Viralnya Sebuah Kiriman

​”Saya nemu orang seperti ini…”

*screenshot chat*

“Lah orang ini kenapa?”
*screenshot chat*

Tentu saja kita semua pernah menemui hal seperti itu di timeline sosial media kesayangan kita, di mana kita setiap hari dicecar informasi berita terkini hingga kabar sahabat kita.

Sebuah kiriman seseorang yang tidak Anda kenal suatu kali muncul di timeline Anda. Anda membacanya tentang seksama, ternyata sebuah curhat orang yang merasa dipermalukan derajatnya setelah chatting dengan seorang yang mesum. Disediakan cerita dengan beberapa gambar screenshot chatting lengkap beserta profil sosial medianya, yang kebetulan sedang mengenakan kopiah. Anda melihat banyak akun lain berinteraksi dengan kiriman itu. Ada yang hanya sekedar menyukai, bereaksi sedih, membagikannya, hingga komentar pedas tentang sang tersangka. Anda melihat beberapa komentar teratas seperti:
“Ah semua laki-laki sama saja!”
“ini gambaran muslim di Indonesia,,,”
dan hal-hal sejenisnya.

Atau sebuah kiriman orang lain lagi, yang tidak Anda kenal. Isinya tentang video kekerasan dua orang Amerika yang mabuk. Lengkap dengan tulisan sang pengirim,
“Astaghfirullah, begini jadinya jika mabuk-mabukan..”
Lalu Anda melihat di kolom komentar,
“Dasar Amerika… kebiasaan..”
“Makanya segala jenis khamr itu diharamkan…”

Apa yang bisa kita ambil hikmahnya?

Semua kiriman yang kita sering interaksi, diolah oleh sosial media, sedemikian sehingga semua kiriman yang muncul di timeline sesuai dengan apa yang kita harapkan untuk lihat. Dengan asumsi kita manusia normal dengan opini cerdas, itu hal yang bagus.
Bagaimana dengan orang yang punya opini lain, yang jelas-jelas opininya dipenuhi dengan kesalahan cara berpikir? Dia akan hanya melihat kiriman yang satu opini dengan dia. Dunia ini luas, sehingga pasti paling tidak ada satu komunitas dengan opini yang sejenis dengannya. Sehingga dia akan menganggap bahwa seluruh dunia mendukung pendapatnya. Ada opini berbeda langsung dilawan karena opini dia benar.
Lalu apa hubungannya dengan cerita di atas?
Manusia tidak akan ada yang berhenti menghakimi. ‘Don’t judge a book by its cover’ tapi akhirnya kita menilai sebuah buku dari apa yang berada di sampulnya, karena itu lebih ringkas dan cepat.
Karena kiriman-kiriman seperti itu dan interaksi kita terhadapnya, kita jadi menghakimi orang lebih keras karena opini-opini tersebut. Hal ini berujung pada perspektif miring, penolakan kebenaran, dan generalisasi, yang mana berpengaruh pada stabilitas masyarakat.
Misalnya, Anda sering melihat kiriman tentang stereotip orang muslim rasis dengan etnis Cina. Anda sering berinteraksi dengan kiriman semacam itu, sehingga sosial media Anda memberi lebih banyak kiriman tentang hal itu, dan semakin meyakinkan Anda bahwa orang muslim itu rasis dengan etnis Cina. Sehingga ketika Anda berhadapan dengan orang muslim, Anda langsung memiliki opini acuan bahwa orang muslim itu rasis.
Dan sesungguhnya konflik antar masyarakat dimulai dari hal sekecil ini.
Semua yang terjadi di sekitar Anda, seperti kasus Ahok, kesalahpahaman Sari Roti, rasisme terhadap etnis Cina, kasus Setya Novanto, balada Anies-Sandi, hingga kinerja Presiden Jokowi, merupakan hasil dari algoritma sosial media Anda dan opini miring masyarakat.

Setelah membaca ini, saya harap Anda semua paham untuk berhenti menghakimi seenaknya, dan mengurangi berinteraksi dengan kiriman yang berisi kritikan pedas yang tidak punya ujung.

Advertisements

​> baca berita kompas di pejnya

> sering liatin komen buat liat reaksi orang soal berita tertentu

> terkadang ada yang ngelucu, ada yang bertanya, dsb dsb

> menemukan sedikit pola yang sama di beberapa berita

> di berita yang judulnya memiliki string “anies” atau “sandiaga”, selalu mempunyai jumlah tanggapan yang fantastis dibanding dengan berita lain, kebanyakan 1k~3k

> top commentnya merujuk pada satu hal yang sama: kritik yang merendahkan

> apapun yang dibahas, ditunjuk kesalahannya ditambah dengan insult yang tidak perlu seperti “mikir lah” atau “bikin kebijakan nggak pake otak”

> tentu aku sendiri ga punya masalah sama orang yang kritik

> masalah sebenarnya itu orang-orang entah kenapa lebih setuju dengan kritik dangkal dan hinaan ketimbang kritik membangun dan saran

> kalau begitu, sesungguhnya nggak maju-majunya bangsa ini bukan hanya salah dari kebijakan remeh pemerintahnya, namun sikap masyarakat terhadap kebijakan tersebut