ya, memang selain saya malas mengurus penampilan diri saya, saya juga minder terhadap yang lain.
      Penempaan diri saya yang sesungguhnya terjadi selama 2 tahun lebih sedikit. Menjadi orang seperti sekarang.
      Saya tidak bisa bilang saya sudah kuat, kalau dibandingkan dengan semen, saya mungkin adalah kobalt.
      S.J. adalah pembentuk karakter terburuk. Meminderkan orang, sehingga pembentukan karakter berlangsung sangat pelan dan menyakitkan secara mental.
      Usahakan Anda tidak menggunakan hal ini terhadap orang lain. Ini adalah perbuatan orang yang tidak berpendidikan, hanya bisa membicarakan kejelekan orang. Kalau ingin tahu, langsunglah bicara dengan orang yang bersangkutan. Saya yakin dia akan memberi simpati dan sebuah tanda yang menunjukkan perilaku dia yang sesungguhnya.

      Like

      1. benar, kawan. saya setuju sepenuhnya bahwa masyarakat mudah sekali mengutarakan pendapat bahkan tanpa diminta. kalau soal mengomentari orang lain, wah, luar biasa. kalau dunia sudah begitu, angkat saja dagumu lalu bilang : “siapa?” lanjutkan dengan : “yang tanya.” melet sedikit juga nggakpapa. untuk garnish.

        nggak banyak yang mau saya sampaikan. saya cuma mau sharing pendapat saja. insya Allah bukan SJ kok, hehe.

        menurut saya, pengaderan, dalam konteks yang kita bicarakan ini adalah ospek, bukan sebuah dojo yang ditujukan untuk melahirkan juara-juara berkat latihan dan kerja keras. dia adalah… ruangan sauna. yang memaksa kita bertransformasi menjadi bentuk terbaik dari diri kita. memang, nggak sedikit konten dalam pengaderan konvensional yang malah memangkas kreativitas (bahkan jati diri) orang-orang di dalamnya. sayangnya, seringkali kesadaran akan praktik pemangkasan ini tidak dibarengi dengan hadirnya solusi yang tepat. ide untuk membuat kurikulum yang baru yang bisa digunakan untuk tetap memberikan “guidance” dalam waktu yang singkat dan segala macam pertimbangan lainnya, tanpa adanya cara-cara konvensional, masih semu. sedangkan, untuk menghapuskannya sama sekali menurut saya bukan tindakan yang bijaksana juga, mengingat tujuan dan manfaat yang diberikan oleh kegiatan tersebut. saya rasa, ini adalah tugas bagi kita semua untuk sama-sama mengevaluasi jalannya ospek, dan turut menyumbang satu atau dua ide mungkin, untuk mewujudkan ospek yang berdedikasi demi generasi yang mampu menopang kejayaan negeri ini nantinya.

        karena pengaderan, terlepas dari segala pro dan kontra di dalamnya, adalah sebuah urgensi, kawan. menilik kembali jaman-jaman ketika tanah yang kita pijak saat ini merupakan tanah yang berjaya, namun harus terpecah belah setelah kepergian maha patih gajah mada yang tiada penerusnya.

        saya tidak sedang membicarakan anda dengan siapa-siapa, kalau saya tidak salah tangkap maksud anda. saya nggak ada ide sama sekali anda siapa, padahal mungkin kita berasal dari instansi yang sama. mungkin saya terlampau apatis untuk mengenali teman seangkatan saya, ya? saya mohon maaf atas kealpaan ini.

        saya harap anda terus menulis. tulisan anda brilian. sedikit saran, gunakan kemampuan menulis anda untuk sesekali menyorot keindahan karunia yang telah Dia berikan juga.

        delapan bukan angka yang banyak, tapi jauh lebih baik daripada berlimpah namun tak pernah benar-benar berteman. saya yakin anda paham apa yang saya maksudkan.

        saya bisa sampai di sini karena tergelitik respons anda terhadap topik yang tengah kita bicarakan, ospek. saya mohon maaf bila ada salah kata. semoga diskusi ini dapat bermanfaat bagi kita semua termasuk diri saya. terima kasih^^

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s