​> baca berita kompas di pejnya

> sering liatin komen buat liat reaksi orang soal berita tertentu

> terkadang ada yang ngelucu, ada yang bertanya, dsb dsb

> menemukan sedikit pola yang sama di beberapa berita

> di berita yang judulnya memiliki string “anies” atau “sandiaga”, selalu mempunyai jumlah tanggapan yang fantastis dibanding dengan berita lain, kebanyakan 1k~3k

> top commentnya merujuk pada satu hal yang sama: kritik yang merendahkan

> apapun yang dibahas, ditunjuk kesalahannya ditambah dengan insult yang tidak perlu seperti “mikir lah” atau “bikin kebijakan nggak pake otak”

> tentu aku sendiri ga punya masalah sama orang yang kritik

> masalah sebenarnya itu orang-orang entah kenapa lebih setuju dengan kritik dangkal dan hinaan ketimbang kritik membangun dan saran

> kalau begitu, sesungguhnya nggak maju-majunya bangsa ini bukan hanya salah dari kebijakan remeh pemerintahnya, namun sikap masyarakat terhadap kebijakan tersebut

Advertisements

Permasalahan Kekerasan Seksual

Pagi-pagi, saya membuka timeline handphone seperti biasa, dan menemukan sebuah komik strip. Awalnya saya mengira ini adalah komik sketch biasa (maklum saya sering ngeluyur di bagian komedi). Namun ternyata ini adalah pesan tentang kekerasan seksual.

Semakin saya baca berulang-ulang, semakin saya tidak paham dengan komik strip ini, karena saya merasa banyak yang tidak pas dan cenderung menggeneralisasi perlakuan masyarakat awam.

Yang perlu saya tekankan di sini, TIDAK, saya tidak mendukung kekerasan seksual yang tidak dikehendaki.

“Logika Victim Blaming

Oh, bagus! Kita sudah memulai dengan yang klasik. Menyalahkan korban. Kekerasan seksual itu tanpa adanya bukti kuat, siapapun bisa jadi apapun. Ambil contoh seorang laki-laki dan seorang wanita. Wanita tersebut mengatakan sang pria melakukan kekerasan seksual terhadap dirinya. Namun sang pria mengelak tidak melakukan apa-apa selain berbicara. Sang wanita dan pria tidak punya bukti untuk mendukung pernyataannya, dan tidak ada saksi mata saat kejadian. Pihak kepolisian bisa mengambil beberapa pilihan:

  1. Menganggap pria itu salah dan dan membawanya ke pengadilan dengan hanya membawa pernyataan sang wanita, yang mana akan sulit untuk dimenangkan
  2. Membiarkan kasus ini berlalu karena kurangnya bukti yang mendukung
  3. Menganggap wanita tersebut salah lapor
  4. Melanjutkan penyelidikan ke pria tersebut untuk diproses lebih lanjut

1 bukan ide yang bagus, karena bahkan penerimaan laporan pun harus dengan bukti yang memadai.

2 dan 3 terlihat sebagai yang paling cepat dan mudah. Tidak repot mengurus kasus.

4 ini paling bagus, namun karena kurangnya bukti, kasusnya tidak akan pernah berujung.

Sepertinya kita semua tahu tentu saja mayoritas dari kepolisian memilih opsi 2-3, karena tanpa bukti, itu lebih mudah.

Itu dari kepolisian, bagaimana dengan Victim Blaming di publik?

Pertama-tama kita semua tahu bahwa kekerasan seksual yang tidak dikehendaki itu salah.

Yang kedua, bahwasanya kita tidak tahu kebenaran yang terjadi itu seperti apa. Tentu tidak semua orang menjadi saksi sebuah kekerasan seksual. Semua hasil akhir kasus kekerasan seksual didasarkan oleh asumsi yang diambil setelah penyelidikan dan kesaksian.

Ketiga, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tidak pernah ada yang menyukai predator seksual, tidak ada (kecuali sesama predator, itu lain cerita). Yang bisa dilakukan oleh publik adalah mengurangi risiko terjadinya hal tersebut. Banyak hal yang berisiko membuat terjadinya kekerasan seksual, beberapa diantaranya ada di dalam komik strip tersebut.

Pake baju jangan mahal-mahal…

Ini tentu saja menyindir ucapan orang tentang baju yang dinilai terlalu “menggoda”.

Di Indonesia, tradisinya kita, entah pria atau wanita, selalu memakai baju tertutup. Sehingga ketika ada pakaian terbuka sedikit saja, orang akan menganggap itu hal yang tidak biasa. Namun sekarang sudah jaman modern, orang Indonesia kan suka kebarat-baratan, pakai celana jins lah, pakai baju ngepres lah, celana pendekan lah. Untuk orang modern, hal ini biasa, dan mereka mampu menahan diri. Tapi untuk orang yang pikirannya lama? Itu hal tidak wajar. Sehingga wajar hal tersebut mengambil banyak perhatian. Mengambil banyak perhatian = meningkatkan risiko terjadu kekerasan seksual.

Lalu, sebenarnya saya yang paling tidak paham adalah, kenapa? Kenapa kalian menggunakan baju yang menunjukkan banyak bagian dari tubuh kalian? Tidak, saya tidak terima jawaban “terserah dia dong mau pakai baju apa”. Kalau begitu terserah predator seksualnya mau perkosa kalian bagaimana. Selain untuk “mencari perhatian”, saya tidak menemukan alasan lain.

“Tapi Wraith, tidak semua yang berbaju tertutup aman dari kekerasan seksual!”

Jika itu tergantung dari lingkungan yang sedang dilewati, yang nanti saya bahas.

Lu orang suka nyumbang uang kok marah?

Ini mungkin maksudnya “mengumbar aurat”, saya kurang dapat maksudnya. Tapi jika iya, sudah dibahas di atas tentang keterbukaan pakaian.

Gimana kalo kamu nikahin aja rampoknya? Ayah udah malu.

Pertama-tama, itu ayah nggak tahu diri. Mbak penulis, jika itu ayah Anda, saya turut berduka karena itu bukan sosok ayah. Ayah semestinya melindungi anaknya bukannya malah menganggap anaknya yang mengotori harga dirinya.

Kedua, tidak ada kaitannya pernikahan dengan perampokan. Saya paham ini sketch, tapi terlalu memaksakan tema ke dalam bahasan rampok. Kurang nyambung dengan ceritanya, nt. Saya paham dengan maksud panel itu.

Ketiga, kenapa banyak yang menyarankan untuk menikahi sang pelaku? Alasan yang paling jelas adalah berhubungan seksual di luar nikah itu tabu. Kita sudah lama berpegang teguh pada prinsip “menikah dulu baru ******” sehingga hal yang muncul pertama kali ketika ada hubungan seksual di luar nikah, yaitu menikahkan kedua orang itu. “Kamu pengen sama dia kan? Nikahin aja dia,” kasarannya seperti itu. Tapi orang Indonesia kan sekarang kebarat-baratan, mana terima soal menjaga pergaulan? 🙂

Kalau Anda dirampok dua kali, itu berarti Anda mau.

Kira-kira, kenapa muncul asumsi ini?

Karena berarti risikonya masih ada. Dan tidak jauh berkurang dari kejadian pertama. Kalau risiko masih tinggi, berarti apa yang bisa disimpulkan? Tidak ada usaha menghindari kejadian tersebut terjadi lagi. Sehingga dalam bahasa kasarnya itu “mau”.

Semua korban kekerasan seksual tentu mengalami trauma batin dan terluka secara emosional. Namun bukan berarti itu menjadi alasan untuk tidak bertindak secara logis. Anda tidak akan membawa pulang apa-apa jika melaporkanke pihak berwajib dengan membawa sakit hati.

Berikut beberapa faktor yang meningkatkan risiko kejahatan seksual:

  • Bagaimana cara berpakaian dengan orang-orang sekitar, apakah dinilai wajar atau tidak
  • Bagaimana lingkungannya, apakah dikenal banyak predatornya atau tidak
  • Bagaimana persiapan sang bakal korban untuk kejahatan secara umum, misal bela diri, atau pepper spray
  • Bagaimana pemahaman bakal korban dengan lingkungan sekitar, tentang etika seorang wanita yang baik
  • Seberapa dikenal sang bakal korban di lingkungannya, semakin dikenal, orang di lingkungan itu cukup segan menggoda, dan
  • Bagaimana menyikapi sikap predator terhadap sang bakal korban.

Tidak ada yang menyukai pelaku kekerasan seksual, namun kita juga tidak tahu kapan predator akan menyerang kita. Sehingga alangkah baiknya melakukan pencegahan dengan mengurangi risiko-risiko.

What Will This World be?

Oh, look. Another road has been built.

We build it without any guilt.

Our satisfaction is filled, but nature is killed.

As a creature, we tend to think about our future.

Not the world’s, but ours.

But in the end our future is held by nature.

Temperature is going over the cover.

But if you think about it, it can’t be helped.

We reproduce ourselves over and over.

Our world someday will be filled by humans. A lot of humans. Until this world can’t hold us. It will be over.

Chaos will be everywhere. We fight for food, place, and comfort.

Today we sat here, only to work, eat, sleep, shit.

If you only want to do that, just kill yourself. You can do that in the heaven.

Facebook Family Irony

They appraised me in every story.
Story about dinner with family.

Really, it is just easy cuisine.

But they didn’t stop to praise me proudly.

I think, why did everybody envy?.

It was just simply a picture of me and family circling in dining table.

Smiling, laughing, doing funny thing and comfortable.

Like the happiest human being.

Below I put a nice quote to represent a happy family.

I found the pic got many likes and reaction, mostly happy.

“Such a happy family.”

“Content family.”

“I am envy.”

They said.

The picture got darker and darker and eventually creating fantasy and mirage. That stereotypically represents a “happy family”.

Lies and irony fulfilled that picture entirely.

The truth was far from reality.

Ethereally escaped from dark honesty.

It was intended to.

Put a big lie to you.

So you’d see me as an ideal crew.

So you’d remember me as I grew.

I kept flew.

Because I knew someday they found out it wasn’t true.

At all.

Black ball keep rolling.

Exposing the truth.

I don’t like being two face bastard.

It just sounds retarded.

But they keep pushing me really hard.

To show them what I have mastered.

Only to show them the good of me.

Only to make them agree.

Only to make them feel great about our family.

Only to show them how big the illusion is.

Facebook happy family is a malady.

Outside we are content and happy.

Inside we have irony and tragedy.

If you’re not happy, don’t show that you’re happy.