Selamat! Anda Berhasil Mempermalukan Orang yang Bersalah secara Daring. Lalu apa?

51486691_2263265557041022_6467540562395267072_o
“Yang bersangkutan, foto dan nama tidak saya cantumkan demi nama baik yang bersangkutan”

Anda duduk manis di depan laptop Anda, atau berbaring dengan memegang handphone Anda. Lalu Anda membaca sebuah post pendek, namun berisi caption yang dimulai huruf kapital.

TOLONG UNTUK SEMUA HRD SEMOGA GAK AKAN PERNAH TERIMA ORANG INI DIPERUSAHAANYA!

baru kali ini coy ngerasa patah hati luar biasa yang biasanya gue segitu bodoamatnya tentang semua kasus didunia ini, tapi ngikutin kegoblokan si brengsek ini dari awal sampe skrng bener-bener gak habis pikir tuhan bisa ngasih dia nyawa dan biarin dia untuk tetap hidup. kalo kampus gak bisa hukum dia, biar sosial yang hukum dia sampe balesan apa yang dia buat seimbang!

Dengan foto LinkedIn, tepat seperti gambar paling atas di tulisan ini. Ratusan orang “berkerumun” di post itu, ramai membicarakannya, mulai mendukung, bertanya karena sekedar penasaran, atau bahkan sampai merencanakan apa hukuman selanjutnya bagi orang yang tertera di atas.

Ini kasus apa sih sebenernya?

Singkatnya, terjadi pelecehan seksual di tahun 2017 saat Kuliah Kerja Nyata UGM, namun baru terungkap tahun 2018 kemarin. Para wanita dunia maya dengan sigap membela sang korban, dengan membantu “melecehkan balik” sang tersangka dengan cara berulang-ulang memberikan segala macam hal yang menyebarluaskan pribadi tersangka, seperti segala macam sosial medianya diteror, semua foto pribadinya disebarluaskan, memberi julukan “PEMERKOSA” mendampingi fotonya. Salah satunya adalah LinkedIn yang diumbar. Satu demi satu teror dikirimkan, bahkan sampai nama seluruh anggota keluarganya dibocorkan ke publik untuk (memungkinkan) mendapatkan hal yang serupa ; malu.

Apa yang terjadi?

Yang terjadi di sini adalah public humiliation.

Public humiliation adalah sebuah bentuk hukuman yang mempermalukan, mencelakan seseorang, biasanya pelaku kejahatan atau narapidana, di tempat publik. Penghinaan publik umumnya digunakan sebagai bentuk sanksi secara yudisial dan masih diterapkan dengan cara yang berbeda di era modern. Wiki

Apakah apa yang terjadi di sini bisa termasuk public humiliation?

Jika kita lihat definisi humiliation dari jurnal Journal of the American Academy of Psychiatry and the Law Online yang dirilis tahun 2010, definisinya adalah:

… an individual suffers humiliation when he makes a bid or claim to a certain social status, has this bid or claim fail publicly, and has it fail at the hands of another person or persons who have the status necessary to reject the claim. Finally, what is denied is not only the status claim itself, but also and more fundamentally the individual’s very status to have made such a claim at all.

Yang, bagi yang malas menerjemahkan ke bahasa Inggris, intinya adalah ketika seseorang membuat klaim atas status sosial tertentu, lalu gagal mendapatkan / mempertahankan klaim ini secara publik, dan gagal di tangan orang yang punya status sosial yang diperlukan untuk menolak klaim tersebut.

Apakah sang tersangka membuat klaim atas status sosial tertentu? Ya, status sosial dia adalah ‘bukan pemerkosa’ atau ‘mahasiswa biasa’. Apakah dia gagal mempertahankan klaim ini? Ya, dia menodai namanya sendiri dengan melakukan pelecehan seksual. Apakah dia berhadapan dengan orang lain yang punya status sosial yang berhak menolak klaim tersebut? Oh tentu, dia melawan ribuan wanita daring seluruh Indonesia yang “punya hak” untuk menolak klaim tersebut karena kelakuan senonoh sang tersangka sendiri.

Jadi dengan alasan di atas, kita bisa simpulkan bahwa terjadi humiliation kepada tersangka. Public humiliation? Benar, karena sang tersangka membuat kesalahan dan bisa dilihat sebagai sebuah bentuk hukuman seperti definisi awal yang telah dibahas.

Namun berbeda dengan public humiliation yang terjadi pada zaman dahulu, di mana pelaku dipasung dan dipajang di depan publik, tersangka tidak dipasung, namun berada di “publik” berupa internet dan memiliki beberapa titik sasaran untuk humiliation ini, seperti sosial media dan nomor handphone nya.

Tapi apakah ini benar-benar dibutuhkan untuk benar-benar menghukum dia? Apakah tindakan ini adalah sesuatu yang worth untuk dilakukan sedemikian sehingga dapat menghukum tersangka?

Pada akhirnya kasus ini berujung damai setelah korban dan tersangka dipertemukan. Kedua mahasiswa tersebut juga diberi konseling rutin agar bisa menjaga hubungan dengan baik. Bahkan korban diberi santunan uang pendidikan yang bisa dibilang cukup banyak karena melunasi uang kuliah dan biaya hidup hingga kelulusannya.

Anda telah ikut andil menghukum dia dengan mempermalukan dia di tengah warga internet. Selamat! Lalu apa? Apakah yang Anda lakukan akan benar-benar membawa hal baik untuknya? Apakah dia sangat pantas menerima hujatan dengan volume besar dari seluruh Indonesia?

Dalam jurnal yang sama dengan yang disebutkan di atas, disebutkan bahwa humiliation yang terjadi kepada seorang individu akan membuat individu tersebut mengalami depresi major, kondisi suisidal, dan kondisi kecemasan berat, termasuk ciri-ciri dari posttraumatic stress disorder. Cross Reference

Apalagi yang terjadi kepada tersangka ini termasuk online humiliation yang merupakan berita buruk jika tersangka aktif menggunakan internet. Jennifer Jacquet, seorang asisten professor studi lingkungan di New York University, menuliskan di bukunya,

“The speed at which information can travel, the frequency of anonymous shaming, the size of the audience it can reach, and the permanence of the information separate digital shaming from shaming of the past.”

Dengan budaya ketidaksopanan semakin meningkat, digabungkan dengan orang yang sensitif dan sangat passionate dengan kepercayaannya, mereka menggunakan perilaku pelecehan (non-seksual) dan bullying dan melabelinya sebagai aktivisme. Dalam kasus ini, wanita daring berani membully dan melecehkan pria sampai mau menutupi jalur karir sang pelaku hanya karena “dia pantas mendapatkannya” dan mereka “membela kebenaran”.

Kalo sudah sampe perang digital, pesan yang kalian para polisi moral tebarkan hanya akan jadi debu dan kaya semut-semut di televisi ketika tidak ada sinyal. Kalian tidak merubah apa-apa. Tidak ada pemenang di akhir perang ini, yang ada kalian hanya membully dan melecehkan orang habis-habisan dengan alasan, “lu udah salah masih ngelak aja kontol”.

Kesimpulannya : nggak, cuk. Nggak ada benarnya yang kamu lakukan itu. Kalian framing dia sebagai penjahat seumur hidup sedangkan masalahnya sudah selesai? Apa yang kalian bela sekarang selain ego kalian sendiri? Gratifikasi instan yang kalian dapatkan untuk melecehkan seseorang kalian percayai sebagai aktivisme? Kalian itu punya kekuatan yang besar, pakailah dengan tanggung jawab. Kalau berhasil menghancurkan masa depan satu orang, apakah kalian bangga dengan itu? Apa bedanya dengan dia? Membunuh pembunuh sama dengan impas? Lalu apa lagi, bayar polisi biar lolos kasus suap? Apakah kalian masih bisa menjustifikasi aksi “aktivisme” kalian? Masa kalian butuh seribu kata dari anonim di internet?

Bacaan sumber

Advertisements