​100 Hari Pasca Penyerangan Novel Baswedan

“Selasa, 11 April pukul 05.10.
Novel berjalan pulang ke rumahnya. Tiba-tiba ada motor dari belakang yang dinaiki dua orang mendekat. Kemudian orang yang ada di motor itu menyiramkan sesuatu ke arah Novel. Sesuatu yang belakangan diketahui sebagai air keras itu mengenai wajah Novel. Dua orang yang ada di atas motor itu lalu kabur.”[1]

Begitulah kira-kira kronologis penyerangan terhadap Novel Baswedan, salah satu penyidik tetap KPK yang resmi diangkat pada tahun 2014. Beliaulah yang berhasil membawa pulang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Beliau juga berperan sebagai ketua penyidik dalam korupsi simulator SIM yang menyeret petinggi Polri, termasuk memeriksa Kakorlantas Irjen Djoko Susilo. [2]

100 hari berlalu sejak kejadian malang tersebut. Luka yang diterimanya parah hingga tidak mampu ditangani di Indonesia. Beliau mendapatkan perawatan di Singapura. Kondisi terakhir beliau, mata kanannya bisa membaca deret angka hingga layer keempat. Korneanya menunjukkan perbaikan walaupun bagian yang rusak masih ada. Sedangkan mata kirinya yang lebih parah lukanya, hanya menunjukkan perbaikan lambat. [3]

Siapakah orang keji yang melakukan ini?

Sejak awal Juli 2017, KPK dan Polri bekerja sama untuk mengusut kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Perkembangan terakhir dalam kasus ini, kata Tito Karnavian, telah membuat sketsa wajah terduga penyerang Novel.[3]. Tapi tentu saja, jika kita pikirkan, tentu tidak mungkin 3 orang yang tidak dikenal itu melakukannya dengan perintah sendiri. Untuk apa menyerang orang yang sensitif (dalam hal ini penyidik KPK), jika hal itu hanya mempersulit keadaan mereka? Orang yang bisa melakukannya hanya orang yang memiliki willpower yang besar dan kepentingan yang besar. Tentu saja dalam aksi ini orang tersebut tidak bisa turun tangan langsung karena orang dengan kepentingan besar, kedudukannya tinggi, tidak boleh mengotori tangannya secara langsung.

Dan ternyata Novel juga berfirasat sama. Dikutip dari TIME:
““I’ve actually received information that a police general — a high level police official — was involved. At first I said the information was false. But now that it’s been two months and the case hasn’t been resolved, I said [to the person who made the allegation] the feeling is that the information is correct,” Novel said.” [4]

Kurang lebih artinya sebagai berikut:
“Sebenarnya saya menerima informasi bahwa seorang Jenderal polisi — seorang polisi tingkat tinggi — terlibat. Pada awalnya saya mengatakan padanya [informan] bahwa informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan berlalu ,dan kasusnya belum selesai, saya mengatakan [pada informan yang membuat tuduhan] bahwa ada firasat bahwa informasi tersebut benar adanya.”

Simon Butt, seorang professor yang ahli dalam Hukum Indonesia di University of Sydney Law School dalam email kepada TIME mengatakan:
“Really it could be anyone who feels threatened by one of the investigations [Novel] leads.”[4]
“Sungguh, hal ini bisa dilakukan oleh siapapun yang merasa terancam oleh salah satu penyelidikan [Novel] itu.”
Sejak tahun 2007, ketika Novel menjadi salah seorang penyidik di KPK, KPK menguat perlahan-lahan, mengusut tuntas kasus-kasus besar. “Namun dengan melakukan hal itu, KPK menginjak jari kaki politisi kuat,” ujar Simon.[4]

Novel mengatakan pada TIME, bahwa kasus penggelapan (embezzlement, cmiiw) yang beliau sedang kerjakan (hingga saat interview) bisa berakhir dengan keterkaitan lusinan anggota parlemen terhadap kasus tersebut. Tanggal rilis interview oleh TIME ini adalah 13 Juni 2017.
Beberapa waktu kemudian, kita menyaksikan Setya Novanto, mantan Ketua DPR, menjadi tersangka kasus E-KTP. Dan hal ini bisa saja menyangkut pautkan beberapa nama dalam anggota DPR. Setya Novanto mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua DPR pada tahun 2015, terkait pencatutan nama Presiden Joko Widodo dalam rekaman kontrak PT. Freeport Indonesia. Namun tahun 2016 beliau dicantumkan sebagai Ketua DPR RI, lagi, dan merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai Golkar. (Baca selengkapnya di [5].)

Bisa saja ini hal yang dimaksud oleh Pak Novel, terkait dengan ‘anggota parlemen’.
Novel mengaku mengetahui Presiden Jokowi memprioritaskan kasus (yang sedang ditanganinya) ini, namun beliau tidak tahu apakah Presiden telah mengevaluasi kasus ini, setelah dua bulan berlalu dan tidak ada tersangka. [4]
“If there’s someone who works in government fighting corruption who is attacked numerous times and none of the cases are resolved, it’s a problem for the country,”

“After me, who will be next?”
“Jika ada orang, yang bekerja di pemerintahan melawan korupsi, diserang berkali-kali dan tidak ada kasus (penyerangan) yang terselesaikan, hal ini menjadi masalah untuk negara. Setelah saya, siapa selanjutnya?” [4]

100 hari telah berlalu. Mungkin besok akan ada yang diserang lagi.

Catatan kaki:

[1] https://m.detik.com/news/berita/d-3470948/kronologi-penyiraman-air-keras-terhadap-novel-baswedan

[2] https://m.merdeka.com/profil/indonesia/n/novel-baswedan/

[3] https://app.kompas.com/amp/nasional/read/2017/07/20/07262311/100-hari-penyiraman-air-keras-terhadap-novel-baswedan

[4] http://time.com/4815928/indonesia-corruption-novel-baswedan-graft-kpk/

[5] http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38130731

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s